Kisah Hakan Sukur, Legenda Turki yang Jadi Sopir Taksi Online karena Lawan Rezim

Hakan Sukur adalah salah satu pemain sepak bola terbaik Turki. Ia berhasil meraih sejumlah prestasi gemilang yang salah satunya adalah memimpin negaranya itu menuju kesuksesan terbesar dalam sejarah--tempat ketiga di Piala Dunia.
Hakan Sukur yang lahir pada tanggal 1 September 1971 memulai karier profesional sebagai pemain sepak bola saat promosi dari akademik Sakaryaspor U-21 ke skuat senior di tahun 1987, usianya masih belum genap 17 tahun pada saat itu.
Setelah tiga tahun di klub kota kelahirannya, Hakan Sukur hijrah ke Bursaspor. Di klub tersebutlah, Hakan Sukur mulai dipanggil ke Timnas Turki level senior.
Sukur mendapatkan kesempatan tampil debut di Timnas Turki senior pada 1992 silam. Dia membuktikan kualitasnya sebagai wonderkid dengan mencetak enam gol dalam 6 laga penampilan perdananya bersama Timnas Turki senior.
Setelah mencuri perhatian bersama Timnas Turki, Sukur mulai menjadi incaran klub-klub top Eropa. Klub raksasa Liga Super Turki, Galatasaray menjadi yang beruntung mendapat tanda tangan Sukur, dan di klub tersebutlah sang striker menorehkan namanya sebagai legenda sepak bola Turki.
Pertama kali bersama Galatasaray, Sukur berhasil menyumbangkan dua trofi sekaligus yakni Piala Liga Turki dan Liga Super Turki di musim 1992/93 silam. Dia juga mencetak 19 gol dari 29 penampilannya di Liga Super Turki.
Sukur mencetak 16 gol di musim keduanya bersama Galatasaray dan berhasil membantu klub mempertahankan gelar juara Liga Super Turki. Di musim inilah, nama Hakan Sukur mulai dipuja oleh pecinta sepak bola Turki.
Pada musim ketiga, Galatasaray tak mampu merengkuh satu pun gelar juara. Namun torehan 25 gol di semua kompetisi milik Hakan Sukur, membuat dirinya dilirik sejumlah klub top Serie A Italia.
Dia berlabuh ke Torino jelang Serie A Italia musim 1995/96, klub yang terbilang punya tradisi panjang di sepak bola Negeri Pizza itu. Namun sayang sekali, Sukur tak dapat beradaptasi dan torehan satu gol dari hanya 5 penampilan, membuatnya harus pulang kampung.
Sukur kembali ke Galatasaray pada musim 1996/97 dan untuk empat tahun ke depannya. Sejak Sukur kembali lagi, Galatasaray juga mulai merasakan masa kejayaan dalam 4 musim berikutnya hingga akhir musim 2000/01.
Bagaimana tidak, mereka berhasil menjuarai Liga Super Turki empat musim beruntun dan yang paling mencengangkan adalah mereka mengakhiri musim 1999/00 sebagai jawara Liga Europa (Piala UEFA).
Usai sukses besar tersebut, Sukur kembali pindah ke Serie A dan bergabung dengan Inter Milan. Tapi dia terbilang gagal, dua musim dengan 24 penampilan untuk Inter Milan, dia hanya mencetak 5 gol saja.
Sempat pindah ke Parma, tapi Serie A tampaknya memang tak bersahabat untuk Sukur. Tiga gol dari 16 penampilan menjadi pertimbangan utama untuk Hakan Sukur hengkang dan mencoba Liga Inggris bersama Blackburn Rovers.
Tapi di sana pun dia cuma 2 gol dari 9 penampilan, tak ada alasan lain untuk Hakan Sukur untuk terus merantau. Dia pun kembali ke Galatasaray, dan benar saja, penampilannya kembali moncer di depan gawang lawan.
Hingga akhir musim 2007/08 silam, usai menjuarai Liga Super Turki bersama Galatasaray, Hakan Sukur memutuskan gantung sepatu begitu juga Timnas Turki, di mana dia membukukan 51 gol dari 112 penampilan.
Usai pensiun di usia 37 tahun, Hakan Sukur memang mencoba profesi yang sangat umum di kalangan para pensiunan pemain sepak bola, yaitu menjadi pundit di berbagai saluran televisi.
Tapi karier tersebut tak cocok untuk Sukur yang juga tidak punya lisensi kepelatihan. Dia pun memilih dunia politik hingga menjadi anggota parlemen pada tahun 2011 dari kader Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).
Partai yang diikuti oleh Hakan Sukur tersebut juga mengusung Recep Tayyip Erdogan yang kini menjabat sebagai Presiden Turki. Namun, Hakan Sukur menyampaikan protes atas rencana pemerintahan era Erdogan yang ingin menghapus dershane.
Sekadar informasi, Dershane jika di Indonesia bisa dibilang bimbingan belajar (bimbel) atau kelompok belajar. Pemerintah Turki menilai dershane sebagai bagian dari masalah pendidikan di Turki dan Sukur menjadi salah satu tokoh yang paling frontal membantah wacana Erdogan.
Menurut sejumlah sumber, pemerintahan Turki era Erdogan berniat melarang dershane karena dugaan punya kaitan dengan Hizmet, yaitu pusat-pusat pendidikan yang dibuat oleh Fethullah Gulen, seorang ulama senior di Turki.
Menolak keras dan memang punya hubungan dekat dengan Fethullah Gulen, Hakan Sukur pun merasakan pil pahit dalam hidupnya, segalanya berubah drastis. Tahun 2016, pemerintah mengeluarkan surat penangkapan terhadap Sukur dengan tuduhan menghina Erdogan di sosial media.
Tahun 2017, Sukur meninggalkan Turki dan segala hidupnya untuk dimulai kembali di San Fransisco, California, Amerika Serikat. Dia membuka sebuah kafe di kota tersebut, tapi tak sukses karena menurut pengakuannya, orang-orang aneh terus berdatangan.
"Awalnya saya memang membuka sebuah kafe di California, tapi orang-orang aneh terus datang ke sana. Aku tidak punya apa-apa lagi, Erdogan sudah mengambil segalanya, dari kebebasan ekspresi sampai hak saya untuk bekerja. Mereka bilang aku pengkhianat atau teroris," tutur Sukur kepada surat harian asal Jerman, Welt am Sonntag.
Hakan Sukur juga menceritakan bagaimana toko baju istrinya di Turki dilempari batu, anak-anaknya diganggu, sang ayah dijebloskan ke penjara hingga semua aset atas namanya disita pemerintah.
"Aku memang musuh rezim, tapi aku bukan musuh negara dan bangsa Turki. Aku cinta Turki. Akhirnya kami pindah ke Amerika, memulai kehidupan baru dan sekarang jadi sopir taksi online. Lumayanlah untuk menyambung hidup sehari-hari," tutup Hakan Sukur.
Sambil bekerja sebagai sopir taksi online, Hakan Sukur ternyata juga mendokumentasikan pekerjaannya itu ke dalam video yang diunggah ke akun YouTube miliknya. Meski diasingkan oleh pemerintah Turki, kehidupan eks Inter Milan itu kini lebih diwarnai dengan berkumpul bersama keluarga.
Menurut catatan Transfermarkt, Hakan Sukur mampu mencatatkan 326 gol dan 123 assist dalam 711 pertandingan di level klub ketika masih aktif sebagai pesepak bola.
Dengan catatan seperti itu seharusnya dia menikmati hari pensiun dengan tenang setelah memanen jutaan uang yang didapat. Namun, nasibnya justru jadi kurang layak.
****
