Kumparan Logo
MU, Everton (C)
Dominic Calvert-Lewin (kiri) berduel dengan Victor Lindeloef.

Kok, Susah Menang Lawan Tim Lemah, MU?

kumparanBOLAverified-green

comment
51
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Scott McTominay berebut bola dengan Mason Holgate (kanan). Foto: Reuters/Phil Noble
zoom-in-whitePerbesar
Scott McTominay berebut bola dengan Mason Holgate (kanan). Foto: Reuters/Phil Noble

Sebuah sejarah penting tercipta bagi Manchester United dalam pertandingan melawan Everton, Minggu (15/12/2019) malam WIB, di Old Trafford. Itu adalah kali ke-4.000 secara beruntun di mana pemain akademi United ambil bagian dalam sebuah pertandingan.

Dalam laga milestone itu, Manchester United pun harus berterima kasih kepada seorang jebolan akademi bernama Mason Greenwood. Berkat gol cantiknya, mereka terhindar dari kekalahan. Sebelum itu pasukan Ole Gunnar Solskjaer kebobolan lebih dulu lewat bunuh diri Victor Lindeloef.

Sayangnya, pada pertandingan spesial tersebut, ada catatan negatif lain yang semakin kentara di buku perjalanan Manchester United musim ini. Lagi-lagi 'Iblis Merah' gagal mengalahkan tim yang semestinya bisa mereka kalahkan.

Di sini kita akan secara khusus berbicara mengenai catatan di Premier League meskipun pada Liga Europa kelemahan tersebut juga muncul. Di Liga Europa, Manchester United sempat diimbangi AZ dan ditaklukkan Astana, tetapi setidaknya ada penjelasan logis di baliknya.

Ole gunnar Solskjaer bersama para pemain muda Manchester United. Foto: REUTERS/Pavel Mikheyev

Dua hasil minor di Liga Europa itu didapatkan lantaran Manchester United tidak bermain dengan kekuatan penuh, terutama di pertandingan melawan Astana. Pemain pelapis dan akademi mendominasi skuat The Red Devils dalam dua laga tersebut.

Maka, dua hasil minor itu sudah selayaknya dimaafkan. Lagi pula, di akhir cerita, Manchester United sukses lolos dari fase grup sebagai juara. Selain itu, dalam pertemuan lainnya, AZ dan Astana bisa mereka kalahkan.

Nah, yang jadi persoalan adalah di Premier League. Sejauh ini, Manchester United telah mengemas empat kemenangan atas tim-tim yang posisinya berada di atas mereka: Chelsea, Leicester City, Tottenham Hotspur, dan Manchester City.

Catatan apik Manchester United atas tim Big Six (plus Leicester) tidak hanya sampai di situ. Dalam pertandingan melawan Liverpool dan Arsenal, mereka juga sanggup memaksakan hasil imbang. Namun, justru di sinilah masalahnya. Ada paradoks dalam hasil yang didapatkan Manchester United.

Sudah 17 laga mereka jalani musim ini. Minus enam laga melawan tim-tim besar tadi, Manchester United baru meraih dua kemenangan atas tim-tim yang seharusnya bisa mereka kalahkan. Dua tim tersebut adalah Norwich City dan Brighton and Hove Albion.

Dominic Calvert-Lewin (kiri) berduel dengan Victor Lindeloef. Foto: Reuters/Phil Noble

Sementara, dalam sembilan laga lain, Manchester United tak pernah menang. Mereka ditahan imbang Wolverhampton Wanderers, Southampton, Sheffield United, Aston Villa, dan Everton, serta dikalahkan Crystal Palace, West Ham United, Newcastle United, dan Bournemouth.

Menurut catatan Understat, United semestinya bisa mendapat poin lebih banyak dari sekarang. Mengacu pada cara bermain mereka, di mana xG (gol yang semestinya diciptakan) dan xGA (jumlah kebobolan yang semestinya) jadi ukuran, United seharusnya bisa berada di empat besar.

Dalam hitung-hitungan Understat, Manchester United semestinya bisa meraih sampai 32 poin. Jumlah itu lebih banyak daripada milik Leicester dan hanya kalah dari duo Manchester City-Liverpool. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. United sekarang ada di urutan enam dengan koleksi 25 angka.

Buruknya kemampuan Manchester United dalam membongkar pertahanan blok rendah lawan ditengarai jadi masalah dan ini sudah terjadi dalam berbagai kesempatan. Laga melawan Everton tadi hanyalah contoh terbarunya.

Kegagalan mendapatkan pengganti Romelu Lukaku ditengarai jadi masalah terbesar. Ketika masih bermain untuk United, Lukaku dikenal sebagai spesialis pembobol gawang tim-tim kecil yang bertahan di kedalaman. Kualitas ini yang sekarang tak dipunyai 'Iblis Merah'.

Romelu Lukaku rayakan gol menit akhir ke gawang Southampton. Foto: REUTERS/Phil Noble

Tak heran jika Manchester United kemudian memilih untuk memburu striker tinggi besar bernama Erling Braut Haaland. Semestinya, pemain asal Norwegia itu bisa menjadi jawaban atas persoalan yang dipunyai United saat ini.

Namun, tentunya mendatangkan Haaland saja tidak akan cukup. Manchester United juga masih perlu membenahi sektor lain, khususnya sektor tengah yang masih kekurangan kreator ulung. Lini belakang juga masih layak diperhatikan karena Lindeloef sejauh ini tetap belum bisa memberi rasa aman.

Terakhir, kualitas latihan juga mesti ditingkatkan. Pasalnya, buruknya kemampuan Manchester United dalam membongkar pertahanan blok rendah tidak cuma terlihat dari ketiadaan sosok big man, tetapi juga absennya kreativitas dan pergerakan-pergerakan tanpa bola yang apik.

-----

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo, buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersi original.

collection embed figure