Kumparan Logo

Kisah Oscar Tabarez: Punya Penyakit Langka di Umur 74, Tetap Kuat Latih Uruguay

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatih Timnas Uruguay, Oscar Tabarez. Foto: Rodrigo BUENDIA / various sources / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Timnas Uruguay, Oscar Tabarez. Foto: Rodrigo BUENDIA / various sources / AFP

Oscar Tabarez adalah pelatih aktif timnas terlama saat ini. Meski mengidap penyakit langka, Guillain-Barre Syndrome (GBS), El Maestro tetap bersemangat melatih Uruguay.

Pemilik nama lengkap Oscar Washington Tabarez Silva itu pertama kali melatih Uruguay pada Copa America 1989. Dia dipilih karena pada 1987 membawa Panarol menjuarai Copa Libertadores setelah mengalahkan America de Cali (Kolombia) di final.

Itu menjadi gelar kelima Penarol di kompetisi sepakbola antarklub paling bergengsi di Amerika Latin. Saat Copa America digelar di Brasil, Uruguay finish runner-up setelah menyingkirkan Argentina yang dipimpin Diego Maradona dalam prosesnya. Di final, mereka dikalahkan tuan rumah di stadion legendaris Maracana.

Keberhasilan itu berlanjut di Kualifikasi Piala Dunia 1990. Setelah 4 pertandingan La Celeste lolos ke Italia. Uruguay mencapai babak 16 besar turnamen tersebut setelah bermain imbang dengan Spanyol, kalah dari Belgia, dan menang melawan Korea Selatan di fase grup. Pada babak 16 besar, mereka tersingkir oleh tuan rumah.

Sekembalinya dari Italia, Tabarez memutuskan berhenti melatih Uruguay. Dia ingin mencoba tantangan menukangi klub. El Maestro bergabung dengan Boca Juniors, Cagliari, AC Milan, Real Oviedo, dan Velez Sarsfield. Dia dua kali melatih Cagliari dan Boca sebelum memutuskan istirahat dari sepak bola selama 4 tahun.

Pelatih Uruguay, Oscar Tabarez. Foto: Reuters/Andrew Couldridge

Pada 7 Maret 2006, Tabarez kembali ke lapangan. Dia mengambil alih timnas untuk kedua kalinya. Pada periode tanpa dirinya, Uruguay hanya mampu lolos ke Piala Dunia 2002.

Mereka gagal lolos ke Piala Dunia 1994 (kalah dari Brasil pada pertandingan terakhir grup), Piala Dunia 1998 (finish di posisi 7 kualifikasi), dan Piala Dunia 2006 (kalah dari Australia di play-off).

Segera setelah melatih untuk periode kedua, Tabarez mempresentasikan filosofi sepak bolanya yang baru, yang diberi judul "Proceso de Institucionalizacion de Selecciones y la Formacion de sus Futbolistas" (Proses Pelembagaan Tim Nasional dan Pertumbuhan Pemain).

Itu adalah sistem menyatukan timnas U-15, U-17, U-19, U-20, hingga senior dalam satu kendali agar proses pembinaan tidak terputus. Dia menerapkan skema dan cara bermain yang sama di semua kelompok umur dengan formasi dasar 4-3-3.

Hasil perombakan ala Tabarez langsung terlihat di lapangan. Uruguay menjadi salah satu negara di Amerika Latin yang mampu memproduksi pemain-pemain hebat di berbagai klub besar Eropa.

Pelatih Timnas Uruguay, Oscar Tabarez. Foto: DOUGLAS MAGNO / AFP

Luis Suarez, Edinson Cavani, Fernando Muslera, Diego Godin, Martin Caceres, Sebastian Coates, Cristhian Stuani jadi andalan bertahun-tahun. Regenerasi juga berjalan mulus dengan sejumlah pemain masa kini seperti Federico Valverde.

Prestasi Uruguay juga meningkat. La Celeste tampil di semua Piala Dunia sejak 2010 hingga 2018. Bahkan, pada 2010 di Afrika Selatan, Uruguay tampil gagah berani untuk mencapai semifinal dan finish di posisi 4. Pada 2014, mereka mencapai babak 16 besar dan pada 2018 terhenti di perempat final.

Untuk Copa America, Tabarez membawa La Celeste juara pada 2011. Ketika itu, mereka mengalahkan Paraguay di final setelah menyingkirkan tuan rumah Argentina dari perempat final.

Sayang, di sela-sela kesibukan Tabarez, penyakit langka yang dikenal sebagai GBS menjangkiti jelang Piala Dunia 2018. Akibatnya, Tabarez harus mendampingi para pemain dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Terkadang, dia juga duduk kursi roda saat memimpin latihan.

Guillain-Barre Syndrome merupakan penyakit langka dan degeneratif yang menyerang sistem saraf tubuh serta menyebabkan kelemahan otot pada anggota tubuh dan dada. Akhirnya bisa menyebabkan kelumpuhan.

Oscar Tabarez di laga vs Rusia. Foto: REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Dalam GBS, ada kelemahan otot yang terjadi secara cepat yang disebabkan oleh sistem kekebalan yang merusak sistem saraf perifer. Biasanya, kedua sisi tubuh terlibat, dan gejala awalnya adalah perubahan sensasi atau nyeri yang sering terjadi di punggung bersama dengan kelemahan otot, mulai dari kaki dan tangan, sering menyebar ke lengan dan tubuh bagian atas.

Secara global, kematian terjadi pada sekitar 7,5 persen dari mereka yang terkena. GBS jarang terjadi, pada satu atau dua kasus per 100.000 orang setiap tahun. Baik jenis kelamin dan semua bagian dunia memiliki tingkat penyakit yang sama sehingga tidak terlalu perlu ditakuti secara berlebihan.

Sindrom ini dinamai ahli saraf Prancis Georges Guillain dan Jean Alexandre Barre. Pada 1916, bersama Andre Strohl, merekalah yang menemukan penyakit tersebut saat memeriksa pasien yang memiliki gejala kelumpuhan.

"Saya tidak hidup dengan rasa sakit apa pun. Neuropati ini terkadang membuat saya bermasalah, terutama saat berjalan. Tapi, karena ini penyakit kronis, terkadang saya sedikit membaik," kata Tabarez saat Piala Dunia 2018, dikutip dari Daily Mail.

X post embed

Apakah GBS akan menghentikan langkah Tabarez di Uruguay? Sepertinya tidak. Bahkan, saat ini Tabarez sedang berusaha tampil di Piala Dunia kelimanya bersama La Celeste.

Pada Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona CONMEBOL, Uruguay ada di posisi 4 dengan koleksi 8 poin dari 6 pertandingan. Apabila berhasil mempertahankan posisi tersebut hingga menyelesaikan semua laga, mereka dipastikan akan berangkat ke Qatar.

Sebelumnya, Tabarez baru saja memimpin Luis Suarez dan kolega berlaga di ajang Copa America 2021. Laju mereka dihentikan oleh Kolombia pada babak perempat final. Adapun, Argentina yang keluar jadi juaranya.

Menurut catatan Transfermarkt, Tabarez telah melakoni 332 pertandingan di sepanjang kariernya sebagai pelatih. Ia berhasil menang di 137 laga, seri 82 kali, dan kalah dalam 113 kesempatan.

****

embed from external kumparan