Kumparan Logo

Kisah Juninho Paulista, Playmaker Top Brasil yang Redup Karena Cedera Parah

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eks pemain timnas Brasil,  Juninho Paulista. Foto: DANIEL GARCIA / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Eks pemain timnas Brasil, Juninho Paulista. Foto: DANIEL GARCIA / AFP

Juninho Paulista menjadi salah satu pesepak bola hebat dari Brasil yang tidak sukses di Eropa. Kegemilangannya di lapangan hijau hanya berlangsung sebentar usai menerima cedera parah akibat tekel brutal Michel Salgado.

Memiliki postur mungil untuk ukuran orang-orang Eropa, yaitu 165 cm, Juninho pernah menjadi salah satu fenomena di sepak bola Negeri Samba. Bersinar bersama Middlesbrough dan Atletico Madrid dalam rentang waktu 1995-2000 serta 2002-2004, ia sempat disebut sebagai playmaker terbaik Brasil pada era tersebut.

Kesialan nasib Juninho berawal pada 1995 saat ditransfer The Boro dari Sao Paulo dengan nilai 4,5 juta pounds. Gaya mainnya yang lincah dengan mengandalkan kecepatan plus teknik tinggi membuat pemain-pemain Premier League terkejut.

Setelah bermain 1,5 tahun di Riverside Stadium, Juninho menjadi bintang di Inggris. Talentanya menarik minat Atletico Madrid. Pada awal musim 1997/98, Los Colchoneros berminat untuk mendatangkan sang pemain dengan mahar 13 juta pounds yang langsung disetujui para petinggi Middlesbrough.

Dengan pindah ke Liga Spanyol, Juninho berharap mendapatkan panggilan memperkuat Brasil pada Piala Dunia 1998. Apalagi, skenario awal yang disusun sang pemain berjalan mulus. Dia menjadi pelayan terbaik untuk Christian Vieri, yang juga baru bergabung dari Juventus.

Eks pemain timnas Brasil, Juninho Paulista. Foto: EMMANUEL DUNAND / AFP

Sayang, bencana datang pada 1 Februari 1998. Pada pertandingan La Liga melawan Celta Vigo, Juninho mendapatkan terjangan Salgado. Permainan kasar pemain yang di kemudian hari sukses bersama Real Madrid tersebut membuat tulang fibula Juninho patah.

Juninho pun harus absen 6 bulan sehingga gagal ke Piala Dunia 1998. Ia pun mengaku pernah memiliki peluang untuk membela Liverpool.

"Jika bisa kembali ke masa lalu, saya tidak akan pernah meninggalkan Inggris seperti yang saya lakukan saat itu," kenang Juninho dalam sebuah kesempatan setelah pensiun, dikutip dari Liverpool Echo.

"Sebenarnya, saya punya kesempatan untuk pergi ke Liverpool pada 1997. Pelatih mereka (Roy Evans) berbicara kepada ayah saya (yang merangkap agen). Tapi, terjadi salah paham karena saya sudah telanjur memberikan janji kepada Atletico untuk bermain di Spanyol," tambah pria kelahiran Sao Paulo, 22 Februari 1973, itu.

Eks pemain timnas Brasil, Juninho Paulista. Foto: VANDERLEI ALMEIDA / AFP

Sembuh dari cedera, Juninho memulai musim baru 1998/99 dengan optimisme tinggi. Setelah laga-laga pramusim yang memuaskan, Juninho menjadi penghuni starting line-up di sejumlah laga awal bersama Atletico.

Namun, trauma cedera patah kaki masih membayangi langkah Juninho. Meski tetap menjadi pemain berpengaruh untuk Los Colchoneros, dia memutuskan untuk kembali ke Inggris pada 1999/00. Tujuan Juninho adalah Riverside Stadium. Kala itu, The Boro sedang berjibaku di Championship Division.

Bermain di Middlesbrough ibarat kembali ke rumah yang dirindukannya. Dengan status pinjaman, Juninho tampil sangat bagus di kasta kedua kompetisi Inggris pada musim tersebut. Dengan langkah mantap dan pasti, Juninho berhasil mengembalikan klub yang dicintainya itu ke Premier League.

Setelah misi dengan Middlesbrough selesai, Juninho kembali ke Atletico. Sayang, Los Colchoneros harus terdegradasi ke Segunda Division. Enggan main di kasta kedua lagi, Juninho memilih pulang kampung halaman untuk membela Vasco da Gama dan Flamengo.

"Saya tidak bisa mengeluh tentang karier saya di masa lalu. Tapi, jika saya bisa mengubah beberapa hal, saya akan senang bermain lebih lama di Inggris. Di tempat itu saya merasakan benar-benar menjadi pesepak bola. Saya mendapatkan perlakuan yang layak dari semua orang," ungkap Pemain Terbaik Liga Inggris musim 1996/97 itu.

X post embed

Middlesbrough memang pantas untuk selalu berada di dalam hati Juninho. Meski setelah pensiun sempat bekerja sebagai salah satu staf pelatih di Akademi Flamengo, Juninho menganggap The Boro adalah rumah yang membuat dirinya betah. Oleh suporter The Boro, dia dijuluki The Little Fella.

Sebagai balasan, Juninho selalu bermain total untuk Middlesbrough. Bahkan, dengan gaji minim. Selain mengembalikan Middlesbrough ke Premier League, dia juga membantu memenangi Piala Liga Inggris musim 2003/04. Itu menjadi satu-satunya trofi Juninho di Inggris.

Setelah merumput untuk Middlesbrough di periode ketiga, Juninho bermain untuk Glasgow Celtic di Skotlandia. Hanya bertahan 14 laga, dia kembali ke Brasil membela Palmeiras dan Flamengo. Sempat ke Australia membela Sydney FC, Juninho pensiun pada 2010 sebagai pemain Ituano di usia 37 tahun.

Saat ini, Juninho berprofesi sebagai presiden klub Ituano. Menurut catatan Transfermarkt, ia mencatatkan 60 gol dan 13 assist dari 256 laga di level klub. Sementara di level timnas, Juninho berhasil mengemas 70 caps dengan torehan 15 gol.

****

embed from external kumparan