Kumparan Logo

Kisah Tragis Eks Chelsea: Pensiun Muda, Meninggal di Umur 32 Tahun

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Per Weihrauch. Foto: Getty Images via Chelsea FC
zoom-in-whitePerbesar
Per Weihrauch. Foto: Getty Images via Chelsea FC

Nasib tragis dialami eks wonderkid Chelsea dan Ajax Amsterdam, Per Weihrauch. Kariernya hancur karena cedera dan meninggal dunia di usia muda.

Weihrauch lahir pada 3 Juli 1988 di Denmark. Ia tercatat pernah pernah bermain untuk tim muda Ajax dan Chelsea. Sang pemain sempat digadang-gadang menjadi pesepak bola yang bakal bersinar.

Namun, karier Weihrauch terpaksa terhenti di tengah jalan karena masalah cedera. Pada usia 19, ia diberi tahu oleh seorang spesialis bahwa dirinya harus melupakan karier di sepak bola.

Weihrauch sempat berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan tidak menyerah pada mimpinya. Kala itu, ia kembali ke Denmark untuk bermain paruh waktu. Akan tetapi, itu tidak pernah cukup untuk membawanya bermain seperti sedia kala.

Tahun 2020 lalu, dalam usia 32 tahun, Weihrauch ditemukan meninggal di rumahnya. Inilah perjalanan kisah hidup seorang Per Weihrauch, dikutip dari The Sun.

Per Weihrauch. Foto: Getty Images via PA

Talenta Berbakat dari Denmark

Sebagai seorang remaja, Weihrauch adalah salah satu pemain muda paling mentereng dari generasinya. Ia dilatih oleh pelatih Brentford saat ini, Thomas Frank dan asisten manajernya, Brian Riemer, di klub lokal Hvidovre IF.

Riemer bahkan menyatakan bahwa Weihrauch adalah pesepak bola yang memiliki kemampuan lengkap. Sang pemain bisa ditempatkan di mana saja.

"Per memiliki paket lengkap. Dia suka masuk dari posisi sayap dalam formasi 4-3-3, tapi dia juga bisa bermain sebagai striker" ungkap Riemer kepada The Athletic.

"Fisik yang bagus, cerdas, kemampuan menembak yang hebat, sentuhan pertama yang bagus, bagus di dalam kotak, kemampuan menyundul yang bagus."

"Dia adalah salah satu pemain yang bisa menciptakan sesuatu untuk rekan setimnya atau melakukannya sendiri. Dia adalah bakat yang fantastis," sambungnya

Tidak lama kemudian klub-klub top Eropa menaruh minat pada sang pemain, mulai dari Atletico Madrid, Ajax, Chelsea hingga Manchester United. Mereka sangat ingin mendapatkan jasa Weihrauch.

Thomas Frank, pelatih Brentford. Foto: brentfordfc.com

Pengalaman Baru

Untuk melanjutkan pendidikan sepak bolanya, Weihrauch akhirnya memilih De Toekomst milik Ajax. Alasannya sederhana, karena beberapa pemain asal Negeri Skandinavia seperti Jan Molby, Soren Lerby, hingga Christian Eriksen merupakan alumni sekolah sepak bola paling terkenal di dunia tersebut.

Namun, keputusan tersebut akhirnya menjadi mimpi buruk bagi si wonderkid. Weihrauch mengalami cedera yang menjadi awal kehancuran kariernya.

Weihrauch mendapat cedera hamstring yang sebenarnya tidak terlalu parah dalam tur pramusim Ajax, tetapi di bawah tekanan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bermain, hal itu membuatnya terasa lebih buruk.

"Yang paling saya rindukan adalah teman dan keluarga," ujar Weihrauch kepada surat kabar Denmark, Lokalavisen.

X post embed

"Setelah berlatih di sini, Anda tidak bisa pulang begitu saja untuk melihat salah satu pemain. Tentu saja terkadang sulit, terutama saat Anda cedera. Maka membosankan untuk duduk di sini sendirian."

"Anda di sini untuk bermain sepak bola dan itulah satu-satunya hal yang tidak dapat Anda lakukan saat Anda cedera. Kemudian hari-hari bisa menjadi lama di dalam gym."

"Tetapi setiap hari saya bangun dan saya menantikan untuk pergi berlatih, jadi itu adalah keputusan yang tepat (bergabung dengan Ajax)."

Cedera mengambil semua waktu berharganya di Belanda, plus dengan kontraknya yang akan habis, Weihruch akhirnya memutuskan untuk hengkang.

Datang ke Chelsea

Pada 2006, saat Dane Frank Arnesen menjadi direktur olahraga Chelsea, ia yang telah mengenal Weihrauch di Ajax, akhirnya membawa pria denmark itu ke Cobham.

Weihrauch pun berhasil membuat Brendan Rodgers terkesan. Rodgers merupakan pelatih tim muda Chelsea saat itu.

Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers. Foto: Peter Powell/Reuters

“Saya ingat Per dengan sangat jelas. Dia adalah pemain muda yang sangat, sangat berbakat dari cetakan Ajax. Dia adalah pemain sayap, tetapi dia kuat secara fisik. Dia bisa bermain di beberapa posisi, dia bisa bermain melebar di kedua sisi atau dia bisa bermain sebagai striker atau No 10. Dia sangat berbakat dalam menguasai bola, cepat," ungkap Rodgers.

“Dia masuk pada usia 17 dan dia sudah berada di atas tim junior. Dia langsung masuk ke tim cadangan kami dan Anda benar-benar bisa melihat kemampuan alaminya yang tidak diragukan dan, tentu saja, tingkat kerjanya."

"Dia ingin bekerja, ingin berlari. Kemampuan luar biasa dalam menguasai bola untuk mengalahkan seorang pria. Dia bukan pemain sayap kecil, dia memiliki ukuran tubuh yang bagus untuk pemain lini tengah dan bakat yang begitu besar."

Cedera selalu menghampiri

Meskipun baru memulai kariernya di London, Weihrauch tidak bisa lepas dari masalah cederanya. Di pihak Chelsea, itu adalah pertaruhan dan tampaknya itu tidak berhasil.

“Kami tahu tentang masalah cedera yang dia alami, tetapi kami ingin memberinya kesempatan" ujar Frank Arnesen.

"Jika dia bisa kembali ke level aslinya, dia akan menjadi pemain hebat. Dia memainkan beberapa pertandingan, melakukannya dengan baik, tapi sayangnya, dia cedera lagi."

X post embed

Pemindaian pun dilakukan di sekitar hamstringnya. Hasilnya, ia perlu istirahat sejenak. Kemudian setelah sembuh, Weihrauch harus bisa membangun kekuatan di kakinya dan jika tidak, kariernya akan berakhir.

“Terkadang sangat disayangkan bahwa tubuh tidak dapat mengatasi intensitas latihan dan pekerjaan,” ujar pelatih Leicester itu kepada The Athletic.

“Dan itu jelas terjadi pada Per. Itu tidak ada hubungannya dengan bakat, dia adalah pemain yang sangat berbakat. Dia bisa saja terus bermain dan menjadi pemain yang benar-benar top, karena dia memiliki permainan untuk itu, tetapi dia tidak bisa membangun ritme dan konsistensi."

Sudah Selesai

Weihrauch lantas pergi ke Finlandia untuk menjalani operasi yang diharapkan akan memperbaiki masalah cederanya. Namun, itu tidak berhasil dan setelah pergi ke beberapa spesialis, jawabannya tetap sama.

Hamstringnya tidak akan mampu bertahan dari kesulitan permainan sepak bola yang kian modern, di mana kecepatan dan daya tahan fisik menjadi faktor utama.

Dan disaat masih berusia 19 tahun (pada saat itu), Weihrauch kemudian disarankan untuk pensiun dan menerima pembayaran asuransi untuk kehilangan pendapatannya di masa depan.

X post embed

Kembali ke Denmark

Putus asa karena masalah cedera yang dialaminya, Weihrauch kemudian kembali ke klub pertamanya Hvidovre pada 2009.

Meskipun banyak gembar-gembor tentang kedatangannya, ia tidak dapat membantu impian klub untuk kembali ke papan atas Denmark. Weihrauch kemudian pindah ke klub amatir.

Weihrauch memainkan sekitar 70 persen dari kemampuannya. Ketika mendapat kesempatan, ia memberikan terbaik. Namun, sang pemain tetap gagal.

"Ini jelas merupakan tujuan saya untuk meningkatkan karier saya. Saya berharap untuk kontrak profesional baru."

Kontrak baru pun tidak pernah datang pada Weihrauch. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa menyerah pada karier bermainnya adalah yang terbaik.

Weihrauch menemukan kehidupan baru sebagai seorang agen sepak bola, bekerja dengan agen lamanya, Soren Lerby, yang mengelola sejumlah pemain termasuk Pierre-Emile Hojbjerg.

Pemain Tottenham Hotspur Pierre-Emile Hojbjerg berebut bola dengan pemain Brighton & Hove Albion pada pertandingan lanjutan Premier League di Stadion Komunitas American Express, Brighton, Inggris. Foto: Mike Hewitt/Pool/REUTERS

Kemudian, setelah kembali kuliah dan menyelesaikan studinya, Weihrauch berhasil mendapatkan pekerjaan di Nordea di sektor keuangan sebuah bank di Denmark.

Namun, rupanya kematian adalah panggilan terakhir sang pemain. Weihrauch ditemukan meninggal di rumahnya pada umur 32 tahun.

"Sayangnya, saya kehilangan kontak dengannya selama beberapa tahun terakhir. Kesan saya adalah bahwa dia tampak menarik diri. Tidak banyak yang mengenalnya dari masa-masa sepak bolanya melakukan kontak dengannya dalam satu tahun terakhir ini," ujar Riemer.

"Sulit untuk dibicarakan, bahkan sekarang. Saya mencoba untuk mundur dari situasi dan saya berpikir, 'Per, mengapa Anda tidak menelepon saya? Saya akan melakukan apa saja untuk membantu Anda'."

"Tapi sudah terlambat. Saya tidak berpikir dia merasa dia memiliki kekuatan yang tersisa," tandasnya.