Lahir dan Besar untuk Manchester City, Inilah Noel dan Liam Gallagher

Ada tiga hal yang pasti di dunia ini: pajak, kematian, dan cinta The Gallaghers -- Noel dan Liam -- pada Manchester City.
Dua bersaudara itu boleh jadi membenci satu sama lain. Sang adik, Liam, bahkan dalam sebuah kesempatan pernah menyatakan bahwa dia membenci Oasis, band yang dulu dia gawangi bersama kakaknya. Tak mengherankan memang karena berkat Oasis-lah, hubungan dua persona ini retak, kalau tidak boleh dibilang hancur. Namun, jika ada satu hal yang mungkin bakal mempersatukan kembali Noel dan Liam suatu hari kelak, itu adalah sepak bola.
Mencari orang Inggris yang menyukai sepak bola memang semudah mencari orang Indonesia yang menggemari Indomie. Mudah sekali. Akan tetapi, kecintaan itu kemudian menjadi spesial dan layak diceritakan ketika ia datang dari pesohor macam duo musisi ini.
Pada 1 Juli 2002, Oasis merilis album studio kelimanya yang diberi judul Heathen Chemistry. Dalam album yang mendapat tanggapan beragam dari kritikus itu, ada sebuah lagu yang berjudul Stop Crying Your Heart Out. Dibuka dengan dentingan piano dalam progresi minor, lagu itu mereka dedikasikan untuk Tim Nasional Inggris.
Video klip lagu itu sendiri sudah beredar beberapa bulan sebelum album secara resmi dirilis. Ketika pada 21 Juni 2002 Inggris dikalahkan oleh Brasil lewat gol ajaib Ronaldinho, lagu yang sudah mulai kedaluwarsa di televisi dan radio itu kemudian menjadi sering diputar lagi. Oasis, atau Noel dan Liam, lewat lagu itu berkata, "Bertahanlah dan jangan takut. Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi."
Sebagai Mancunian, tentu hanya ada dua pilihan bagi Noel dan Liam untuk urusan sepak bola: Manchester United atau Manchester City. Mereka memilih City. Well, mungkin tidak "memilih", karena sebagai orang yang lahir dan besar di dekat pusat kota Manchester, menjadi pendukung City adalah sebuah kewajaran, kalau bukan keharusan.
Menjadi pendukung City, di kota yang dibuat beken oleh rival mereka, United, bukan perkara enteng. Selama bertahun-tahun, mereka dipaksa melihat United mereguk kejayaan demi kejayaan. Sampai-sampai, Manchester United pun jadi tak lagi milik orang Manchester semata. Jutaan orang dari seluruh dunia dengan bangga mengklaim diri mereka sebagai pendukung United.
City, sementara itu, sulit sekali bangkit dari kubang nestapa. Degradasi pun bukan barang langka bagi The Citizens dan para pendukungnya. Jangankan mendunia seperti United, bertahan di level teratas saja kadang sulit.
Namun itu semua berubah ketika Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand yang korup itu, membeli City dari John Wardle pada tahun 2007. Di bawah kepemilikan Thaksin, Manchester City mulai melakukan perubahan. Berbagai transfer serta penunjukkan Mark Hughes sebagai manajer menjadi aksi penting yang dibuat rezim Thaksin. Akan tetapi, era kepemilikan Thaksin tidak bertahan lama karena pemerintah Thailand kemudian membekukan aset finansial sang pesakitan. Thaksin pun akhirnya melego City kepada Sheikh Mansour dari Uni Emirat Arab dan sisanya adalah sejarah. Sejak itu, City menjadi klub besar dan menjadikan Manchester laiknya Milan yang memiliki dua raksasa sepak bola.
Ketika City akhirnya menjadi juara Premier League pada tahun 2012, Noel Gallagher hadir di Etihad Stadium. Duduk di tribun VIP, Noel tak kuasa menahan air mata usai Sergio Aguero menjebol gawang Queens Park Rangers pada menit ke-90+4. Diiringi anthem yang dikorup dari Hey Jude milik The Beatles, City menyegel gelar juara liga pertama mereka sejak 1968. Pihak klub yang merasa punya utang moral pun kemudian menggunakan lagu Wonderwall sebagai pengganti Blue Moon ketika Vincent Kompany mengangkat trofi tinggi-tinggi ke angkasa.
Dalam pesta juara Manchester City, Noel turut serta. Bersama para pemain, dia merayakan trofi yang telah dia tunggu seumur hidupnya. Bayangkan saja. Ketika Mike Summerbee dkk. menjadi penguasa Inggris tahun 1968, Noel bahkan belum lahir. Oleh Vincent Kompany, ban kapten yang dia kenakan pada laga melawan QPR diserahkan pada Noel sebagai hadiah dan bentuk penghormatan. Sementara itu, Liam, ketika City menjadi juara Premier League untuk kedua kalinya (atau Liga Inggris untuk keempat kalinya) dua tahun kemudian mengatakan bahwa dia ingin jadi anak angkat Manuel Pellegrini.
The Gallaghers tak hanya merupakan pendukung City. Lebih dari itu, mereka membenci United. Ketika Gary Neville menggunakan lirik lagu Oasis untuk merayakan kemenangan Manchester United. Lewat akun Twitternya, sahabat David Beckham itu menulis "’While we’re living, the dreams we have as children fade away.’ Not if you support United!”
Aksi "kurang ajar" Neville itu kemudian dibalas oleh Noel dengan mencorat-coret gitar milik Neville dengan tulisan "MCFC". Uniknya, Gary Neville sendiri merupakan penggemar Oasis.
Kini, Oasis sudah bubar. Bahkan, sebelum Oasis bubar sekali pun, Liam sudah terlebih dahulu angkat kaki. Sementara itu, Manchester City justru sedang menikmati masa kejayaan. Di bawah Pep Guardiola, walau belum benar-benar meyakinkan, City seakan menegaskan bahwa mereka saat ini adalah klub besar. Tak hanya di Inggris, kebesaran City itu juga diakui di Eropa, bahkan dunia.
Seiring dengan berubahnya status City menjadi klub super, Noel Gallagher pun makin sering diundang oleh pihak klub untuk menjadi bintang tamu pada acara yang mereka selenggarakan. Bahkan, wawancara perdana Pep Guardiola setelah dia ditunjuk menjadi manajer City pun dilakukan oleh Noel Gallagher.
Hmm, asyik juga ya ternyata kalau cinta tidak bertepuk sebelah tangan.
