Kumparan Logo

Kisah Sendu N'Golo Kante: Nyaris Pilih Jadi Akuntan karena Minder Main Bola

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Chelsea N'Golo Kante saat pertandingan Liga Premier menghadapi West Ham United. Foto: Michael Regan/Pool via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Chelsea N'Golo Kante saat pertandingan Liga Premier menghadapi West Ham United. Foto: Michael Regan/Pool via REUTERS

Mengangkat trofi Piala Dunia bersama timnas adalah impian dari setiap pemain bola, tak terkecuali N'golo Kante. Akan tetapi, di balik pendar kariernya di lapangan hijau, Kante justru sempat nyaris memilih jadi akuntan sebagai profesinya.

Mengejutkan, bukan? Tapi, itulah liku hidup yang harus dijalani Kante.

Kante mengawali karier di klub amatir lokal yang jauh dari kemewahan sepak bola Inggris, yaitu JS Suresnes. Pada 2012, pria kelahiran Paris ini bahkan bukan pemain reguler di tim Divisi Tiga Liga Prancis itu.

Setelah ditolak beberapa klub, Kante akhirnya diberi kesempatan berlaga bersama tim cadangan Boulogne yang berlaga di Divisi 6 Liga Prancis. Selama masa bermainnya di sana, dia membantu tim pesisir itu naik ke Divisi 5 Prancis.

embed from external kumparan

Kante mengakui bahwa dia baru mulai percaya dirinya bisa menjadi seorang pemain sepak bola profesional di usia 20-an, ketika dia sedang menimba ilmu untuk menjadi seorang akuntan.

"Saya berada di Boulogne, di tim kedua. Dari Divisi 6, lalu naik ke Divisi 5,” ungkap Kante dilansir dari Sportbible.

“Saya bukan pemain pro saat itu, jadi saya terus belajar karena saya tidak yakin apakah saya bisa mencari nafkah sebagai pesepak bola," sambungnya.

Kante mendapatkan gelar sebagai sarjana muda saat usianya 18 tahun. Setelah itu, dia menghabiskan 2 tahun lagi untuk mendalami bidang akuntansi.

instagram embed

"Ketika saya naik ke tim utama, saya menjadi profesional, jadi saya berhenti belajar. Saya mendapat kualifikasi di bidang akuntansi, tetapi sekarang saya lebih memilih untuk berkonsentrasi pada sepak bola," tambahnya.

Kira-kira butuh dua tahun bagi Kante untuk menjalani debut profesionalnya bersama tim utama, yaitu hari terakhir Ligue 2 pada 2 Mei 2012.

Kameo singkatnya untuk Boulogne terjadi selama 11 menit dalam pertandingan melawan Monaco yang berakhir dengan kekalahan. Hasil itu makin memastikan Boulogne terdegradasi. Bukan debut yang manis, tapi itu adalah perjalanan awalnya.

Musim berikutnya, Kante mulai tampil mengesankan di Divisi 3 Prancis dan berhasil menembus tim utama Boulogne setelah sejumlah penampilan solid yang dibuatnya di lini tengah.

N'Golo Kante memperkuat Chelsea dalam pertandingan Premier League 2019/20 menghadapi Leicester City. Foto: Reuters/Chris Radburn

Boulogne finis di urutan ke-13 klasemen, sementara Kante hanya melewatkan satu dari 38 pertandingan selama musim 2012/13. Terobosan besar.

Beberapa bulan mendatang, tim Ligue 2, Caen, memutuskan untuk mengambil peluang dan membawa Kante ke Stade Michel d'Ornano dengan status bebas transfer.

Kante tidak hanya berkontribusi besar pada promosi Caen ke Ligue 1, tetapi dia juga membantu klub bertahan di liga terelite Prancis pada musim berikutnya.

Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, karier Kante melesat bak meteor, dari berlaga untuk tim Divisi 6 ke Ligue 1. Petualangannya berlanjut ke tanah Britania dengan bergabung bersama Leicester City pada 2015.

Pada titik inilah, Kante benar-benar menjelma sebagai pemain bintang. Di musim perdananya bersama The Foxes, ia langsung mempersembahkan gelar juara Premier League.

instagram embed

Perannya dianggap sangat vital dalam membawa Leicester City juara untuk kali pertama dalam sejarah. Semusim kemudian, ia hijrah ke Chelsea dan kembali berhasil mempersembahkan gelar juara Premier League.

Pencapaian Kante semakin lengkap dengan meraih trofi Piala Dunia 2018 usai Prancis mengandaskan Kroasia di partai final.

Dan, semua itu mungkin tak akan pernah diraih Kante jika ia memilih berpakaian jas hitam dengan dasi sebagai akuntan.

Penulis: Jodi Hermawan