Kisah Ravel Morrison: Digadang Jadi Pemain Rp 1,9 T MU, tapi Sekarang Nganggur

Ravel Morrison. Para penggemar Manchester United (MU) tentu sudah tidak asing bagi sosok tersebut. Dulu, ia merupakan talenta muda Setan Merah yang digadang-gadang bisa bernilai 100 juta pounds atau sekitar Rp 1,9 triliun, namun sekarang kariernya justru tenggelam.
Morrison adalah Mancunian sejati. Dirinya lahir dan tumbuh besar di Wythenshawe, daerah pinggiran kota Manchester yang terletak di sebelah selatan.
Morrison diketahui masuk akademi United pada usia 16 tahun melalui program beasiswa dan meneken kontrak profesional setahun setelahnya ketika dia berusia 17 tahun.
Sejak dalam skuad tim muda, nama Morrison sudah mencuri perhatian melebihi Paul Pogba dan Jesse Lingard yang sempat satu skuad dengannya.
Hingga pada Oktober 2010, Morrison melakoni debutnya di skuad utama Manchester United. Dalam laga melawan Wolverhampton Wanderers, Morrison menggantikan Park Ji-Sung pada menit ke-89 dalam laga yang membawa kemenangan 3-2.
Setelah debutnya di skuad utama, Ravel Morrison lalu membawa tim muda Manchester United meraih Piala FA Youth Cup 2011.
Namun, segala ekspektasi Morrison untuk menjadi pemain reguler di utama bersama kepemimpinan Sir Alex Ferguson harus bunyar justru karena dirinya lebih banyak bermasalah di luar lapangan.
Hal tersebut dianggap jadi sebab, ia tak pernah mencapai potensi terbaiknya di MU. Morrison kemudian dilego ke West Ham United pada 2012 silam.
Kegagalan Morrison mengembangkan bakatnya di MU pun begitu disesalkan oleh Ferdinand. Legenda The Red Devils tersebut yakin jika karier Morrison mulus di MU, pria yang kini berusia 27 tahun ini bisa menjadi pemain mahal.
Meski begitu, Ferdinand tak sepenuhnya menyalahkan Morrison atas hal ini. Ia merasa MU juga punya andil karena tak bisa memahami Morrison yang temperamental. Pria keturunan Jamaika ini emosinya meluap-luap karena dibesarkan di wilayah pinggiran Manchester yang keras.
Menurut Ferdinand, MU harusnya memilik staf kepelatihan seperti Gavin Rose. Rose merupakan pelatih dari tim amatir Inggris, Dulwich Hamlet FC. Klub ini dikenal dengan gerakannya mendukung kaum-kaum terpinggirkan.
"Saya dulu mengatakan kepadanya untuk datang ke rumah saya. Namun, Sir Alex ingin saya menjauhinya karena merasa klub bisa mengatasi itu," ujar Ferdinand dalam Podcast The Beautiful Games dikutip dari Mirror pada tahun 2020.
"Jika Gavin berada di Manchester United saat itu, maka saya tidak berpikir Ravel akan diabaikan. Saya rasa Ravel akan menjadi pemain seharga 100 juta pounds."
"Sayangnya, tidak ada seseorang seperti itu di United dulu dan bahkan hingga sekarang. Orang yang berasal dari lingkungan yang terpinggirkan. Dengan latar belakang yang hampir sama ini, mereka tentu bisa saling bertukar pikiran," tambahnya.
Pengakuan atas potensi Ravel Morrison bahkan langsung keluar dari mulut mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson. Fergie menilai bahwa Morrison merupakan pemain paling bertalenta yang muncul dari akademi Manchester United.
Pujian untuk Morrison juga diucapkan Sir Alex Ferguson kepada pandit Jamie Redknapp.
"Saya ingat saat berbincang dengan Sir Alex tentangnya (Ravel Morrison) dan dia mengatakan bahwa dia adalah pemain paling bertalenta yang pernah Ia temui," ucap Jamie Redknapp dalam sebuah podcast, dikutip dari Metro.
Setelah membela West Ham, karier Morrison mengalir ke banyak klub antara lain ke Lazio (Liga Italia), Queens Park Rangers, Atlas (Liga Meksiko), Oestersund (Liga Swedia), Sheffield United, dan Middlesbrough, Ado Den Haag (Liga Belanda).
Untuk klub yang disebutkan terakhir di atas adalah tim terakhir yang dibela oleh Morrison. Menurut catatan Transfermarkt, ia kini berstatus sebagai free agent atau sedang nganggur sejak awal tahun ini.
Kisah Morrison ini adalah kisah yang selalu berulang. Moncer dan bersinar ketika muda, digadang-gadang meraih kejayaan, namun akhirnya harus tiarap oleh kenyataan.
Kenyataan yang membuat mereka yang sejenis Morrison ini menjadi contoh betapa kelakuan dan perilaku di luar lapangan bisa sangat berpengaruh pada naik atau turunnya karier pesepak bola di masa depan.
***
