kumparan
25 Mei 2018 17:50 WIB

Menari bersama Roger Milla, Singa Tua Penyelamat Afrika di Piala Dunia

Roger Milla (Foto: Antonio Scorza/AFP)
Karena Piala Dunia adalah pesta, maka Roger Milla merayakannya dengan menari di sudut lapangan.
ADVERTISEMENT
Gelak tawa dan sorak-sorai para penonton tidak berhenti bahkan setelah selebrasi gol itu usai. Milla tidak sedang ada di atas panggung. Kakinya menjejak di tanah. Ia menari di lapangan bola, mirip dengan yang biasa dilakukan orang-orang Afrika. Milla mencetak dua gol yang meloloskan Kamerun ke babak 16 besar Piala Dunia 1990, maka Milla tak boleh tak menari.
Orang-orang Afrika merayakan banyak hal dengan tarian. Mereka tidak membutuhkan panggung, karena mereka ingin tetap dekat dengan Bumi. Kaki-kaki mereka bergerak lincah diikuti dengan gerakan pinggul yang tak kalah ceria mengikuti irama rancak.Gerakan-gerakannya terlihat sederhana, walau bila dipraktikkan, tidak semudah yang terlihat.
Dalam The Impact of African Dance dijelaskan, di kehidupan masyarakat Afrika setiap tarian bersifat holistik. Artinya, tarian itu tidak terpotong atau terpisah dari kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Tarian digunakan untuk memfasilitasi semua fenomena dalam sebagaian besar masyarakat Afrika. Uniknya, setiap tarian memiliki gaya dan gerakannya sendiri yang mencerminkan budaya kelompok atau etnis tertentu.
Menilik teori semiotika Roland Barthes, tarian memiliki fungsi komunikasi. Ada pesan yang ingin disampaikan lewat setiap gerak yang ada dalam tarian, termasuk tarian Afrika. Menggabungkan pandangan Barthes dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Afrika, sebagian besar tarian Afrika bersifat komunikatif dan partisipatif.
Artinya, para penari tak ingin tarian hanya menjadi milik mereka. Yang mereka inginkan, apa pun yang mereka sampaikan lewat tarian dapat dikhidmati oleh para penonton, sehingga bukannya tak mungkin mereka yang tadinya hanya menonton malah ikut menari bersama para penari.
ADVERTISEMENT
Terkecuali tarian-tarian spiritual, tarian Afrika dicirikan dengan gerakan kaki, lutut, tangan, dan pinggul dalam mode ritmik yang sebenarnya dapat dikoordinasikan dengan gaya untuk mengomunikasikan pesan. Umumnya, tarian mencerminkan kreativitas, kecerdasan, dan selera humor yang kaya dari orang-orang Afrika.
Tak ada yang menyangka Kamerun benar-benar dapat berbicara di perhelatan Piala Dunia 1990. Bergabung bersama Argentina, Rumania, dan Uni Soviet, Kamerun membuktikan bahwa dunia pantas menghormati sepak bola Afrika.
Argentina yang liar dan beringas di lapangan bola itu dikalahkan dengan skor 1-0. Begitu pula dengan Rumania yang harus menanggung kekalahan 1-2 dari Kamerun. Laga melawan Rumania ini juga menjadi bukti bahwa ungkapan tua-tua keladi memang berlaku untuk Milla.
Sebabnya, Milla-lah yang dua kali menjebol gawang Rumania. Lantas, berlarilah Milla ke sudut lapangan. Menggoyangkan pinggul dan kakinya dengan riang. Teman-temannya mengikuti. Tak peduli siapa pun yang menjadi penonton, seketika stadion dipenuhi dengan kegembiraan dan kehangatan khas Afrika.
ADVERTISEMENT
Pertandingan Kamerun melawan Kolombia di babak 16 besar menjadi salah satu pertandingan yang paling dikenang di sepanjang sejarah Piala Dunia. Dua negara yang kental dengan unsur-unsur surelis beradu kuat, menjadi yang tercepat melesakkan gol.
Kamerun di Piala Dunia 1990 (Foto: STAFF / AFP)
Fragmen bersejarah itu terjadi di menit 108. Milla mencetak gol penentu kemenangan. Sebenarnya, ada dua gol yang berhasil dibukukan Milla di laga itu. Yang pertama di menit 106, yang kedua, dua menit setelahnya.
Namun dibandingkan yang pertama, yang kedua memang terkesan lebih meriah. Gol itu adalah hasil kawin silang antara kepiawaian teknik, keberanian, dan keberuntungan Milla dengan kepongahan penjaga gawang lawan, Rene Higuita.
Sebagai penjaga gawang, Higuita memang terkenal sureal. Saat penjaga gawang lain memilih untuk menyelamatkan gawang dengan menjatuhkan diri dan menangkap bola, ia memilih untuk menangkis tembakan lawan dengan melompat sambil menekuk kedua kakinya ke atas. Benar, gaya kalajengking yang masyhur itu.
ADVERTISEMENT
Beberapa saat sebelum gol itu lahir, Higuita terlihat memainkan bola di luar kotak penalti. Apesnya, bola itu berhasil dirampas oleh Milla. Tanpa ragu, Milla langsung melepaskan tembakan ke arah gawang yang sudah tak dikawal siapa pun. Apa boleh buat, pintu ke babak perempat final terbuka bagi Kamerun.
Bila gol yang mengantarkan Kamerun ke babak 16 besar saja dirayakan Milla, apalagi gol yang menghadiahi mereka dengan tiket babak perempat final. Beberapa detik setelah gol tersebut disahkan wasit, Milla berlari ke tiang sudut.
Tarian jenakanya itu dipertontonkan kembali di tanah Italia. Gerakannya yang sederhana tak berarti tanpa magi. Keberadaannya memantik keriaan murni, keriaan yang sudah lama tak muncul di atas lapangan bola profesional.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, walaupun gerakannya terlihat lucu, tarian Afrika (apa pun nama tarian yang ditunjukkan Milla saat itu) tidak bertujuan untuk menertawakan pihak lain. Dalam hal ini, Kolombia sebagai kubu yang kalah.
Laiknya tarian Afrika yang sanggup menjadi media komunikasi para penari dengan penontonnya, tarian Milla itu juga bermaksud untuk merayakan apa-apa yang berhasil diraih Kamerun di Piala Dunia 1990. Lewat tarian yang jadi perayaan golnya itu Milla ingin menyampaikan: Hanya karena jalan saya dan Kamerun tak mudah, bukan berarti kami menyerah sebelum bertanding.
Langkah Milla sebagai pesepak bola benar-benar tak mulus. Lahir pada 1952 di Kamerun, Milla menjalani masa kecilnya seperti kebanyakan bocah Afrika. Cintanya pada sepak bola lahir dalam permainan di tanah-tanah kosong ataupun sudut-sudut kota.
ADVERTISEMENT
Milla tidak membiarkan kecintaannya pada sepak bola luntur dimakan usia dan realita. Sejak remaja, ia memutuskan untuk menjadi pesepak bola profesional.
Bukan jalan yang mudah, terlebih saat ia memutuskan untuk merantau ke Eropa dan bermain di klub Prancis. Langkahnya sempat gontai, tapi ia tak berhenti. Sebelum berlaga di Prancis, Milla tercatat sebagai pesepak bola untuk klub Kota Douala, Leopold de Douala. Di sini, ia menjadi tumpuan utama.
Selama tiga tahun, ia bertanding di 117 partai dan mencetak 89 gol. Bandingkan dengan dua tahun pertamanya di Prancis, saat ia hanya turun lapangan 28 kali dan mencetak enam gol. Di tahun ketiganya di Prancis, situasi tak bertambah baik. Selama semusim ia hanya bermain 17 kali dan mencetak dua gol. Beruntung tahun keempatnya di Prancis berbicara lain.
ADVERTISEMENT
Namun, seburuk-buruknya Prancis, ia pulalah yang mendekatkan Milla dengan Timnas. Karena nasib baik akan mendekat kepada siapa pun yang tak mau menyerah, nama Milla juga masuk dalam skuat Timnas Kamerun 1978.
Kamerun vs Kolombia, Piala Dunia 1990. (Foto: STAFF / AFP)
Di Timnas pun, jalannya tak mudah. Kamerun sempat berlaga di Piala Dunia 1982, tapi kandas di fase grup. Lantas, hanya karena tak lolos kualifikasi Piala Dunia 1986 di Meksiko bukan berarti Kamerun berhenti menatap Piala Dunia 1990 di Italia.
Di tengah gencarnya upaya dan tingginya tekad, Kamerun tertimpa masalah baru. Milla memutuskan untuk pensiun dari Timnas pada 1988. Persoalan keluarga menjadi sebab utama. Di tahun tersebut, sang ibu meninggal dunia saat Milla sedang bersama Timnas melakoni laga tandang melawan Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
Berembuslah kabar, Milla mengundurkan diri karena menilai Federasi Sepak Bola Kamerun gagal menjaga ibu dan keluarganya saat ia melakoni laga tandang. Selain itu, istri Milla juga tengah mengandung. Milla menegaskan, ia tak ingin kehilangan orang yang dicintainya saat ia sibuk berlaga bersama Timnas.
Tahun 1990, Kamerun dilimpahi sukacita yang teramat sangat. Sebabnya, mereka dapat kembali berlaga di Piala Dunia. Di tengah gegap gempita itu, opini berkembang di Kamerun. mereka menilai perlu untuk tetap memasukkan nama Milla dalam deretan skuat Timnas yang akan berlaga di Italia.
Media massa tak kalah heboh. Pemberitaan tentang Milla yang kembali berlaga bersama Timnas di Piala Dunia menjadi gencar. Padahal waktu itu, Milla belum mengiyakan tawaran untuk kembali bergabung bersama Timnas.
ADVERTISEMENT
Lucunya, pelatih Timnas Kamerun saat itu, Valerie Nepomniachi, juga langsung memasukkan nama Milla dalam daftar skuat. Menurut pelatih asal Uni Soviet itu, usia Mila yang sudah mencapai 38 tahun bukan masalah.
Pengalaman Milla yang pernah membela Kamerun di gelaran Piala Dunia dibutuhkan. Keberadaannya dinilai bisa melahirkan harmoni tim dalam menghadapi turnamen dengan prestise dan beban berat seperti Piala Dunia.
Yang ikut-ikutan membujuk Milla untuk kembali bergabung dengan Timnas bukan hanya sang pelatih dan federasi. Presiden Kamerun saat itu, Paul Biya, sampai harus turun tangan. Kabarnya, sang presiden menelepon Milla dan memintanya secara pribadi untuk menerima tawaran Timnas.
Setelahnya banyak orang yang percaya bahwa comeback Milla bersama TImnas didasari oleh pembicaraannya bersama sang presiden. Namun demikian, Milla menyangkal bahwa pembicaraan dengan Biya yang mendorongnya untuk terbang ke Italia. Menurut Milla, ia kembali ke timnas karena merasa terpanggil oleh keinginan seantero negeri.
ADVERTISEMENT
Atas segala pengalaman tak mudah yang dialaminya itu, Milla ingin merayakan keberhasilannya dan tim melangkah ke perempat final Piala Dunia 1990. Walaupun mengangkat predikat 'dunia', tak semua negara bisa bertanding di Piala Dunia, terlebih negara-negara Afrika. Dibandingkan dengan negara-negara Eropa, apa, sih, yang bisa dilakukan Afrika saat itu?
Pertanyaan itu dijawab Milla dengan dua gol ke gawang Rumania yang merupakan wakil Eropa dan dua gol ke gawang Kolombia yang merupakan wakil Amerika Selatan. Eropa dan Amerika Selatan menjadi peta kekuatan terbaik sepak bola dunia.
Lewat gol-gol kemenangannya itu, Milla mencerabut doktrin yang terlanjur mengakar, bahwa Afrika tak bisa berbuat apa-apa bila maju ke pentas dunia. Keberhasilan itulah yang dirayakannya dengan gembira.
ADVERTISEMENT
Dan sebagai orang Afrika, Milla tak ingin agar kegembiraan itu menjadi milik Kamerun saja. Maka, ia menari.
Ia ingin agar siapa pun yang menyaksikan laga dan selebrasinya itu ikut larut dalam perayaan kegembiraan ala orang-orang Afrika. Serupa tarian-tarian Afrika yang mahir mengaburkan batas antara penonton dan penari, bermula dari sudut lapangan itu pulalah, batas antara penonton dan pesepak bola menjadi lindap.
Pesan yang disampaikan Milla lewat tariannya itu tak cuma tentang keberhasilan Kamerun mencapai perempat final Piala Dunia 1990. Lewat keriaannya itu Milla juga ingin merayakan kemenangannya atas kepercayaan yang melekat pada sepak bola.
Pada umumnya, kompetisi sepak bola tak memberi tempat pada pemain-pemain usia tua macam Milla. Namun, lewat permainannya Milla menjugkalkan kepercayaan itu. Lewat gol-golnya, Milla menegaskan, walaupun saya sudah berusia 38 tahun, bukan berarti saya kalah dengan anak-anak muda.
ADVERTISEMENT
Perayaan yang ingin disampaikan Milla juga menyoal keberhasilan sepak bola Afrika bertepatan dengan lolosnya Kamerun ke babak perempat final. lewat keberhasilan itu, jatah Afrika di Piala Dunia di tahun setelahnya bertambah. Tadinya, mereka hanya memiliki jatah tiga pemain, tahun 1994, ada empat tempat yang diberikan kepada negara-negara Afrika.
Kamerun memang kalah 2-3 melawan Inggris di perempat final. Namun demikian, sukacita mereka tak lenyap begitu saja. Sepak bola merayakan pencapaian Kamerun. Dunia ikut hanyut dalam kegembiraan yang dibawa Kamerun lewat tarian Milla di sudut lapangan.
Keriaan yang tak dibuat-buat Milla ini pantas menjadi abadi. Setidaknya, itulah yang ditangkap dengan baik oleh Coca-Cola.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan