Kumparan Logo

Kisah Eduardo da Silva, Calon Penerus Thierry Henry yang Hancur Usai Patah Kaki

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eks pemain Arsenal dan Timnas Kroasia, Eduardo da Silva. Foto: JOHN THYS / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Eks pemain Arsenal dan Timnas Kroasia, Eduardo da Silva. Foto: JOHN THYS / AFP

Para pendukung Arsenal masih ingat dengan Eduardo da Silva? Dia adalah sosok yang pernah dianggap sebagai calon penerus kejayaan Thierry Henry. Sayangnya, cedera patah kaki mengubur pendarnya.

Eduardo lahir di Rio de Janeiro, Brasil, pada 25 Februari 1983. Namun, ia beralih kewarganegaraan menjadi warga Kroasia pada tahun 2002, buah dari kecintaannya terhadap negara tempatnya bernaung sejak usia 16 tahun.

Eduardo lalu menjalani debut internasional senior untuk Timnas Kroasia pada November 2004, ketika usianya masih 21 tahun. Baktinya untuk negara pecahan Yugoslavia tersebut ternyata sangat besar. Ia dipercaya pelatih Slaven Bilić untuk Piala Eropa 2012 dan Niko Kovac untuk Piala Dunia 2014.

Seharusnya, Eduardo bisa tampil di lebih banyak turnamen penting. Sayang, fisiknya selalu dihantam cedera. Cedera berat pertama yang menghambatnya menjadi pemain kelas dunia dideritanya saat membela Arsenal melawan Birmingham City pada Februari 2008.

Eduardo mendapatkan tekel brutal Martin Taylor dua hari sebelum merayakan ulang tahun ke-24. Tulang kering pemilik nomor 9 Arsenal kala itu pun patah. Padahal, pemain kelahiran Rio de Janeiro ini belum enam bulan pindah ke Liga Inggris.

Eks pemain Arsenal dan Timnas Kroasia, Eduardo da Silva. Foto: Ian MacNicol / AFP

Cedera itu membuatnya menepi selama satu tahun. Sampai sekarang, beberapa pendukung Arsenal meyakini bahwa cedera Eduardo da Silva itu merupakan salah satu penyebab gagalnya mereka menjuarai Liga Inggris musim 2007/08.

Penampilan Eduardo sebelum cedera memang luar biasa. Ia mencetak 12 gol di semua ajang. Tahun debutnya di Arsenal itu didahului musim terbaik sepanjang kariernya di klub Kroasia, Dinamo Zagreb. Bayangkan, sang striker mencetak 47 gol dalam 47 pertandingan di semua ajang pada musim 2006/07.

Sejak cedera pada awal tahun 2008 itu, penampilan Eduardo tak pernah sama lagi. Ia tak memenangi satu pun gelar bersama Arsenal, dan sampai sekarang, penggemar The Gunners mana pun akan memimpikan dunia alternatif di mana pemain kelahiran 25 Februari ini memenangkan Ballon d’Or sebagai pemain terbaik dunia.

Dengan jumlah total 29 gol dalam sepuluh tahun yang dicetaknya untuk tim nasional Kroasia, Eduardo menyamai catatan Mario Mandzukic sebagai pemain paling produktif di timnas Kroasia, di bawah Davor Suker yang mengoleksi 45 gol.

Satu dekade dahsyatnya bersama tim Hrvatska memang tak lagi diimbangi dengan penampilan di liga top Eropa. Arsenal adalah satu-satunya pengalaman Eduardo bermain di liga top dunia.

Eks pemain Arsenal dan Timnas Kroasia, Eduardo da Silva. Foto: HRVOJE POLAN / AFP

Meski demikian, bukan berarti ia tak pernah merasakan gelar juara liga domestik. Selain hat-trick gelar juara Liga Kroasia yang pernah dimenanginya bersama Dinamo Zagreb, Eduardo da Silva berjaya setelah hijrah dari Arsenal.

Shakhtar Donetsk yang dibelanya setelah itu, dibawanya merajai Liga Ukraina. Tak tanggung-tanggung, selama empat tahun pemain berpostur 178 sentimeter ini bermain di sana, Shakhtar menggondol empat trofi juara Liga Primer Ukraina.

Yang mengharukan, pemain ini sempat kembali ke Stadion Emirates pada bulan Oktober 2010 ketika Shakhtar bertemu Arsenal di penyisihan grup Liga Champions.

Pada saat Eduardo masuk sebagai pemain pengganti, ia mendapat tepuk tangan meriah dari pendukung Arsenal. Ia lalu mencetak gol hiburan akhir bagi Shakhtar yang dibantai dengan skor 1-5 pada pertandingan tersebut.

Pada laga kedua yang berlangsung di Donetsk, Eduardo mencetak gol penentu kemenangan 2-1 atas Arsenal dan menolak untuk merayakan golnya demi menunjukkan rasa hormat kepada mantan klubnya itu.

Eks pemain Arsenal dan Timnas Kroasia, Eduardo da Silva. Foto: ANDREW YATES / AFP

Menurut catatan Transfermarkt, Eduardo da Silva sudah gantung sepatu sejak awal tahun 2019 lalu. Klub terakhir yang dibelanya adalah Legia Warsawa dari Polandia.

Eduardo sendiri tentu akan dikenang sebagai bagian dari skuat Arsenal dan timnas Kroasia, meski tak pernah mencapai potensi penuhnya sebagai talenta papan atas dunia.

Selama merumput bersama Arsenal, Eduardo berhasil menyumbangkan 21 gol dan 17 assist dari 68 laga. Adapun bersama Timnas Kroasia, ia menorehkan 62 caps.

***

embed from external kumparan