Kumparan Logo

Kisah Awal Mula Istilah 'Jebreeet!' Valentino Simanjuntak hingga Dikenal Publik

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Valentino Simanjuntak. Foto: Instagram/@radotvalent
zoom-in-whitePerbesar
Valentino Simanjuntak. Foto: Instagram/@radotvalent

Gaya komentator Valentino Simanjuntak dalam membawakan pertandingan sepak bola kembali menuai kritikan netizen. Diksi yang digunakan Valentino dituding terlalu berlebihan.

Gaya komentar 'nyeleneh' Valentino sejatinya bukanlah sesuatu yang baru ia bawakan dalam pertandingan sepak bola. Gaya semacam itu bahkan sudah ia kenalkan ke publik sejak 2013 silam.

Bagaimana awal mulanya?

Saat itu, Valentino bertugas menjadi komentator Timnas Indonesia U-19 yang berlaga di Piala AFF U-19 2013 yang digelar di Sidoarjo, Jawa Timur. Ciri khas 'enerjik' Valentino ketika itu membuat laga-laga Timnas U-19 terasa begitu bergairah.

Ia berusaha membawa atmosfer stadion kepada para penonton di rumah. Lalu, muncullah diksi 'Jebreet!' yang akhirnya menjadi ciri khasnya.

Diksi 'Jebret' dikeluarkan Valentino ketika pemain melepaskan tendangan. Intonasinya semakin tinggi ketika sepakan tersebut berbuah gol.

Kala itu momentumnya amat tepat yakni ketika Valentino membawakan laga final antara Timnas U-19 versus Vietnam. Pertandingan berjalan begitu sengit, sampai harus berakhir di babak adu penalti

Lagi-lagi, dalam situasi yang menegangkan itu, gaya komentar Valentino berhasil membangkitkan euforia para penonton di rumah. Apalagi, turnamen itu sendiri berhasil dimenangi Timnas U-19. Jadilah, nama Valentino berkibar.

Tim Indonesia merayakan kemenangan setelah mengalahkan Vietnam 7-6 melalui adu penalti pada Piala AFF U19 di Stadion Gelora Delta pada 22 September 2013. Foto: Robertus Pudyanto/Getty Images

Setelah itu, Valentino semakin aktif menjadi komentator di sepak bola Indonesia. Ia juga kerap ditunjuk untuk membawakan laga-laga besar di kompetisi lokal.

Pemilihan gaya berkomentar 'nyeleneh' ternyata bukannya tanpa sebab. Valentino mengaku, sebagai komentator pertandingan, ia harus berupaya meningkatkan rating televisi.

"Nah, saya kan juga memang host yang harus mencari sensasi supaya penonton semakin banyak. Penonton yang dimaksud oleh TV itu 'kan bukan hanya penonton bola, tetapi penonton di luar bola juga yang sekarang larinya ke 'Ikatan Cinta'," kata Valentino kepada kumparan.

"Tayangan bola ini (Piala Menpora) masih 3 kali lipat di bawah 'Ikatan Cinta'. Kita ada datanya. Faktanya seperti itu," lanjutnya.

Seiring berjalannya waktu, Valentino terus menambah koleksi kosakata pilihannya. Contohnya, seperti 'tendangan jarak jauh', ia kerap menyebut dengan 'sepakan LDR (long distance relationship)' yang merujuk pada trend anak muda saat ini.

Ada juga istilah 'umpan cuek' yang berarti umpan atau passing tanpa melihat, atau kerap disebut 'no look pass'. Atau, 'tendangan kepo' yang artinya shooting yang mengarah ke pojok gawang.

Valentino Simanjuntak. Foto: Instagram/@radotvalent

Terkini, dalam gelaran Piala Menpora 2021, Valentino menyebut istilah baru yakni selebgram 'Anya Geraldine'. Hal itu memiliki makna 'penasaran', yang jika dikaitkan dengan momentum pertandingan, maka sang pemain dinilai 'penasaran' ingin mencetak gol atau melewati adangan lawan.

Belakangan, diksi-diksi nyelenehnya itu plus intonasi suara yang tinggi banyak diprotes netizen. Valentino dituding berisik, hiperbola dan tidak edukatif sebagai komentator.

Protes itu bahkan menjadi semakin besar seiring trendingnya #GerakanMuteMassal. Hal itu mengacu kepada gerakan mematikan volume TV ketika Valentino menjadi komentator pertandingan di Piala Menpora.

***

embed from external kumparan