Kumparan Logo

Mencari Jalan Terang untuk Javier Pastore

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pastore pada laga melawan Lyon. (Foto: Reuters/Emmanuel Foudrot)
zoom-in-whitePerbesar
Pastore pada laga melawan Lyon. (Foto: Reuters/Emmanuel Foudrot)

Bukan Lionel Messi, bukan Cristiano Ronaldo, tetapi Javier Pastore. Bagi Eric Cantona, gelandang serang Paris Saint-Germain (PSG) itu adalah pemain terbaik dunia.

"Aku menonton dua pertandingan PSG hanya untuk menyaksikannya. Bagiku, dia adalah pemain paling kreatif saat ini. Pastore adalah pemain yang sarat kejutan. Aku benar-benar menyukai pemain macam ini," kata Cantona.

Ucapan Cantona itu sudah cukup lama terlontar, tepatnya pada April 2015 silam. Ketika itu, PSG sedang berada di bawah asuhan Laurent Blanc. Musim itu, semua gelar domestik di Prancis--Ligue 1, Coupe de France, dan Coupe de la Ligue--berhasil disapu bersih oleh Les Parisiens. Sementara, di Liga Champions, babak perempat final berhasil ditembus.

Sampai pada titik itu, Pastore memang masih menjadi sosok tak tergantikan di PSG. Total, 51 pertandingan dijalani Pastore pada musim tersebut. Dari sana, dia sukses menyumbangkan 6 gol dan 16 assist. Boleh dibilang, musim itu merupakan musim terbaik Pastore selama berkarier sebagai pesepak bola profesional.

Akan tetapi, situasinya kini sudah tak sama. Praktis sejak musim 2015/16 bergulir, Pastore tak lagi berstatus pemain utama PSG. Jumlah penampilan per musimnya pun mentok di angka 20-an. Tidak pernah lebih. Kini, memasuki pertengahan musim 2017/18, Pastore pun disebut-sebut sudah berada di ambang pintu keluar Parc des Princes.

Dalam pernyataannya itu, Eric Cantona benar. Javier Pastore memang merupakan pemain penuh kejutan. Sebagai gelandang serang yang bermain di belakang striker, atribut demikian memang sudah seharusnya dimiliki oleh Pastore. Tanpanya, dia memang tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Pasalnya begini. Kejutan-kejutan yang dia hadirkan lewat perpaduan visi dan teknik itu memang merupakan senjata utama Pastore di lapangan hijau. Dia tidak cepat, juga tidak kuat meski memiliki postur setinggi 187 cm. Jika dia tidak punya visi dan teknik cemerlang, dia takkan jadi pesepak bola.

Pastore sendiri datang ke PSG pada musim 2011/12 lalu. Dia adalah bagian dari gelombang pertama pemain-pemain bintang yang didaratkan PSG menyusul akuisisi oleh Qatar Sports Investment. Harganya pun ketika itu tak bisa dibilang murah. Dengan usia yang baru mencapai angka 22 tahun, Pastore diangkut dari Palermo dengan mahar 42 juta euro dari Palermo.

Sejak itu, selama empat musim berturut-turut Pastore jadi sosok tak tergantikan. Bersama Blaise Matuidi dan Thiago Motta, dia menjadi penggawa lini tengah yang menyokong lini serang PSG. Soal gelar, jangan ditanya. Dari situ, Pastore sudah berada di jalan yang benar untuk menjadi pemain besar.

Akan tetapi, Pastore memang tidak punya cukup aura kebintangan untuk menjadi pemain sebesar Messi ataupun Ronaldo. Cara bermainnya yang kelewat klasik ditengarai jadi persoalan tersendiri di balik 'kegagalan' itu.

video youtube embed

Ya, Pastore memang sebenarnya bukanlah pemain yang pas untuk berlaga di sepak bola zaman sekarang. Meski mampu beradaptasi dengan kebersediannya untuk ditempatkan sebagai winger kiri, winger kanan, gelandang tengah, bahkan penyerang tengah, itu semua tak cukup bagi Pastore untuk bisa mencapai status megabintang.

Padahal, PSG semakin lama semakin bertumbuh sampai akhirnya berhasil menggoda pemain sekelas Neymar dan Dani Alves. Pendek kata, Javier Pastore gagal menaklukkan seleksi alam di Paris sana.

Walau begitu, bukan berarti Pastore tak punya kemampuan mumpuni. Pemain satu ini tetap layak dikategorikan sebagai salah satu pemain terbaik di Eropa. Buktinya, dengan kesempatan bermain yang kian minim, dia tetap mampu mencetak empat gol dan satu assist selama musim ini berlangsung. Hal itu dia raih dalam kurun waktu 865 menit bermain di Ligue 1 dan Coupe de France.

Artinya, di tempat yang pas, Pastore bisa saja memberikan apa yang dulu pernah diberikannya kepada PSG. Pertanyaannya, tempat manakah yang pas bagi pria 28 tahun tersebut?

Sebenarnya, ada banyak klub yang membutuhkan jasa pemain kreatif sepertinya. Pada bursa transfer musim dingin 2018 ini saja, setidaknya ada dua klub besar yang dikaitkan dengannya, yakni Internazionale dan Liverpool. Walau begitu, selepas laga melawan Montpellier, Sabtu (27/1/2018) silam, dirinya mengindikasikan bahwa Italia adalah pilihannya jika dia hengkang dari PSG.

"Aku ingin bermain lebih banyak karena aku ingin ikut serta di Piala Dunia. Aku sebenarnya bahagia di PSG tetapi di saat yang bersamaan, risiko bertahan di PSG adalah kehilangan tempat di Piala Dunia. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dan, ya, memang ada pembicaraan tentang kepindahanku ke Inter Milan, tetapi lihat saja nanti," ucap Pastore seperti dilansir Calciomercato.

X post embed

Bak gayung bersambut, ucapan Pastore itu direspons positif oleh pihak Inter. Direkur olahraga Nerazzurri, Pietro Ausilio, sudah secara terang-terangan menyebut bahwa Inter memang meminati Pastore. Akan tetapi, situasinya kini makin kompleks karena Inter hanya ma(mp)u meminjam.

Apabila Pastore nantinya benar-benar bergabung di Inter, maka transfer ini akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, Pastore butuh tempat dan waktu bermain, sementara Inter butuh kreator yang bisa mengeluarkan mereka dari situasi-situasi sulit.

Inter memang memulai musim 2017/18 dengan sangat apik dan bahkan, sempat bertengger di puncak klasemen Serie A. Akan tetapi, mereka kini justru terjebak dalam tren negatif dengan kegagalan meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan Serie A terakhir. Mereka pun kini tergusur ke peringkat keempat, tertinggal dua poin dari Lazio.

Di Inter, situasinya memang pelik. Selain Borja Valero, mereka tak punya lagi kreator yang bisa membantu Mauro Icardi di lini depan. Padahal, mantan pemain West Bromwich Albion ini sudah berusia 33 tahun. Seharusnya, dirinya sudah tak lagi dimainkan tanpa kendat seperti sekarang ini.

Selain karena menuanya Borja Valero, Inter sendiri juga baru saja melepas Joao Mario, walau dengan status pinjaman, ke West Ham United. Artinya, selain minim secara kualitas, secara kuantitas pun lini tengah Inter bermasalah. Maka dari itu, sudah selayaknya Inter mengupayakan pelbagai cara untuk mengamankan jasa pemain sekelas Pastore pada bursa transfer kali ini.

Apabila bergabung ke Inter, Pastore bisa bermain bersama (sebagai gelandang serang) atau bergantian dengan Borja Valero (sebagai gelandang tengah). Pengalamannya bermain di Italia dan gaya bermainnya yang stylish itu nantinya pun bakal sangat memudahkan proses integrasinya di skuat asuhan Luciano Spalletti.

Borja Valero kewalahan di Inter. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)
zoom-in-whitePerbesar
Borja Valero kewalahan di Inter. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)

Lalu, bagaimana dengan Liverpool?

Well, pasukan Juergen Klopp itu baru saja kehilangan gelandang kreatif dalam diri Philippe Coutinho. Jika berlabuh di Anfield, maka Pastore kemungkinan besar akan bermain di pos yang dulu dihuni Coutinho. Namun, tak menutup kemungkinan juga bagi Pastore untuk dimainkan sebagai satu dari trisula penyerangan.

Apabila PSG memang bersikeras untuk menjual Pastore, maka Liverpool-lah yang diuntungkan secara finansial karena mereka masih punya uang sisa dari hasil penjualan Coutinho. Akan tetapi, mereka sejatinya telah membuktikan bahwa tanpa (pemain seperti) Coutinho pun, mereka tetap mampu meraih kemenangan. Buktinya, tentu saja, adalah keberhasilan mereka menundukkan Manchester City.

Pada akhirnya, Inter memang lebih membutuhkan Pastore. Selain Borja Valero, pemain-pemain lain yang tugasnya bakal diringankan dengan kedatangan pria Argentina ini adalah Antonio Candreva dan Ivan Perisic.

Musim ini, Inter memang terlalu menggantungkan serangan mereka kepada duo winger ini dan hasilnya, permainan mereka jadi monton serta mudah diprediksi. Dengan Pastore dan efek kejutnya, Inter akan mendapat suntikan kreativitas yang sagat berarti. Dengan begitu, Inter sepertinya memang harus mau berkorban lebih besar lagi.