Kumparan Logo

Melihat Kembali Duel Italia vs Spanyol di Final Liga Champions

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Trofi Liga Champions. (Foto: Reuters/Pierre Albuoy)
zoom-in-whitePerbesar
Trofi Liga Champions. (Foto: Reuters/Pierre Albuoy)

Sepanjang sejarah bergulirnya Liga Champions --entah itu juga dengan nama European Cup-- Spanyol dan Italia adalah dua negara yang paling banyak menyumbangkan wakil di partai final. Kedua negara tersebut pernah menyumbangkan wakil di 27 partai final. Maka tak heran apabila dua klub dengan jumlah gelar Liga Champions terbanyak juga berasal dari dua negara tersebut.

Spanyol memiliki Real Madrid dengan 11 gelar dan menjadi klub dengan torehan gelar Liga Champions terbanyak sepanjang sejarah. Sementara dari Italia ada AC Milan yang sampai saat ini sudah mengoleksi tujuh gelar Liga Champions dan menjadi tim Italia dengan raihan gelar terbanyak di ajang tersebut.

Tak hanya itu saja. Spanyol dan Italia juga menjadi dua negara yang wakilnya paling sering bertemu di partai final Liga Champions. Tercatat, sudah tujuh kali partai final Liga Champions mempertemukan wakil Italia versus wakil Spanyol. Di mulai dari duel Real Madrid versus Fiorentina pada tahun 1957 hingga duel Barcelona versus Juventus di tahun 2015 lalu.

Tahun ini, wakil Italia dan Spanyol kembali berduel di partai final. Italia diwakili oleh Juventus sementara Spanyol diwakili oleh Real Madrid. Kedua tim akan bentrok dalam laga yang dihelat di Stadion Millenium, Cardiff, Minggu (5/6) dini hari WIB kelak. Partai tersebut sekaligus menjadi duel kedelapan antara Italia versus Spanyol di partai puncak Liga Champions.

X post embed

Sebelum partai Juventus versus Real Madrid dihelat. Ada baiknya kita kembali menoleh ke belakang. Melihat bagaimana duel Italia versus Spanyol sebelumnya di partai final. Bagaimana adu taktik, duel penuh drama, sarat gengsi tersaji dalam sebuah partai final. Kami mencoba menyajikan tiga partai final yang bisa menjadi bayangan Anda perihal betapa serunya laga yang akan dihadirkan wakil dua negara itu.

Sampdoria 0-1 Barcelona (Final Liga Champions 1992)

Petang itu, 20 Mei 1992, Wembley menjadi saksi sejarah. Stadion termegah di Inggris itu menjadi tempat dihelatnya partai final Liga Champions. Yang bertanding kala itu kebetulan adalah dua tim kejutan. Pertama adalah wakil Italia yang di musim sebelumnya menjadi kampiun Serie A, Sampdoria. Yang menjadi lawan juga berstatus juara. Mereka adalah Barcelona yang musim sebelumnya berhasil menjadi kampiun La Liga.

Kedua kesebelasan berstatus sebagai dua tim yang baru sama-sama bangkit. Sampdoria, bangkit dari status semenjana ke status sebagai tim penuh kejutan di bawah tangan dingin Vujadin Boskov. Sementara itu, Barcelona tengah berada di awal masa kebangkitan besar bersama sang maestro, Johan Cruyff.

Kedua tim melenggang ke partai final dengan begitu meyakinkan. Di babak ketiga atau babak fase grup, Sampdoria menjadi pemuncak Grup A dengan hanya satu kali kalah dan berhasil mencetak 10 gol. Barcelona juga begitu, mereka hanya satu kali kalah dan juga berhasil mencetak 10 gol. Final antara keduanya pun diyakini bakal berlangsung sengit.

Walau memang, Barcelona-nya Cruyff saat itu lebih diunggulkan. Sebabnya tentu deretan bintang yang menaungi skuat mereka. Nama-nama seperti Ronald Koeman, Josep Guardiola, Michael Laudrup, dan Hristo Stoichkov adalah deretan bintang kala itu.

Sampdoria sendiri sebenarnya tak kalah soal pemain bintang. Walau kalah gemerlap, mereka kala itu memiliki Gianluca Pagliuca, Attilio Lombardo, Gianluca Vialli, dan Roberto Mancini yang notabene pemain berkelas di Italia.

X post embed

Dan benar saja, pertandingan di Wembley berlangsung begitu ketat. Permainan "bertahan" Sampdoria membuat pasukan Cruyff yang diinstruksikan "bersenang-senang" di atas lapangan malah kebingungan. Mereka memang mampu mendominasi laga, namun tak ada gol yang didapat. Peluang dari tendangan Stoichkov hanya membentur tiang gawang.

Skor 0-0 terus menaungi laga. Permainan menumpuk Sampdoria dengan sembilan pemain di wilayah lapangan sendiri membuat Barcelona tak memiliki ruang luas untuk bergerak. Sementara usaha Sampdoria yang dominan melalui skema serangan balik juga tak bisa membuat mereka menghasilkan gol. Laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Sampai pada akhirnya, laga memasuki menit 112 atau delapan menit sebelum babak perpanjangan berakhir. Pemain pengganti Barcelona, Eusebio, dilanggar pemain belakang Sampdoria. Tendangan bebas untuk mereka di depan kotak penalti Sampdoria. Dari proses inilah gol tercipta. Tendangan gledek Koeman tak mampu dibendung Pagliuca. Barcelona menang 1-0 dan meraih gelar Liga Champions perdana mereka.

AC Milan 4-0 Barcelona (Final Liga Champions 1994)

Dua musim setelah final di Wembley itu, wakil Italia dan Spanyol kembali bersua di partai puncak Liga Champions. Kali ini, Barcelona kembali mewakili Spanyol, namun lawannya berbeda. El Barca kali ini bukan mendapat lawan yang berstatus kejutan, melainkan unggulan dalam sosok AC Milan. Final ini adalah final ideal. Duelnya dua jagoan Eropa.

Barcelona ini masih di bawah asuhan Cruyff. Mereka masih berhasil terus menguasai Spanyol dan terus menebar ancaman di Eropa. Buktinya, ini menjadi final kedua mereka dalam tiga tahun terakhir. Jelas Cruyff ingin melanjutkan kegemilangannya dengan meraih trofi "Si Kuping Lebar" untuk kedua kalinya.

Di pihak lawan, Milan tengah bangkit bersama Fabio Capello. Musim sebelumnya, mereka bahkan juga berhasil menembus partai puncak. Namun ketika itu mereka takluk dari wakil Prancis, Marseille. Tak pelak, Paolo Maldini dkk. pun ingin menebus kegagalan mereka di final kali ini.

Olympic Stadium Athena menjadi saksi duel dua unggulan ini. Semua pihak menanti duel seru kedua kesebelasan. Terlebih perjalanan keduanya menuju partai final amat meyakinkan. Pada babak fase grup, keduanya tak terkalahkan. Di partai semifinal bahkan kedua tim sama-sama mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan skor telak, 3-0.

Namun ternyata, laga final berlangsung antiklimaks. Barcelona-nya Cruyff yang mengerikan itu, terlihat seperti lelucon. Anak-anak asuh Capello begitu gemilang di sini. Penampilan penuh pressing dan umpan-umpan tajam Milan membuat Guardiola dkk. kepayahan. Babak pertama, Milan sudah unggul dengan skor 2-0 melalui dua gol bomber mereka, Daniele Massaro.

X post embed

Babak kedua, Milan semakin berjaya setelah Dejan Savicevic --yang bermain sebagai kunci serangan Milan-- mencetak gol ketiga dan Marcel Desailly menggenapkannya menjadi empat. Empat gol tanpa balas Milan menang, mereka sukses menebus kegagalan musim sebelumnya, sekaligus menuntaskan era emas Barcelona bersama Cruyff.

Juventus 0-1 Real Madrid (Final Liga Champions 1998)

Empat tahun pasca-final di Athena itu, wakil Italia dan Spanyol kembali bentrok di partai final Liga Champions. Kali ini, Amsterdam Arena yang menjadi tempat dihelatnya partai itu. Yang bertanding, bukan lagi Barcelona atau Milan. Kali ini, partai final menjadi milik Juventus dan Real Madrid. Era memang sudah berganti.

Kala itu, tak ada yang meragukan kehebatan Juventus-nya Marcelo Lippi. Bagaimana tidak, final itu adalah laga final ketiga beruntun mereka. Dua final sebelumnya, satu mereka selesaikan sebagai pemenang. Sementara satu lagi, yang berlangsung tepat satu musim sebelum duel di Amsterdam, Juventus harus mengakui keunggulan Borussia Dortmund.

Kekuatan Juventus masihlah sebuah kekuatan besar di Eropa. Tengok saja bagaimana komposisi pemain mereka. Didier Deschamps di lini tengah, mendapat partner sepadan dalam sosok Edgar Davids dan tentunya, Zinedine Zidane. Di lini depan, duet dua striker Italia, Alessandro Del Piero dan Filippo Inzaghi, amat ditakuti lawan-lawannya.

Sementara itu, Madrid ketika itu tengah menapaki kebangkitan. Di bawah asuhan Jupp Heynckes, Madrid baru memulai era Galaticos mereka. Lewat tim yang berisikan Roberto Carlos, Christian pauncci, Fernando Hierro, Fernando Redondo, Christian Kerembeu, Raul Gonzales, hingga Fernando Morientes, dan Clarence Seedorf, Madrid amatlah menakutkan.

X post embed

Namun Juventus, sebagai dua finalis di dua edisi awal, sedikit lebih diunggulkan kala ini. Namun justru, Madrid yang berhasil mendominasi partai ini sejak awal. Pasukan Heynckes yang tampil dengan beban lebih "ringan" mampu membuat Juventus kepayahan. Walau magis dari Del Piero dan Zidane terus ditunjukkan, namun Juventus tak mendapat keberuntungan.

Dan petaka untuk mereka tiba di menit 66. Aksi Predrag Mijatovic yang berhasil mengecoh kiper Juventus, Angelo Peruzzi, sebelum menceploskan bola dari jarak dekat, berhasil membuat Madrid unggul. Usaha-usaha Juventus tak berbuah manis setelahnya. Final ini jadi milik Madrid dan Juventus harus menelan pahit untuk kedua kalinya secara beruntun.

X post embed