Kisah George Graham: Bawa Arsenal Juara di Eropa, Dipecat Karena Kasus Suap

Selain gelar juara Liga Inggris, Arsenal juga sudah sangat lama tidak berjaya di Eropa. Terakhir kali The Gunners melakukannya adalah saat diasuh oleh George Graham.
Mengutip The Athletic, Graham sekarang sudah pensiun. Tapi, saat aktif di sepak bola, pria Skotlandia kelahiran Bargeddie, 30 November 1944, itu punya reputasi yang membanggakan bersama Arsenal. Dia berada di London Utara dalam dua peran, yaitu sebagai pemain dan pelatih.
Nama Graham besar karena Arsenal. Kendati ia sempat berkostum Aston Villa dan Chelsea, enam tahun kariernya bersama The Gunners jelas tidak bisa dilupakan. Didatangkan oleh Bertie Mee sebagai pengganti Joe Baker pada 1966, Graham langsung menjadi tumpuan di lini depan.
Dua musim pertama berseragam Arsenal, ia menjadi pencetak gol terbanyak tim. Sedangkan gelar perdananya jatuh pada musim keempatnya, di mana ia jadi salah satu kunci ketika mereka mengalahkan Anderlecht di partai final.
Musim 1970/71, kontribusi Graham terbalas dengan keberhasilan menjuarai First Division dan FA Cup. Di First Division, ia nyaris tak pernah absen dalam 42 pertandingan yang dilakoni Arsenal. Sementara itu, di FA Cup, ia tampil di partai final, kendati tidak mencetak gol.
Enam tahun berseragam Arsenal, Graham memilih berpisah di sebuah persimpangan. Graham memilih untuk bergabung dengan Manchester United, sementara Arsenal memilih pemain Everton, Alan Ball, untuk menjadi penyerang tengah yang baru.
Nasib Graham semakin tak menentu sejak saat itu. Ketika ia bergabung dengan Manchester United, kesempatan tak banyak datang. Kariernya bersama Setan Merah bahkan berakhir dengan terdegradasinya United ke divisi kedua.
Bergabung United bukan satu-satunya kesalahan Graham. Keputusannya untuk bergabung dengan Portsmouth dan Crystal Palace, dan California Surf juga jadi kesalahan Graham dalam memilih jalan karier. Karier sepak bola Graham ditutup dengan cara yang sama sekali tidak indah.
Beragam kesalahan Graham tertolong dengan keputusannya pasca-pensiun sebagai pesepak bola. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Crystal Palace dan Queens Park Rangers, keberuntungan Graham dimulai ketika dilantik sebagai manajer Milwall pada musim 1982/83.
Di Milwall, Graham membangun fondasi timnya dengan apik. Ia membentuk Milwall sebagai kesebelasan yang memiliki pertahanan kokoh dan mental bermain hebat.
Setelah 4 tahun sukses menukangi Millwall, Graham menjadi pelatih Arsenal menggantikan Done Howe yang mengundurkan diri. Kebijakan berani lantas diambil Graham atas nama perbaikan. Nama-nama senior, seperti Tony Woodcock, Tommy Caton, dan Ian Allinson disingkirkan. Tak hanya itu, ia juga membuat kebijakan yang menyebabkan pemain dan pelatih berjarak.
Keputusan Graham kemudian dikritik oleh pemain-pemain senior. Bagi mereka, apa yang dilakukan olehnya bisa merusak suasana tim yang tengah buruk-buruknya. Meski demikian, ia tetap percaya diri.
Graham juga membentuk pertahanan yang sangat kuat dengan sejumlah pemain legendaris. Saat itu, kapten muda Arsenal, Tony Adams, bermain di belakang bersama Lee Dixon, Steve Bould, dan Nigel Winterburn. Kuartet itu bertahan lebih dari satu dekade dan menjadi bintang di awal-awal era Wenger.
Selain itu, Graham membangun lini tengah serta depan yang mengesankan, yang berisi David Rocastle, Michael Thomas, Paul Merson, dan Alan Smith. Lalu, Ian Wright datang dari Crystal Palace. Graham juga mengontrak David Seaman dan Anders Limpar.
Hasilnya, Arsenal adalah tim yang ditakuti dalam periode itu. Mereka menjuarai Divisi I (kini Premier League) 1988/89 dan 1990/91. Kemudian, Piala FA 1992/93. Ada lagi Piala Liga 1986/87, 1992/93.
Puncak penampilan generasi emas Graham hadir di Piala Winners 1993/94. Kompetisi yang sekarang sudah dilebur dengan Piala UEFA dan menjadi Liga Europa tersebut menjadi saksi kesuksesan terakhir Arsenal di Eropa.
Setelah menyingkirkan Odense (Denmark), Standard Liege (Belgia), Torino (Italia), dan Paris Saint-Germain (Prancis), The Gunners menang atas Parma dengan skor 1-0 (Italia) di final.
Itu menjadi gelar Eropa kedua Arsenal setelah Piala Fairs 1969/70, yang semuanya hadir berkat Graham (sebagai pemain dan pelatih). Itu juga merupakan trofi internasional terakhir The Gunners yang belum pernah berhasil diraih lagi hingga generasi Mikel Arteta.
Tiga bulan berselang, Premier League menyatakan bahwa Graham resmi menjadi tersangka dan dihukum larangan terlibat dalam sepak bola selama satu tahun, setelah menerima uang senilai 425 ribu pounds dari Hauge. Uang ini diberikan kepada Graham ketika ia menyetujui pembelian dua pemain yang diageni Hauge, John Jensen dan Pal Lydersen.
Sejak itu, nama Graham yang mulanya dielu-elukan mendadak kotor. Seketika itu, ia berubah menjadi sosok pesakitan di mata petinggi Arsenal. Seketika itu pula, ia dipecat oleh Peter Hill-Wood.
Satu musim lamanya Graham menganggur karena hukuman dari Premier League. Setelah itu, ia melatih Leeds United dan Tottenham Hotspur.
Meski begitu, reputasi Graham telanjur hancur. Ia pun memilih pensiun pada 2001 dan segera beralih profesi menjadi komentator di Sky Sports. Sempat dirumorkan akan melatih lagi, Graham benar-benar menikmati masa-masa pensiunnya jauh dari sepak bola.
****
