Kisah Quinn: Pesepak Bola Kanada yang Jadi Transgender Pertama di Olimpiade 2020
ยทwaktu baca 2 menit

Pemain Timnas putri Kanada, Quinn, berhasil menorehkan sejarah. Ia menjadi atlet transgender pertama yang berkompetisi di Olimpiade 2020.
Menurut laporan Goal, Quinn merupakan bagian penting dari tim wanita Kanada dalam beberapa tahun terakhir. Ia bermain sebagai bek tengah atau gelandang bertahan, dan telah mencatatkan 68 caps untuk negaranya.
Quinn adalah bagian dari tim Kanada yang sukses meraih medali perunggu di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, serta juga tim yang berlaga di Piala Dunia Wanita 2019.
Kini, Quinn tersebut telah membantu Kanada melaju ke semifinal sepak bola wanita Olimpiade 2020, di mana mereka akan menghadapi Amerika Serikat, Senin (2/8) mendatang.
Melalui unggahan Instagram pasca pertandingan melawan Jepang di laga perdana, Quinn menyampaikan ungkapan hatinya. Ia mengaku bangga melihat dirinya sendiri.
"Saya merasa bangga melihat [nama] 'Quinn' di susunan pemain dan akreditasi saya. Saya merasa sedih mengetahui ada atlet [transgender] Olimpiade sebelum saya yang tidak bisa hidup dalam kebenaran karena dunia."
Dalam unggahan yang sama, Quinn menyebutkan bahwa wanita transgender memang kerap mengalami diskriminasi dalam bidang olahraga. Namun, ia merasa optimis akan adanya perubahan dalam hal aturan, struktur, hingga pola pikir terkait transgender.
"Saya merasa optimistis akan perubahan. Perubahan legislatif. Perubahan aturan, struktur, dan pola pikir. Sebagian besar, saya merasa sadar akan kenyataan. Wanita transgender dilarang berolahraga. Wanita trans menghadapi diskriminasi dan bias ketika mencoba mengejar impian Olimpiade mereka. Pertarungan belum berakhir, dan saya akan merayakannya saat kita semua di sini."
Quinn bukanlah satu-satunya atlet transgender yang berlaga di Olimpiade 2020. Setelahnya, ada atlet angkat besi asal Selandia Baru, Laurel Hubbard, dan pemain skateboard asal Amerika Serikat, Alana Smith.
Wanita transgender memang telah diperbolehkan turut serta dalam festival olahraga empat tahunan ini sejak Olimpiade Musim Panas 2004 di Athena.
Lebih lanjut, Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga telah melakukan perubahan aturan pada 2015 sehingga memungkinkan atlet yang beralih dari pria ke wanita ikut berkompetisi tanpa perlu melakukan operasi pada alat reproduksi mereka.
****
