Kumparan Logo

Kisah di Balik Banner ‘Created by The Poor, Stolen by The Rich’ yang Kini Viral

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pendukung Tunisia Club Africain membentangkan spanduk sebelum dimulainya pertandingan sepak bola persahabatan antara Club Africain dan Paris Saint Germain pada 4 Januari 2017, di Rades. Foto: Fethi Belaid/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pendukung Tunisia Club Africain membentangkan spanduk sebelum dimulainya pertandingan sepak bola persahabatan antara Club Africain dan Paris Saint Germain pada 4 Januari 2017, di Rades. Foto: Fethi Belaid/AFP

Beberapa hari ini, sebuah gambar banner bertuliskan ‘Created by The Poor, Stolen by The Rich’ yang dibentangkan suporter sepak bola viral beredar di media sosial. Sebenarnya, bagaimana sejarah dari banner sensasional tersebut?

Banner itu sebenarnya pertama kali ramai pada 2017. Namun, pada Juli 2022, gambar tersebut kembali viral di kalangan netizen Indonesia karena dipicu kabar perusahaan Baim Wong ingin mendaftarkan merek Citayam Fashion Week.

Jadilah, sejumlah orang teringat kembali dengan banner bertuliskan ‘Created by The Poor, Stolen by The Rich’. Lantas, apa sejatinya makna dan kisah di balik banner tersebut?

Club Africain menjamu Paris Saint-Germain (PSG) di Kota Rades, Tunisia, pada 4 Januari 2017. Foto: Facebook/@clubafricain.com.tn

Putar memori ke 4 Januari 2017, saat itu Paris Saint Germain (PSG) mengadakan laga uji coba melawan Club Africain asal Tunisia di Kota Rades, Tunisia. Menurut pemaparan Vice International, itulah momen pertama banner ‘Created by The Poor, Stolen by The Rich’ muncul.

Seorang jurnalis Tunisia, Firas Kefi, bersaksi bahwa banner itu memang ide orisinal suporter Club Africain. Pemicu mereka melakukannya adalah untuk menyindir PSG, klub kaya raya asal Prancis yang dimiliki oleh pengusaha asal Qatar; dan klub kesayangan mereka sendiri.

Pertandingan uji coba itu bahkan tidak akan mungkin terjadi tanpa koneksi bisnis. Ya, PSG dan Club Africain memiliki sponsor yang sama kala itu.

“Itu hanya terjadi berkat kesamaan klub. Ooredoo, operator telepon seluler pertama di Qatar, yang merupakan milik negara, adalah perusahaan yang telah mensponsori PSG dan Club Africain sejak 2012, ketika mereka menetapkan kontrak raksasa,” terang Kefi, dikutip dari Vice International.

Club Africain menjamu Paris Saint-Germain (PSG) di Kota Rades, Tunisia, pada 2017. Foto: Facebook/@clubafricain.com.tn

Fethi Belaid, seorang jurnalis foto Tunisia dan kolaborator AFP, adalah orang yang memotret banner tersebut. Ia lupa sebenarnya pada momen itu, tetapi ia merasa bahwa saat itu hubungan suporter dan petinggi Club Africain sedang tidak baik-baik saja.

“Sejujurnya, saya lupa bahwa saya telah mengambil gambar itu,” katanya.

“Bekerja di pertandingan sepak bola tampaknya jauh lebih mudah, tetapi Anda harus dapat melihat konteks di sekitarnya. Spanduk itu gambaran sempurna dari hubungan antara penggemar Club Africain dan manajemen klub pada saat itu,” tambahnya.

Di sisi lain, Kefi juga mengatakan bahwa pesan di spanduk itu ditujukan kepada Presiden Club Africain, Slim Riahi; dan Presiden PSG, Nasser al-Khelaïfi.

“Curva Nord [area stadion tempat spanduk dibentangkan] disediakan untuk beberapa klub penggemar yang berbeda; 'Winners', 'Leaders', 'Dodgers', dan 'Vandals'. Meskipun tidak berpolitik, Vandals telah menjadi sangat memusuhi kepentingan finansial dalam sepak bola modern. Dan jenis pertandingan ini menjadi panggung yang sempurna untuk berbagi ide mereka,” terang Kefi.

Club Africain menjamu Paris Saint-Germain (PSG) di Kota Rades, Tunisia, pada 2017. Foto: Facebook/@clubafricain.com.tn

Media Afrika Selatan, News24, menafsirkan bahwa banner itu menyindir kapitalisme sepak bola. Jadi, seolah-olah sepak bola hanyalah permainan orang berduit, sedangkan suporter hanya penikmat di pinggiran.

"Tidak ada yang lebih baik dari kata-kata itu, yang menggambarkan kapitalisme sepak bola modern. Pemilik klub adalah miliarder, pemain adalah harta benda yang nilainya diukur dalam istilah moneter dan malangnya suporter menjadi terasing, tulis News24 pada 22 September 2021.