Mari Bicara Soal Jagoan dari Bandung: Persib

Kota Bandung kerap dijuluki Paris Van Java. Alasannya? Pertama, Bandung memiliki keindahan alam dan kesejukan udara sehingga orang-orang di masa kolonial Belanda dulu teringat akan kota Paris di Prancis. Bahkan, menurut orang-orang Eropa, Bandung memiliki kesamaan geografis yang hampir sama dengan kawasan Prancis bagian selatan.
Kedua, Bandung merupakan pusat mode dan fashion di Indonesia, jika Anda ingin tahu tren fashion atau mode terkini maka datanglah ke Bandung. Begitu pun bila Anda ingin berbelanja. Ini lagi-lagi juga persis seperti Paris. Kemudian Bandung dan Paris juga memiliki kesamaan: sama-sama kota yang dikenal sebagai kota yang romantis.
Tapi beberapa tahun belakangan ini, muncul kesamaan lain dari Bandung dan Prancis. Kesamaan itu lahir dari dunia sepak bola. Bandung dan Prancis saat ini sama-sama memiliki klub sepak bola yang bertabur bintang dan berprestasi. Ya, betul, Persib di Bandung dan Paris Saint-Germain (PSG) di Paris adalah mereka.
PSG adalah salah satu kekuatan terbesar di sepak bola Prancis saat ini. Bagaimana tidak, PSG adalah peraih enam gelar Ligue 1 (kompetisi level teratas Prancis). Bahkan empat di antaranya diraih secara beruntun mulai musim 2012/13 hingga 2015/16 lalu. Musim ini pun mereka masih memiliki kans meneruskannya.
Selain itu, PSG adalah tim yang sangat bertabur bintang. Dari pos kiper hingga striker, Les Parisiens dihuni oleh nama-nama top. Kevin Trapp, Thiago Silva, Blasie Matuidi, Marco Veratti, Angel Di Maria, Julian Draxler, hingga Edinson Cavani adalah bintang-bintang yang merumput di PSG. Mereka-mereka inilah jaminan PSG bisa berprestasi.
Ini mirip-mirip dengan Persib. "Maung Bandung" adalah salah satu klub terbesar di Indonesia saat ini. Dua gelar Liga Indonesia pernah mereka dapatkan. Salah satunya baru diraih tiga tahun lalu. Itu belum terhitung prestasi lain yang banyak mereka dapatkan pada era Perserikatan.

Soal pemain bintang, Persib juga "meniru" PSG. Deretan pemain mereka berlabel tim nasional. I Made Wirawan, Achmad Jufriyanto, Supardi Nasir, Tony Sucipto, Atep, Hariono, Kim Kurniawan, Sergio van Dijk adalah nama-nama yang pernah memperkuat Timnas Indonesia. Pun begitu dengan pemain asing yang mereka miliki.
Contoh: Vladimir Vujovic, ia pernah memperkuat Timnas Montenegro. Sementara dua bintang mereka yang baru bergabung untuk musim 2017 ini, Michael Essien dan Carlton Cole kita tahu merupakan pemain yang pernah merumput bersama timnas negara top. Essien pernah merumput di Piala Dunia bersama Timnas Ghana, sementara Cole pernah merasakan berseragam Timnas Inggris.
Ditambah lagi, kedua klub ini juga sama-sama ditopang oleh taipan besar. Persib, dikomandoi oleh pengusaha besar, Glenn Sugita. Sementara PSG kita tahu dimodali uang "Timur Tengah" melalui Qatar Sports Investments milik Nasser Al-Khaelafi.
Dalam setiap musimnya di kompetisi domestik masing-masing pun keduanya sama-sama dijagokan mampu meraih gelar juara. Seperti dalam menyambut kompetisi GoJek Traveloka Liga 1 musim 2017 ini, "Maung Bandung" adalah klub yang amat dijagokan bisa mengakhiri musim dengan gelar juara.
Alasannya, ya, seperti yang sudah dijabarkan di atas. Persib adalah klub besar dengan pendanaan baik dan materi skuat mentereng baik inti maupun cadangan. Kedalaman skuat Persib boleh dikatakan adalah yang terbaik saat ini. Di kursi pelatih pun masih ada sosok yang mengantarkan mereka menjadi juara pada 2014 lalu yakni Djadjang Nurdjaman. Sebagai calon juara, Persib tak kurang apa-apa lagi.
Yang dibutuhkan Atep dan kawan-kawan untuk bisa memuluskan langkah mereka menjadi juara hanyalah konsistensi dan bagaimana cara mengeluarkan kemampuan terbaik dari dua marquee player yang mereka miliki, Essien dan Cole. Perihal konsistensi, Persib memang punya masalah.

Persib kadang kali tampil melempem. Namun, di satu sisi, mereka kerap tampil begitu baik dan dengan mudah menghancurkan lawan-lawannya. Inilah yang harus diatasi Djadjang selaku pelatih. Dengan komposisi skuat yang begitu merata, seharusnya hal ini dengan mudah mereka atasi. Karena Djadjang bisa dengan mudah memilih siapa pemain yang mau diturunkannya, sesuai dengan lawan yang akan dihadapi.
Di posisi penjaga gawang, jika Made tak bisa tampil, maka Persib masih memiliki cadangan dalam sosok Muhammad Nathsir. Di lini belakang Persib memiliki Achmad Jufriyanto, Vujovic, Tony, Wildansyah, hingga pemain muda Henhen Herdiana. Rotasi bisa dilakukan Djadjang pada dua posisi tersebut.
Apalagi untuk lini tengah. Djadjang memiliki banyak sekali pemain yang bisa bermain sebagai gelandang tengah. Dari Hariono, Dedi Kusnandar, Gian Zola, Kim, Essien, hingga Maitimo bisa mengisi pos tiga di tengah dalam pola 4-3-3 yang biasa digunakan Persib. Itu belum terhitung pemain muda macam Ahung Mulyadi atau Ahmad Baasith.
Djadjang tak kalah kaya pilihan di sektor sayap dan striker. Sergio van Dijk, Tantan, Shohei Matsunaga, Atep, Carlton Cole, atau pemain-pemain muda seperti Febri Haryadi dan Angga Febriyanto bisa mengisi pos tersebut. Inilah yang membuat Persib lebih beruntung dibanding tim-tim lainnya.

Kekayaan pemain itu pun bisa membuat Djadjang leluasa memilih taktik yang akan digunakannya. Formasi 4-3-3, 4-3-2-1, hingga 4-4-2 bisa dipilihnya tergantung lawan yang dihadapi. Serangan-serangan pun bisa tak melulu melalui sisi sayap karena kini mereka bisa menyerang dari sisi tengah mengingat kreatifnya para gelandang.
Karenanya, dengan pilihan yang begitu banyak, Djadjang tak terlalu kesulitan jika ada pemain yang cedera dan Persib tetap konsisten bermain baik. Apalagi, jika Cole dan Essien mampu cepat nyetel dengan gaya permainan "Maung Bandung" dan bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.
Karena tentu amat disayangkan jika kedua pemain yang didatangkan dengan banderol milyaran rupiah itu pada akhirnya hanya berguna untuk urusan "iklan" saja. Sebab yang Persib dan para pendukungnya, Bobotoh, butuhkan bukan hanya tim yang sehat dalam segi finansial, namun juga tim yang berprestasi.
