Kumparan Logo

Kisah Pengungsi Sudan Selatan yang Sempat Dibina MU, Kini Main di Klub Australia

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Friday Zico, pemain Timnas Sudan Selatan. Foto: Instagram/@fridinho10
zoom-in-whitePerbesar
Friday Zico, pemain Timnas Sudan Selatan. Foto: Instagram/@fridinho10

Friday Zico adalah pengungsi Sudan Selatan yang melarikan diri karena perang. Saat tumbuh dewasa, dirinya pernah mendapatkan pembinaan dari Manchester United (MU). Bagaimana kisahnya?

Bernama lengkap Friday Oyele Zico Paul, pemain yang berposisi sebagai bek kiri ini lahir pada November 1994 di sudut tenggara Sudan Selatan, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Magwi.

Planet Football melansir, Zico adalah bagian dari suku Acholi, salah satu dari sekitar 162 suku yang membentuk Sudan Selatan. Acholi berasal dari Khatulistiwa Timur, tetapi sekarang telah menyebar ke seluruh Uganda Utara. Beberapa dari mereka bahkan telah sampai di Kenya.

“Suku kami telah mengalami perang saudara. Pemberontak menculik anak-anak dan mengubah mereka menjadi tentara,” kata Zico.

“Saya adalah salah satu dari mereka yang ditangkap oleh Joseph Kony, pemimpin Lord Resistance Army, dia membunuh jutaan orang dan jumlahnya terus meningkat," imbuhnya.

Bagi Zico, mereka yang berasal dari suku Acholi adalah orang-orang baik dan pekerja keras. Mereka hidup dan bekerja dari sektor pertanian, menanam dan menjual hasil panennya untuk bertahan hidup. Namun, ia terpaksa meninggalkan tempat kelahirannya karena perang tersebut.

Zico kemudian melarikan diri dari Magwi pada 2004 menuju Uganda yang terletak beberapa mil saja di selatan kota kecil tersebut.

“Setelah kami tiba di Uganda, kami adalah pengungsi dan pemerintah Australia menerima kami. Saat itu, John Howard adalah perdana menterinya,” kata Zico.

Friday Zico, pemain Timnas Sudan Selatan. Foto: Instagram/@fridinho10

“Mereka membawa kami ke Perth, Australia. Kami tidak terlalu banyak bertanya tentang ke mana kami akan pergi selama kami tahu itu aman untuk ditinggali,” imbuhnya.

Ia pun menghabiskan belasan tahun lebih tinggal di Australia, menetap di Perth, dan bermain untuk beberapa klub sepak bola lokal di sana.

Sementara, Sudan Selatan baru diakui sebagai negara sejak 2011. Kemerdekaan itu diperoleh setelah enam tahun lebih melewati perang saudara terpanjang dalam sejarah yang akhirnya berakhir pada 2005.

Sayang, perang saudara lain pecah di Sudan Selatan pada akhir 2013 dan tidak ada ketenangan yang terlihat bagi ribuan orang yang terdampak, termasuk di Magwi.

Di sisi lain, negara itu mulai membangun skuad sepak bola untuk bersaing dengan negara-negara Afrika lainnya. Zico pun dipanggil pada Juli 2015 untuk melakukan debutnya bagi negara yang dia tinggalkan 10 tahun sebelumnya.

“Bukan keputusan yang mudah untuk kembali ke Sudan Selatan setelah mengetahui apa yang terjadi di sana,” katanya.

“Negara ini tidak stabil dan berisiko. Saya berbicara dengan begitu banyak orang untuk kembali ke sini karena kami sebenarnya diminta kembali pada 2012, sebelum perang saudara pecah. Ribuan orang dibiarkan mati dan ketika itu terjadi, kami terlalu takut untuk kembali,” imbuhnya.

Friday Zico, pemain Timnas Sudan Selatan. Foto: Instagram/@fridinho10

Terlepas dari kengerian yang menantinya setiap kali kembali ke tanah kelahirannya, Zico menyadari pentingnya di mana dia dilahirkan dan peran besar sepak bola dalam kehidupan orang-orang, terlebih di antara semua kekacauan yang menimpa negaranya.

“Saya telah kehilangan banyak orang penting dalam hidup saya karena perang dan saya masih kembali ke negara ini untuk mewakili tempat kelahiran saya,” katanya dengan bangga.

“Tidak banyak pemain di tim nasional karena banyak dari mereka yang terkena dampak perang. Sepak bola adalah satu-satunya jalan keluar bagi kami," tambahnya.

Zico pun berbicara tentang bakatnya yang tak luput dari perhatian sepak bola Eropa. Ia bahkan hampir pindah ke raksasa Eropa, Manchester United (MU) sebelum akhirnya melanjutkan karier di Australia.

“Saya memiliki kesempatan untuk mencoba keberuntungan di Manchester United. Saya pikir David Moyes adalah pelatihnya, itu sekitar akhir 2013 dan saya bermain dalam pertandingan untuk Stockport di Manchester melawan Fleetwood Town," terangnya tentang MU.

instagram embed

“Saya dibina selama tiga bulan atau lebih oleh staf mereka. Sungguh menakjubkan bahwa saya dihargai sangat tinggi, itu satu hal positif yang akan selalu saya bawa. Sayangnya, saya tidak memperoleh izin kerja. Sementara, saya harus pergi dan menghabiskan waktu bersama tim U-21 pada 2013,” imbuhnya.

Dengan berat hati, Zico pun melanjutkan kariernya di Australia dan bermain untuk beberapa klub lokal, seperti Football West (FW), Perth SC, Cockburn City SC, dan kini bermain untuk Armadale SC.

Klub yang disebut terakhir merupakan klub semi profesional yang berlaga di National Premier Leagues Western Australia. Sementara itu, Zico tercatat sudah membuat 3 penampilan bersama Timnas Sudan Selatan.