Kumparan Logo

Memandang Atletico Madrid, Penantang Dominasi Barcelona di La Liga

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atletico menang atas Athletic. (Foto: Reuters/Vincent West)
zoom-in-whitePerbesar
Atletico menang atas Athletic. (Foto: Reuters/Vincent West)

Barcelona tak lagi 'adem ayem' di puncak klasemen La Liga. Tentu bukan Real Madrid yang jadi penyebabnya, karena rival abadinya itu terpaut 14 angka dari mereka. Yang perlu mereka khawatirkan adalah Atletico Madrid.

Ya, Atletico jadi penantang paling dekat bagi Barcelona. Enam kemenangan beruntun yang diraih Atletico di La Liga membuat jarak mereka dengan El Barca kini tinggal empat poin saja.

Sebelum mencapai titik ini, Atletico mengawali start yang buruk. Memang mereka tak pernah menelan kalah hingga pekan ke-17 --saat takluk 0-1 dari Espanyol--, tetapi sebagian besar waktu mereka dihabiskan dengan bermain imbang. Enam dari 12 pertandingan awal mereka akhiri dengan torehan satu poin. Konsistensi baru mereka dapatkan saat menyentuh pekan 14. Itulah awal saat tim besutan Diego Simeone tersebut mulai intens menempati pos tiga besar.

Sejatinya, tak ada perubahan siginifikan dari Atletico di musim ini. Simeone masih setia dengan format dasar 4-4-2, atau 4-4-1-1 pada praktiknya. Tak ada juga yang berkurang dari kokohnya barisan pertahanan mereka.

Hingga akhir tahun lalu, cuma delapan gol gawang yang menjebol gawang Jan Oblak --rasio 0,3 gol per laganya. Atletico bahkan sukses meredam agresivitas Barcelona di pekan kedelapan. Hanya satu gol yang berhasil disarangkan Blaugrana pada laga yang dihelat di Wanda Metropolitano itu. Padahal Los Cules sukses mencatatkan 2,7 gol pada tiap pertandingan di La Liga sejauh ini.

Selebrasi Griezmann. (Foto: REUTERS/Jon Nazca)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi Griezmann. (Foto: REUTERS/Jon Nazca)

Yang jadi pangkal masalah Atletico adalah ketergantungan mereka akan sosok Antoine Griezmann sebagai pencetak gol utama. Hingga saat ini, Griezmann masih berdiri kokoh sebagai penyumbang gol terbanyak bagi timnya lewat koleksi 15 gol. Sebagai perbandingan, torehan tersebut masih lebih banyak dari kalkulasi gol Angel Correa (6 gol) dan Kevin Gameiro (5 gol) yang berada di peringkat kedua dan ketiga.

Atletico boleh dibilang mengandalkan kemampuan individu pemain untuk mendulang peluang. Itulah mengapa mereka terlalu bergantung pada karakter macam Griezmann yang memiliki skill individu mumpuni. Sialnya, rencana semacam ini tak akan berjalan mulus andai pemain berusia 26 tahun itu tampil di bawah harapan.

Di samping itu, buruknya pemanfaatan peluang juga menjadi faktor terseok-seoknya Atletico di awal musim. Laga melawan Qarabag di fase grup Liga Champions menggambarkan betapa buruknya penyelesaian akhir mereka. Betapa tidak, dari 35 tembakan yang dilepaskan Aletico, hanya satu yang berbuah gol --itu pun lahir dari Thomas Partey yang notabene merupakan gelandang bertahan. Masalah pelik itu yang kemudian membuat mereka terlempar dari Liga Champions dan kini cuma berkompetisi di Liga Europa.

Selain itu, kekalahan 0-1 dari Espanyol cukup merepresentasikan betapa rendahnya agresivitas mereka. Hanya satu tembakan Gameiro --yang masuk di babak kedua-- yang mengarah ke gawang. Fernando Torres dan Griezmann lebih parah lagi, karena nihil dalam jumlah tembakan. Instruksi Pelatih Espanyol, Quique Sanchez Flores, untuk menghentikan Griezmann yang intens beroperasi di sisi kanan menjadi salah satu faktor buruknya Atletico pada laga tersebut. Buktinya, empat kali Griezmann kehilangan penguasaan bola pada laga itu, terbanyak kedua setelah Correa.

Meski begitu, tak adil rasanya membebankan tanggung jawab kepada Griezmann semata sebab Gameiro yang diplot sebagai tandemnya juga tampil angin-anginan. Pun demikian dengan Correa yang juga diplot sebagai duet Griezmann, selain beroperasi di posisi aslinya sebagai winger.

Dua winger lainnya, yakni Yannick Ferreira-Carrasco dan Nico Gaitan yang baru dilepas ke klub asal China, Dalian Yinfang, juga tak memberi dampak signifikan. Oleh karena itu, kepergian mereka juga tidak memberi pengaruh besar pada Atletico. Tanpa keduanya, Atletico masih memiliki Koke, Saul Níguez, Vitolo, dan Correa untuk mengisi pos tepi.

Yang jadi titik balik dari performa Atletico di musim ini adalah kembalinya Diego Costa di bursa transfer Januari lalu. Seperti yang diutarakan di atas, problem mereka adalah candu akan sosok Griezmann. Nah, kehadiran Costa ini bukan hanya memudahkan tugas Griezmann, tapi juga memberikan opsi lain di lini depan. Buktinya, pemain berdarah Brasil itu sukses menyumbangkan dua gol dan satu assist dalam tiga laga termutakhir.

Diego Costa di laga melawan Bilbao. (Foto: REUTERS/Javier Barbancho)
zoom-in-whitePerbesar
Diego Costa di laga melawan Bilbao. (Foto: REUTERS/Javier Barbancho)

Dengan performa seperti ini, kans Atletico untuk mengulangi kesuksesan mereka saat menjuarai La Liga pada edisi 2013/2014 silam cukup besar. Ibarat sebuah film, laga kontra Barcelona akhir pekan ini jadi plot paling penting demi merealisasikan happy ending ala mereka. Jika Atletico berhasil menjungkalkan Lionel Messi dan kawan-kawan, langkah mereka akan mulus ke depan.

Madrid memang akan menanti mereka di pekan ke-31 dan berpotensi jadi batu sandungan. Namun, virus inkonsistensi yang tengah menjangkit Los Blancos bisa saja memudahkan Atletico.

So, akankah Atletico berhasil mendongkrak dominasi Barcelona di musim ini?