Kumparan Logo

Kisah Roger Milla: Pahlawan Kamerun di Piala Dunia, Moncer di Liga Indonesia

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Roger Milla. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Roger Milla. Foto: AFP

Roger Milla bukan hanya sekadar menjadi pahlawan bagi Kamerun di Piala Dunia, tetapi juga striker ganas saat merumput di Liga Indonesia. Ia pun disebut sebagai pemain terbaik sepanjang masa di benua Afrika.

Roger Milla memulai kariernya di tahun 1970 bersama tim asal kampung halamannya, Leopard Douala. Ia tergolong lambat ketika memulai karier di usia 18 tahun. Di sana, pemain yang berposisi sebagai striker itu berhasil memenangi gelar juara Liga.

Roger Milla kemudian pindah ke Tonnere Yaound 5 tahun berselang. Di klub inilah ia menjadi pemain terbaik Afrika pada tahun 1976 di usia 24 tahun.

Memiliki gelar pemain terbaik Afrika membuat Roger Milla mudah saja bergabung bersama klub Prancis, Valenciennes, pada tahun 1979. Ia hanya bermain semusim di sana.

Karier Milla mulai melesat ketika membela Monaco selama setahun. Bersamanya, ia mendapatkan piala pertama dalam kariernya setelah berhasil membawa AS Monaco menjadi kampiun Piala Prancis tahun 1980.

Roger Milla. Foto: ANTONIO SCORZA / AFP

Prestasinya bersama AS Monaco membuat Bastia membelinya. Di Bastia, Roger Milla berhasil kembali membawa klub yang dibelanya itu menjadi juara Piala Prancis secara beruntun dan membuatnya main di Piala Winners Eropa dan menyumbangkan 2 gol.

Dianggap sukses bersama Bastia, Roger Milla yang makin menua justru pindah ke klub elite Prancis pada masanya Saint Etienne selama 2 tahun dan kemudian pindah ke Montpellier. Di Montpellier, Roger Milla sempat main di Piala UEFA di usianya yang ke 36 tahun.

Roger Milla memang besar bersama Kamerun dan atas jasanya pula nama negara tersebut kemudian menjadi besar. Total, ia sudah bertanding di tiga edisi Piala Dunia, yang pertama pada 1982 di Spanyol. Milla sempat memutuskan pensiun dari timnas pada 1987.

X post embed

Tetapi negara sepertinya memang masih membutuhkan jasanya waktu itu. Tak tanggung-tanggung sang presiden Kamerun, Paul Biya, menelepon langsung Milla agar kembali ke timnas dan ikut ke Piala Dunia 1990.

Lewat Piala Dunia yang "dipaksa" ini ternyata justru membuat namanya melesat. Roger Milla menjadi bintang turnamen empat tahunan tersebut di usia yang sudah menginjak 38 tahun. Mencetak total empat gol dan membawa Kamerun sebagai tim Afrika pertama yang mencapai babak perempat final.

X post embed

Perayaan yang dilakukannya usai mencetak gol dengan berlari ke sudut lapangan di dekat bendera dan menari menjadi sesuatu yang ikonik waktu itu.

Roger Milla sendiri ternyata masih bermain bersama Kamerun selang empat tahun kemudian pada edisi Piala Dunia 1994. Pada Turnamen yang diselenggarakan di Amerika tersebut prestasi Kamerun memang tak secemerlang edisi sebelumnya.

Indomitable Lions hanya mampu menjadi juru kunci babak fase grup saja. Tetapi sebagai individu, Roger Milla masih mencatatkan sejarah di sana.

video youtube embed

Roger Milla pun menjadi pemain tertua yang pernah tampil di Piala Dunia, dengan usia 42 tahun. Rekor yang kemudian dipecahkan 10 tahun kemudian oleh Faryd Mondragon di Piala Dunia 2014 lalu, selisih 1 tahun lebih tua.

Namun hebatnya rekor yang diciptakan Milla ternyata tak hanya itu. Pada laga melawan Rusia, Kamerun memang dibantai dengan skor 6-1. Tetapi satu gol balasan yang dicetak Roger Milla tersebut menjadi rekor baru sebagai pencetak gol tertua di Piala Dunia dalam sejarah. Rekor tersebut memecahkan rekor miliknya sendiri pada edisi sebelumnya dan masih belum terpecahkan hingga sekarang.

X post embed

Hanya berselang 6 bulan sejak Piala Dunia 1994, Roger Milla rupanya datang ke Jakarta untuk merumput di kompetisi Liga Indonesia. Di sana juga sang pemain memutuskan untuk menutup karier sepak bolanya.

Roger Milla awalnya bergabung dengan Pelita Jaya dan ditutup di Putra Samarinda, masing-masing hanya satu musim.

Pada debutnya bersama Pelita Jaya, pada 8 Januari 1995, Roger Milla langsung membawa timnya menang telak 5-0 atas Persiku Kudus dengan torehan 2 gol dan satu assist.

Secara total, Roger Milla berhasil mencetak 16 gol sekaligus menjadi pahlawan Pelita Jaya dengan mengantarkannya hingga ke babak 8 besar. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa buat pemain yang telah berkepala empat.

X post embed

Ketika kontraknya bersama Pelita Jaya habis, rupanya Roger Milla kembali direkrut oleh klub Liga Indonesia lain yaitu Putra Samarinda. Lagi-lagi, Roger Milla jadi pahlawan dengan mengantarkan Putra Samarinda hingga babak 12 besar Liga Indonesia edisi kedua.

Selepas itu, Roger Milla pun pulang kampung hingga akhirnya benar-benar pensiun ketika sudah berusia 47 tahun. Kehidupannya setelah pensiun, ia habiskan dengan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Afrika.

Berkat pencapaiannya bersama tim nasional Kamerun, Roger Milla masuk dalam Daftar “100 Pemain Terbaik Sedunia” versi Pele, legenda tersukses di Piala Dunia, pada 2004. Dan tiga tahun kemudian pada tahun 2007, Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF) menunjuk Roger Milla sebagai “Pemain Terbaik Benua Afrika” dalam 50 tahun terakhir.

****

embed from external kumparan