Kumparan Logo

Laga Man. United vs Juventus yang Memantik Kesenangan Chiellini

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Giorgio Chiellini dengan ban kapten baru Serie A. (Foto: Getty Images/Marco Luzzani)
zoom-in-whitePerbesar
Giorgio Chiellini dengan ban kapten baru Serie A. (Foto: Getty Images/Marco Luzzani)

Matchday ketiga Liga Champions 2018/19 melahirkan kesenangan tersendiri bagi sang kapten Juventus, Giorgio Chiellini. Pertandingan melawan Manchester United yang bakal dihelat di Old Trafford pada Rabu (24/10/2018) pukul 02:00 WIB ini adalah partai kepulangan.

Di kubu Juventus, laga ini berarti memulangkan Cristiano Ronaldo ke Old Trafford, tempat ia menumbuhkan nama besarnya sebagai mesin gol. Sebelum namanya besar bersama Real Madrid, Ronaldo memang dikenal sebagai penggawa United pada 2003 hingga 2009.

Namun, yang pulang ke rumah bukan hanya Ronaldo, tapi juga Paul Pogba. Berkebalikan dengan Ronaldo, pertandingan ini sama dengan mempertemukan Pogba dengan rumah lamanya. Bila United menjadi rumah lama Ronaldo, maka Juventus menjadi rumah lama Pogba.

Bersama Juventus, Pogba dipandang sebagai salah satu gelandang box to box mematikan dalam naungan formasi 4-3-3. Pogba bermain bersama Andrea Pirlo sebagai pembagi bola serta Arturo Vidal dan Claudio Marchisio yang merupakan gelandang all-rounder. Artinya, setiap personel lini tengah Juventus ketika itu punya tugas spesifik yang tidak saling tumpang tindih.

Dengan demikian, Pogba--dan pemain-pemain lainnya--bisa lebih leluasa menjalankan tugas mereka masing-masing. Alhasil, bersama Juventus tak hanya berperan sebagai pencetak gol, tapi seniman yang mengatur bentuk permainan. Peran seperti ini dinilai menjadi win win solution. Klub berjaya, pemain bertumbuh. Atas kontribusi nyatanya ini, wajar bila Pogba menjadi salah satu sosok yang begitu dicintai oleh 'Si Nyonya Tua'.

Dalam konferensi pers jelang laga, Chiellini mengungkapkan kembali seperti apa cinta dan respek Juventus kepada Pogba. Namun, Chiellini melakukannya dengan berkelas. Ia ogah mencampuradukkan rasa hormatnya dengan isu yang memberitakan kepulangan Pogba ke Juventus.

Perjalanan Pogba bersama United penuh konflik. Kabar yang paling santer beredar, ia tak punya hubungan yang baik dengan sang juru taktik, Jose Mourinho. Ego setinggi langit keduanya dipandang sebagai percik api yang menyulut permusuhan 'dalam selimut'.

Keduanya berada dalam satu tim yang sama, saling membutuhkan, tapi penuh dengan ketidakharmonisan. Hanya dengan meluangkan waktu dua atau tiga menit dengan mesin pencari internet, maka kita akan menemukan setumpuk rumor tentang memburuknya hubungan pelatih dan pemain ini.

"Saya minta maaf karena semua yang kami katakan tentang anak ini (Pogba) sudah melewati filter bursa transfer (tidak akan mengait-kaitkan dengan rumor kepindahan Pogba ke Juventus -red). Ada begitu banyak cinta dan respek untuk sosok (Pogba) yang kami lihat bertumbuh dan terbang tinggi ini. Dan saya pikir, kasih sayang terhadap Pogba adalah hubungan timbal-balik. Ini hal yang indah sekaligus normal," jelas Chiellini, dilansir Football Italia.

Bagi Chiellini, partai ini akan menjadi pertandingan yang menyenangkan. Penyebabnya bukan hanya soal reuni dengan Pogba, tetapi juga karena akan mempertemukan Juventus pada tim terhormat seperti United.

"Ini akan menjadi laga yang menyenangkan bagi kedua tim. Saya tidak berpikir laga ini akan menendang United dari persaingan di Liga Champions. Tapi, saya juga tidak berpikir kami akan terdepak karena pertandingan ini. Partai ini menjadi pertandingan yang digelar di stadion bersejarah antara kedua tim yang memanggul asa untuk menjadi pemuncak grup."

"Kami sadar pertandingan ini tidak akan berjalan dengan mudah. Toh, yang kami hadapi saat ini adalah tim yang memiliki banyak gelar juara dan dipimpin oleh seorang pelatih yang luar biasa," ucap Chiellini.

Paul Pogba saat masih berseragam Juventus. (Foto: AFP/Giuseppe Cacace)
zoom-in-whitePerbesar
Paul Pogba saat masih berseragam Juventus. (Foto: AFP/Giuseppe Cacace)

Di Liga Champions 2018/19, langkah Juventus lebih tegap ketimbang United. Dua pertandingan babak grup dituntaskan Juventus dengan kemenangan 100%. Yang pertama, Juventu menang 2-0 atas Valencia. Catatan kemenangan ini berlanjut pada matchday kedua yang ditutup dengan raihan tiga poin berkat kemenangan 3-0 atas Young Boys.

Sementara, United mengemas satu kemenangan dan satu hasil imbang di fase yang sama. Di laga pertama mereka memang menang 3-0 atas Young Boys. Sayangnya, raihan ini tidak berlanjut matchday kedua karena hasil imbang 0-0 menjadi penutup laga melawan Valencia.

Namun demikian, bukan berarti Juventus melangkah tanpa cela sedikit pun. Laga teraktual yang memperhadapkan mereka dengan Genoa berakhir dengan skor imbang 1-1. Hasil ini tentu merusak kemenangan sempurna Juventus di Serie A 2018/19. Di pertandingan ini, Juventus menjadi tim yang paling getol melepaskan serangan.

Dibandingkan dengan 9 upaya tembakan Genoa, Juventus unggul jauh dengan 21 upayanya. Persoalannya, efektivitas belum bisa menjadi kawan karib Juventus di laga pekan kesembilan Serie A 2018/19 itu. Dari 21 upaya itu, hanya 3 yang bisa diklasifikasikan tembakan tepat sasaran.

Itu baru persoalan pertama. Kegagalan Juventus mengemas kemenangan sempurna sebenarnya juga berpangkal dari hal klasik di ranah sepak bola: kealpaan untuk menjaga pertahanan. Ya begitulah, asyik menyerang membuat Juventus melupakan pertahanan.

Gol penyama kedudukan yang diciptakan oleh Daniel Bessa di babak kedua itu bermula dari satu kesempatan di tengah gempuran serangan Juventus. Di area kiri pertahanan Juventus, Medhi Benatia sebenarnya sudah berhasil menyapu bola bangunan serangan Genoa itu. Niat Benatia saat itu adalah menyapu bola ke luar lapangan.

Leonardo Bonucci dan Wojciech Szczesny di akhir laga Juventus vs Genoa. (Foto: REUTERS/Stefano Rellandini)
zoom-in-whitePerbesar
Leonardo Bonucci dan Wojciech Szczesny di akhir laga Juventus vs Genoa. (Foto: REUTERS/Stefano Rellandini)

Yang disesalkan, sapuannya itu justru terlalu pelan sehingga bola dapat dijangkau oleh penggawa Genoa, Christian Kouame. Oleh Kouame bola itu dikirim ke area penalti lewat umpan silang yang dapat diterima oleh Bessa dengan sundulannya. Yang terjadi setelahnya, sundulan itu mampu menggeser skor pada kedudukan imbang 1-1 hingga laga berakhir.

Namun, Chiellini menegaskan, hasil imbang tersebut tidak akan menjadi beban yang mendistraksi fokus Juventus di pertandingan kali ini. Malahan, kesalahan di area pertahanan itu menjadi pembelajaran yang baik karena berhasil membukakan mata timnya tentang apa yang menjadi kelemahan mereka.

"Pada akhirnya, kami belajar dari kesalahan dan menggunakannya sebagai alat untuk membenahi diri. Kami selalu mengambil hal-hal positif dari setiap pertandingan yang bahkan tidak berjalan sesuai dengan harapan kami. Yang ada di depan kami saat ini adalah pertandingan Liga Champions di stadion spektakuler. Dan persis seperti yang saya katakan sebelumnya, lawan yang kami hadapi adalah tim juara," pungkas Chiellini.