Mario Gomez dan Filosofinya Bersama Persib Bandung

Mendarat di Bandung pada Sabtu (9/12), kehadiran Roberto Carlos Mario Gomez dianggap bisa menjadi jawaban dari permasalahan yang terjadi pada Persib Bandung musim lalu. Hanya bercokol di posisi 13 dengan raihan 41 poin dari 34 pertandingan jelas bukan hasil yang diharapkan.
Pernah berhasil membawa Johor Darul Ta’zim (JDT) menjuarai AFC Cup dan Liga Super Malaysia, harapan Bobotoh semakin tinggi dan beban Gomez pun akan semakin berat. Kendati demikian, Gomez mengaku telah mempersiapkan filosofi sepak bola yang akan diterapkannya pada Maung Bandung untuk mengarungi kompetisi musim depan.
“Soal filosofi, setiap pelatih butuh pemain cepat dan berteknik. Saya ingin pemain bagus dan saya pikir Persib mempunyai itu. Pemain lokal di sini sangat bagus. Karena saya mencari informasi dari internet dan dari pelatih lain, jadi kalau kami bisa bekerja bersama kami akan berkembang,” ucap Gomez mengutip situs simamaung.com.
Pelatih berusia 60 tahun ini percaya bahwa dalam membangun sebuah tim keseimbangan sangat diperlukan. Keseimbangan yang dimaksud ialah kekuatan yang merata dalam hal menyerang ataupun bertahan. Bila keseimbangan dapat dibangun, lanjut Gomez, Persib akan menjadi klub yang kuat.
“Kami butuh semua pemain saat menguasai bola dan tidak bisa ketika kehilangan bola hanya berjalan. Ketika kehilangan bola semua pemain harus ikut bertahan. Ketika menguasai bola semua harus ikut menyerang. Dan jika kamu lihat, sepak bola Eropa, Premier League, Liga Italia melakukan hal itu dan itu normal,” tuturnya.

“Kami tidak bisa beberapa pemain menyerang dan bertahan dan kami harus bekerja bersama. Pertama kita akan evaluasi di bekakang, setelah itu gelandang dan setelahnya baru ke depan dan kami perlu seimbang,” tandasnya.
Merintis karier bersama Hector Cuper, mantan pelatih Valencia dan Inter Milan pada medio 2000-an awal, Gomez memiliki gaya melatih yang sama dengan seniornya tersebut. Gomez sendiri merupakan pelatih yang mengutamakan aspek defensif, agar lawan mengalami kesulitan untuk menembus lini belakang. Bila Cuper terkenal dengan formasi 4-4-2 berlian, Gomez lebih gemar menggunakan 4-4-2 flat. Maka tak salah, bila Gomez mengutamakan keseimbangan pada tim yang akan diasuhnya.
