Memberi Aplaus untuk Musim Isco

Kisah Isco Alarcon Suarez adalah cerita ideal seorang atlet. Dari dikabarkan bakal dilego, ia membuktikan bahwa dirinya adalah bagian penting dari klubnya yang tak bisa disingkirkan begitu saja.
Percayalah, perkara “zero to hero” seperti itu selalu menjadi romansa tersendiri dalam olahraga manapun. Jika tidak, Hollywood barangkali tidak akan terus mereproduksi film dengan tema-tema serupa. Dan, kita akui sajalah, melihat para underdog mematahkan sederet pandangan miring memang menyenangkan, bukan?
Dalam sudut pandang yang lebih klise, mematahkan pandangan miring ataupun kritik selalu dijadikan alasan seorang atlet manakala mereka meraih kesuksesan. Tidak sedikit yang mengatakan, kritik malah membuat mereka makin menggila. Bahkan beberapa produk apparel olahraga menggunakan narasi serupa untuk menjadi tema iklan mereka.
Lalu, tersebutlah Isco.
[Baca Juga: Hadiah untuk Pria Sabar Bernama Isco]
Datang dari Benalmádena, sebuah kota dari tepi pantai di Andalusia sana, Isco mencuat sebagai salah satu pemain muda berbakat yang pernah dilahirkan Spanyol. Dari kecepatan, dribel yang yahud, hingga kemampuan melepas operan dengan akurat, Isco punya semuanya.
Dua musim bermain untuk Malaga, Isco mencatatkan 69 penampilan dan mencetak 14 gol. Sebagai gelandang serang, kemampuan kompletnya itu menggoda Real madrid untuk menggaetnya. Lalu, dengan kibasan fulus sebesar 30 juta euro, ia pun hengkang ke ibukota.
Tapi, jalan Isco bersama Madrid memang tidak pernah mudah, bahkan sedari awal. Ketika datang, formasi 4-3-3 yang diterapkan Carlo Ancelotti tidak cocok dengan gaya mainnya. Pada beberapa kesempatan, Isco bahkan dipasang sebagai deep-lying playmaker yang juga mengharuskannya untuk ikut membantu pertahanan.
Tak heran jika saban musim, selalu muncul kabar bahwa ia akan dilego. Tidak terkecuali musim ini. Bersama James Rodriguez, gelandang berusia 25 tahun tersebut disebut-sebut jadi beberapa pemain yang akan dilepas begitu musim 2016/2017 selesai.
Tapi, berbeda dengan James, Isco adalah seorang pembeda. Oleh karenanya, kendatipun banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan, pelatih Madrid, Zinedine Zidane, terbiasa menoleh ke arahnya manakala timnya mengalami kebuntuan. Total, hanya 5 kali Isco bermain penuh di La Liga musim ini.
Sepanjang musim 2016/2017, Isco memang baru mengkreasikan 38 kans di La Liga, jauh lebih sedikit daripada James yang mengkreasikan 44 peluang. Tetapi, ya, itu tadi… Tiap kali dimainkan, Isco bisa menjadi pembeda. Tidak terkecuali di final Liga Champions beberapa pekan lalu, di mana ia memainkan peran sebagai gelandang serang di belakang dua striker.
Di bawah arahan Zidane, yang biasa memainkan formasi 4-3-3 ataupun 4-4-1-1, Isco bersinar. Formasi 4-3-3 Zidane biasa diubah sedikit menjadi 4-3-1-2 untuk mengakomodasi Isco yang bermain di belakang dua penyerang. Sementara pada formasi 4-4-1-1, Isco biasa bermain di belakang seorang penyerang tunggal.
Namun, dimainkan sebagai penyerang sayap pun ternyata Isco cukup oke. Ini diperlihatkannya ketika memperkuat Spanyol pada laga melawan Makedonia, Senin (12/6/2017) dini hari WIB. Pada laga yang dimenangi Spanyol 2-1 itu, Isco menyumbang satu assist dan bermain apik sebagai penyerang sayap sebelah kanan.
“Saya mengakhiri musim dengan amat baik. Kepercayaan diri adalah kunci bagi siapapun. Dari awal musim ini, saya selalu merasa nyaman,” ujar Isco seperti dilansir Soccerway.
Tak ayal, dari yang tadinya dikabarkan bakal pergi meninggalkan Madrid, kini kita justru harus memberi aplaus kepadanya. Tak lama setelah laga melawan Makedonia selesai, Isco pun turut menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat untuk hengkang.
Oke, kalau begitu. Kita tunggu lagi permainanmu musim depan…
