Memindai Peran yang Cocok bagi Osas Saha di Persija

Putaran pertama Liga 1 belum usai, tetapi Persija Jakarta telah mengambil ancang-ancang untuk menempuh putaran kedua yang bakal berlangsung Juli mendatang. Satu per satu pembenahan sudah mulai mereka jajaki. Salah satunya adalah mendatangkan amunisi baru.
Pada Mei lalu, klub berjuluk ‘Macan Kemayoran’ itu resmi mengumumkan Osas Marvelous Saha sebagai rekrutan anyar mereka yang akan bergabung setelah bursa transfer tahap kedua dibuka pada 5 Juli sampai 3 Agustus nanti.
Ada dua hal yang melatarbelakangi manajemen Persija untuk mendaratkan pemain kelahiran Warri itu ke Ibu Kota: kebutuhan tim dan rekam jejak. Faktor yang disebut terakhir sudah disepakati oleh pelatih Persija, Stefano Cugurra.
Tak heran bila Teco –sapaan akrab Stefano- menyambut kedatangan Osas dengan antusiasme yang tinggi. Menurut pelatih kelahiran Brasil ini, perjalanan karier Osas di Indonesia yang tak bisa dipandang sebelah mata dan tak boleh diragukan.
"Saya pikir dia bisa bantu (tim). Tentunya, kedatangannya bisa membuat tim ini lebih kuat di depan. Kami punya pilihan di lini depan. Apalagi saat ini kami butuh pemain baru yang lebih bagus dari (pemain) yang ada saat ini. Semua informasi mengenai dia cukup bagus," ucap Teco mengutip laman resmi klub.
Osas sudah menjejak karier di Indonesia sejak musim 2008/2009. Saat itu, pemain naturalisasi asal Nigeria ini bergabung dengan PSDS Deli Serdang. Dia mencetak 11 gol dari 21 laga pada musim pertamanya menjejak Indonesia. Satu catatan yang bisa menggambarkan jika pemain berusia 31 tahun itu cepat untuk beradaptasi.
Karier Osas terus menanjak. Klub-klub besar dan bersejarah Tanah Air macam PSMS Medan dan Semen Padang sempat menggunakan jasanya. Namun, performa terbaik Osas tersaji pada musim 2010/2011 kala dia membela PSAP Sigli. Saat itu, eks pemain Chykes Davies ini mengoleksi 29 gol dari 26 laga.

Rekam jejak yang apik itu tak bisa dilepaskan dari gaya bermain Osas. Osas bukanlah penyerang dengan tipikal statis. Dia memilih untuk turun ke halfspace atau bergerak ke tepi lapangan demi mencari ruang dan memecah konsentrasi pertahanan lawan. Kekhasan tersebut ditopang oleh kualitas dribel bola yang baik.
Osas juga merupakan penyerang yang tak berbelit dalam mengakhiri serangan. Ketika punya ruang yang baik di area kotak penalti, dia langsung melepas tembakan. Nilai plus dia tak berhenti sampai situ. Kepiawaian dia dalam menahan bola bisa memberi waktu kepada rekan-rekannya untuk mencari ruang.
Di balik itu, Osas punya sisi negatif. Dia terakhir bermain pada turnamen Piala Presiden 2018 ketika membela PSPS Riau. Dengan kata lain, dia tak memiliki menit bermain yang bagus musim ini. Maka itu, kebugaran dan kondisi fisik Osas diragukan.
Meski demikian, Teco sudah punya treatment untuk membenahi sisi negatif yang melekat pada Osas dengan proses adaptasi yang lebih lama.
“Dia lebih bagus datang cepat. Dia butuh waktu untuk adaptasi dengan tim. Sekaligus langsung bisa mengenal teknik dan taktik. Apalagi kami melihat kondisi (fisiknya) lebih dulu, kemudian evaluasi fisik. Karena terakhir kali dia main di Piala Presiden (bersama PSPS Riau), dia sudah terlalu lama tidak bermain," ucap Teco.
Lantas yang jadi pertanyaan kini, di manakah posisi yang tepat bagi Osas?
Melihat beberapa pertandingan terakhir Persija, Teco mulai berpaling dari skema dasar 4-3-3 dan mencoba menerapkan 4-4-2. Dua pemain depan yang diturunkan oleh Teco secara bersamaan punya tugas dan ruang bergerak yang berbeda. Singkatnya, akan ada pemain yang berperan sebagai target man dan second striker.
Pemain yang berperan sebagai target man akan berada paling dekat dengan gawang lawan. Sang pemain tak cuma dituntut untuk pandai dalam mencetak gol, melainkan menahan bola, dan menjadi pemantul serangan untuk menciptakan ruang bagi pemain lainnya demi merangsek masuk ke dalam kotak penalti.
Pemain depan seperti ini harus juga punya postur tubuh yang tinggi untuk melakukan duel udara di dalam area 16 lawan. Sebab, Teco masih menerapkan sodoran umpan silang sebagai salah satu opsi untuk mengakhiri serangan. Melihat tugas dan atribut yang wajib dimiliki seorang target man, Persija sudah punya Marko Simic.
Sedangkan, pemain yang berperan sebagai second striker harus cakap menahan bola dan menyodorkan umpan terobosan ke dalam kotak penalti ataupun operan daerah ke tepi lapangan. Hal lain yang tak boleh luput adalah visi bermain dan penempatan posisi.
Melihat hal itu, Osas tampaknya layak berperan sebagai second striker. Dia piawai mencari ruang, punya visi bermain yang oke, kemampuan dribelnya yang tak boleh diragukan. Pun demikian dengan akurasinya saat melepaskan umpan.
Kini, yang jadi pertanyaan, apakah Teco bakal memercayai Osas untuk menjadi second striker Persija di setiap laganya?
