Melucuti Ketakutan Gianluca Vialli, Menginspirasi Pengidap Kanker

Terselip misi khusus ketika Gianluca Vialli ketika merilis buku berjudul "The Italian Job" pada 2006. Lewat buku yang ditulis oleh Gianluca Marcotti ini, Vialli tak cuma ingin menceritakan bagaimana perbedaan sepak bola Italia dan Inggris, tetapi juga menginspirasi serta membantu para pengidap kanker.
Seluruh uang hasil penjualan buku disumbangkan Vialli ke organisasi bernama Fondazione Vialli e Mauro per la ricerca e lo sport. Organisasi ini didirikan oleh Vialli bersama eks rekan setimnya di Juventus, Massimo Mauro, demi mengumpulkan dana penelitian kanker.
Memang begitu besar empati Vialli terhadap penderita kanker. Terlihat dari betapa intens kehadirannya dalam acara-acara amal yang digelar Fondazione Vialli e Mauro per la ricerca e lo sport.
Namun, Vialli tetaplah manusia biasa. Dia bahkan terbiasa dengan kesempurnaan sepanjang kariernya di lapangan hijau. Sangat komplet kemampuannya sebagai penyerang, mulai dari mencetak gol dengan seluruh tubuh, menggiring bola, sampai melepaskan umpan kunci.
Pun demikian menyoal prestasi. Dialah satu dari sedikit pemain Italia yang pernah memenangi tiga turnamen bentukan UEFA: Liga Champions, Piala UEFA (kini Liga Europa), dan Piala Winners.
Karena melulu menjadi sosok yang istimewa, Vialli begitu terguncang ketika ada cela dalam hidupnya. Lihat saja bagaimana dia merespons diagnosis bahwa dirinya merupakan salah satu pengidap kanker. Hanya ada ketakutan dalam benak Vialli.
"Sulit untuk menceritakannya kepada orang lain, termasuk keluarga. Saya tak mau menyakiti orang-orang yang memberikan cinta: orangtua, saudara, Cathryn istri saya, dan anak-anak perempuan kami, Olivia serta Sofia," tutur Vialli.
"Saya ingin mengenakan jaket sehingga tak seorang pun menyadarinya dan tetap melihat saya sebagai Vialli yang mereka kenal sebelumnya," kata dia.
Adalah buku "Wins, Losses, and Lessons: An Autobiography" yang menggugah Vialli. Tertulis dalam buku karya eks pemain American Football, Lou Holtz, ini bahwa manusia adalah hasil dari pikirannya sendiri. Tertulis pula kutipan bijak yang berbunyi: 10% hidup ditentukan oleh apa yang terjadi terhadap manusia dan 90% menyoal bagaimana individu menyikapinya.
Dari situ, Vialli memetik pelajaran bahwa bersembunyi masalah bukanlah solusi. Karena cepat atau lambat, orang-orang pasti melihat perubahan dari kondisi fisiknya. Ya, meski tidak disebutkan jenis dan tingkatan kanker yang dideritanya, penyakit ini sudah berlangsung lama. Bahkan, sosok 54 tahun ini telah menjalani kemoterapi selama delapan bulan dan menghabiskan enam pekan terakhir dengan radioterapi.

Per Senin (26/2), Vialli pun berani menjelaskan kondisi sebenarnya kepada publik. Pendengar pertama adalah jurnalis Corriere dello sport, Aldo Cazzullo, yang mewawancarainya secara eksklusif.
"Sudah setahun berlalu dan saya kembali mengalami kondisi fisik yang buruk. Entah bagaimana pertandingan ini akan berakhir. Namun, keberanian diperlukan dalam hidup. Itulah yang saja pelajari. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk menceritakan kisah ini dan menuliskannya dalam buku. Saya berharap bisa menginspirasi orang-orang dalam periode sulit," tuturnya.
Belum diketahui judul dan kapan buku kedua Vialli akan diterbitkan. Setidaknya Vialli telah membuktikan bahwa dirinya tetaplah Vialli yang dulu. Bukan Vialli yang terbelenggu dalam ketakutan akan penyakit, melainkan Vialli yang berani muncul untuk menginspirasi para pengidap kanker melalui buku.
