Lionel Messi dan Mereka yang Membuat Lawan Jatuh Hati

Hati Gary Lineker terbelah. Dia tak bisa memilih kesebelasan mana yang lebih dia jagokan. Baik Barcelona maupun Tottenham Hotspur sama-sama pernah dibelanya dan dibawanya meraih kejayaan. Itulah mengapa, sebelum kedua kesebelasan itu bentrok, Lineker mengambil langkah diplomatis. Dia memprediksi pertandingan matchday kedua Liga Champions itu berakhir dengan skor 3-3.
Faktanya adalah, Lineker tak sepenuhnya salah. Ada enam gol yang tercipta di Wembley pada Kamis (3/10/2018) dini hari WIB. Namun, yang luput dari prediksi legenda sepak bola Inggris itu adalah enam gol tadi tak dibagi kedua kesebelasan sama rata-rata. Barcelona berhasil mencetak empat gol, sementara Tottenham hanya sanggup membuat dua gol.
Ada satu sosok yang paling bertanggung jawab di balik lahirnya empat gol dan namanya, siapa lagi kalau bukan, Lionel Andres Messi. Dua dari empat gol itu dia cetak sendiri, masing-masing lewat tembakan jarak dekat di dalam kotak penalti.
Kemudian, dua gol Barcelona lainnya yang dicetak oleh Philippe Coutinho dan Ivan Rakitic pun lahir berkat kegeniusan pria kelahiran Rosario tersebut. Oh, dan jangan lupakan pula bahwa Messi sebenarnya bisa mencetak gol lagi seandainya bola hasil tembakannya tak mencium tiang gawang Hugo Lloris. Pendek kata, Messi adalah aktor utama di balik tersungkurnya Spurs di 'kandang' mereka sendiri.
Messi sendiri memang bukan baru kali itu saja membuat publik Wembley patah hati sekaligus jatuh hati. Tujuh tahun silam, dalam pertandingan final Liga Champions menghadapi Manchester United, Messi menjadi salah satu pencetak gol dalam kemenangan 3-1 yang diraih Barcelona. Kala itu pun dirinya dinobatkan sebagai pemain terbaik laga.
Tujuh tahun silam, Messi pulang dari Wembley dengan gelar penampil terbaik laga dan trofi Si Kuping Besar. Kali ini, trofi memang belum bisa dibawanya pulang karena laga menghadapi Spurs ini adalah laga fase grup. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini, selain mendapat gelar pemain terbaik, La Pulga juga pulang dengan kenangan indah.
Pada dasarnya, apa yang ditampilkan Messi adalah sebuah kesempurnaan. Dalam cuitannya, legenda sepak bola Inggris lain, Alan Shearer, memuji semua komponen permainan sosok asal Argentina itu, mulai dari kemampuan mencetak gol, teknik individual, kemauan untuk bekerja keras di lapangan, serta caranya menyikapi sebuah laga. Singkat cerita, Shearer merangkum kehebatan Messi dalam sebuah kata: Seniman.
Memang sulit untuk tidak melihat performa Messi sebagai sebuah karya seni. Setiap gocekan, umpan, dan tembakan Messi adalah puisi yang temaktub dalam gerakan. Celakanya, keindahan itu diijadikan Messi sebagai senjata untuk menghabisi lawan-lawannya. Spurs pun, pada pertandingan semalam, telah menjadi korban berikutnya.
Walau demikian, para suporter Tottenham yang memadati Wembley sama sekali tidak menempatkan diri mereka sebagai korban. Justru, mereka merasa telah mendapat kehormatan bisa menyaksikan secara langsung Messi bermain. Ya, klub kesayangan mereka memang kalah. Akan tetapi, Messi menunjukkan bahwa tak semua hal di sepak bola itu relatif. Terkadang, ada hal-hal absolut yang mau tak mau harus diberikan apresiasi yang layak.
Melihat timnya diacak-acak oleh Messi, suporter Tottenham tidak naik darah. Tak seperti suporter PSV yang merespons kehebatan Matteo Politano dengan lemparan gelas berisi bir, para pendukung Spurs menyambut kehebatan Messi dengan tempik sorak. Mereka bangkit dari kursi dan memberi aplaus keras-keras untuk manusia yang baru saja memberi pelajaran pada mereka bagaimana sepak bola semestinya dimainkan.

***
Tak ada yang tahu pasti kapan orang pertama kali menggunakan aplaus sebagai sebuah bentuk apresiasi. Namun, dari sumber sejarah tertulis yang ada, dikisahkan bahwa prosesi itu bermula dari masa Romawi Kuno. Bahkan, kata 'aplaus' sendiri berasal dari bahasa Latin yang memang merupakan bahasa milik orang-orang Romawi Kuno, 'applaudere', yang berarti 'bertepuk'.
Memberi aplaus sejatinya hanya merupakan salah satu bentuk pemberian apresiasi. Ada cara-cara lain yang pernah digunakan umat manusia, seperti mengentak-entakkan kaki atau memukul-mukul meja. Namun, pada perkembangannya, bertepuk tangan jadi jalan universal untuk memberi penghargaan atas kehebatan seseorang.
Kebiasaan bertepuk tangan orang-orang Romawi Kuno ini akhirnya berkembang menjadi tradisi memberikan tepuk tangan sambil berdiri. Dalam bahasa Inggris, ia disebut sebagai standing ovation dan kata 'ovation' sendiri, lagi-lagi, berhulu dari kata berbahasa Latin, 'ovo', yang berarti 'saya merasa bahagia'.
Standing ovation ini berada di level yang lebih tinggi ketimbang tepuk tangan, atau aplaus, biasa. Tak heran, memang, karena di masa Romawi Kuno dulu, aktivitas ini dilakukan untuk memberi penghargaan khusus bagi para panglima yang baru saja pulang usai menaklukkan lawan.
Sebenarnya, ada dua cara untuk memberi penghargaan kepada para panglima tadi. Cara pertama adalah dengan menggelar pesta besar. Akan tetapi, pesta besar itu baru dilangsungkan apabila lawan yang dihadapi adalah lawan berat. Jika lawan yang dihadapi terhitung mudah ditaklukkan, maka penghargaan yang diberikan cukup dengan standing ovation. Tradisi ini sendiri bermula ketika Marcus Licinius Crassus kembali usai meredam pemberontakan Spartacus.
Pada akhirnya, standing ovation pun terus dipergunakan sampai saat ini, termasuk di stadion-stadion sepak bola. Untuk mendapatkan penghargaan seperti ini, seseorang memang harus memberi kesan mendalam dulu bagi publik, entah lewat penampilannya, kesetiaannya, atau jasa-jasa lainnya.
***
Tidak mudah bagi seorang pelaku sepak bola, baik pemain atau pelatih, untuk mendapatkan aplaus di markas lawan. Untuk mendapatkan itu, apa yang dilakukan orang-orang itu haruslah melampaui segala ekspektasi akan kehebatan seorang pesepak bola. Aksi Messi di Wembley tadi jelas sudah masuk kategori tersebut dan itulah mengapa, melihatnya mendapat sambutan hangat sama sekali tidak mengejutkan.
Messi sendiri bukannya kali ini saja mendapat aplaus dari kubu lawan. Tercatat, dia pernah diberi tepuk tangan di markas Juventus, Real Betis, Atletico Madrid, bahkan Real Madrid. Di markas Betis, Atletico, dan Real, Messi mendapat aplaus karena penampilannya yang luar biasa. Sementara, di markas Juventus, ayah tiga anak ini sudah diberi aplaus hanya dengan masuk ke lapangan.
Apa yang didapatkan Messi ini pun sejatinya sudah pernah didapatkan pesepak bola hebat lainnya. Rival Messi, Cristiano Ronaldo, setidaknya sudah dua kali mendapat aplaus dari pendukung lawan dan keduanya terjadi di Liga Champions.

Aplaus pertama untuk Ronaldo itu hadir pada 2014 ketika dirinya memimpin Real Madrid menghancurkan Liverpool di Anfield. Kemudian, aplaus kedua diterimanya pada musim lalu di markas Juventus yang akhirnya menjadi pembuka jalan bagi kepindahan megabintang asal Portugal tersebut ke Turin.
Bicara soal Juventus dan Real Madrid, sebelum Ronaldo pernah ada sosok spesial yang meninggalkan kesan indah di antara dua suporter. Dia adalah Alessandro Del Piero. Pada 2008, legenda terbesar Juventus itu mendapat standing ovation dari publik Santiago Bernabeu berkat penampilan luar biasanya di laga yang dimenangi 'Si Nyonya Tua' dengan skor 2-0 tersebut.
Sosok lain yang pernah disambut hangat penonton di Bernabeu adalah pendahulu Messi: Ronaldo de Assis Moreira alias Ronaldinho Gaucho. Pada 2005, Ronaldinho pernah mengobrak-abrik pertahanan Real Madrid sendirian untuk membawa Barcelona menang 3-0. Satu gol yang membuat Ronaldinho sampai mendapat tepuk tangan itu adalah gol yang dicetaknya usai melewati dua bek Real Madrid.
Sebenarnya, masih banyak lagi contoh-contoh yang bisa dicantumkan, seperti Dennis Bergkamp dan Thierry Henry yang sama-sama pernah mendapat standing ovation kala masih berseragam Arsenal. Lalu, ada pula Steven Gerrard yang pernah diberi apresiasi besar-besaran oleh suporter Chelsea.
Namun, inti ceritanya tetap sama. Para pemain tersebut diberi penghargaan besar karena mereka, dalam pertandingan-pertandingan itu, telah menjadi lebih besar dari sepak bola itu sendiri.
