kumparan
Bola & Sports17 Desember 2018 17:04

Meneladani Sepak Bola Vietnam, Merengkuh Trofi Kemudian Hari

Konten Redaksi kumparan
Vietnam vs Malaysia
Perayaan gol Timnas Vietnam saat menghadapi Malaysia di final Piala AFF 2018. (Foto: Manan Vatsyayana/AFP)
Kemenangan dan keberhasilan di dunia 'si kulit bundar' tak pernah lahir tiba-tiba. Diperlukan plan terukur, taktik jitu, dan keseriusan karena kekalahan maupun kegagalan selalu memata-matai dan siap menerka. Pemahaman seperti itulah yang terekam jelas dalam perjuangan Vietnam mengatrol mutu sepak bola.
ADVERTISEMENT
Di Stadion My Dinh, Hanoi, Sabtu (15/12/2018) malam WIB, Timnas Vietnam mengakhiri paceklik prestasi. The Golden Stars sukses merengkuh trofi Piala AFF edisi 2018 seusai menekuk Malaysia dengan skor 1-0 pada leg kedua partai final. Gol kemenangan Vietnam dilesakkan oleh Nguyen Anh Duc pada menit 6.
Dengan begitu, skuat asuhan Park Hang-seo membukukan agregat 3-2 setelah laga leg pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil berakhir imbang 2-2. Keberhasilan tersebut sekaligus menuntaskan dahaga Vietnam karena kali terakhir mereka menjuarai turnamen terbesar se-Asia Tenggara itu pada 2008.
Jauh sebelum Vietnam kembali menjejak trek keberhasilan, Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) telah melewati rentetan persoalan yang nyaris mematikan sepak bola Vietnam. Mulai dari menyembuhkan pengaturan skor dan membenahi kompetisi dengan menerapkan standar tinggi.
ADVERTISEMENT
Pengaturan Skor Jangkiti Sepak Bola Vietnam
Jika ditarik mundur empat tahun silam atau pada 2014, sepak bola Vietnam diguncang pengaturan skor. Merujuk hasil laporan Vietnam Investment Review, enam pemain Dong Nai Club terbukti memanipulasi skor pertandingan saat bersua Quang Ninh. Mereka adalah Pham Huu Phat, Nguyen Thanh Long Giang, Nguyen Duc Thien, Ha Niem Tien, Phan Luu The Son, dan Dinh Kien Trung.
Keenam pemain itu membuat Dong Nai Club mengalah dari Quang Ninh dengan defisit dua gol. Laga sendiri berakhir dengan skor 5-3 untuk kemenangan Quang Ninh. Berdasarkan hasil investigasi kepolisian setempat, keenam pemain Dong Nai Club itu diganjar uang sebesar USD 18.500 jika menuntaskan misinya.
Tak cuma itu, mereka pun terseret kasus pengaturan skor manakala Dong Nai Club bersua Thanh Hoa pada musim yang sama. Lagi-lagi mereka mendapatkan pesanan agar klub yang mereka bela keok. Dan hasilnya Dong Nai Club tumbang 0-3.
ADVERTISEMENT
Ilustrasi Sepak Bola dan Uang
Ilustrasi Sepak Bola dan Uang (Foto: Ppixabay)
Keenam pemain Dong Nai Club itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan Dong Nai. Sang kapten, Pham Huu Phat, diganjar penjara selama enam tahun. Sedangkan, lima rekannya ditangguhkan.
Match fixing benar-benar menjadi dilema sepak bola Vietnam saat itu. Salah satu klub profesional Vietnam, Vissai Ninh Binh, terjun dalam manipulasi skor laga melawan klub asal Malaysia, Kelantan FA, pada ajang AFC Cup 2014. VnExpress melaporkan bahwa kasus tersebut melibatkan 9 pesepak bola dan bandar judi.
Salah satu pemain Vissai Ninh Binh, Tran Manh Dung, dijatuhi hukuman kurugan selama 30 bulan. Delapan pemain lainnya diberi hukuman percobaan dan mendapatkan sanksi berupa denda. Tak lama setelah pemainya dinyatakan bersalah, Vissai Ninh Binh mengundurkan diri berlaga di V-League (kompetisi teratas Vietnam).
ADVERTISEMENT
Sederet sanksi tersebut lahir karena VFF serius membabat habis kasus pengaturan skor di sepak bola Vietnam. Dengan bantuan pihak kepolisian, satu per satu kasus match fixing terselesaikan. Langkah tegas VFF sejatinya sudah ditempuh sejak 2007.
Dilansir Associated Press, pada 2007, tujuh wasit plus dua pejabat Vietnam terbukti melakukan tindakan suap. Yang mana perputaran uang mencapai USD 8.440. Salah satu hakim bernama Le Thi Bao Hang mengatakan bahwa uang dibayarkan kepada wasit oleh dua klub, Dong A Thep Pomina dan Ton Hoa Sen Can Tho, agar mereka lolos dari jerat degradasi.
Pengaturan Skor di Vietnam
Sembilan pemain Vissai Ninh Binh yang terlibat pengaturan skor pada 2014. (Foto: Vietnam News Agency/AFP)
Akibat tindakannya, empat wasit yang terbukti terlibat kasus suap dihukum kurungan empat tahun. Tiga wasit lainnya dan dua pejabat Vietnam mendapatkan penangguhan. Keputusan tegas tersebut diambil pengadilan untuk mengembalikan kepercayaan pencinta sepak bola Vietnam terhadap federasinya.
ADVERTISEMENT
Sebab, satu tahun sebelum insiden tersebut, delapan penggawa Timnas Vietnam U-23 dituduh menerima suap sebesar USD 15.000 dari bandar judi. Mereka diperintahkan agar laga Vietnam vs Myanmar di Sea Games 2005 berkahir dengan skor 1-0.
Memang belum diketahui apakah sepak bola Vietnam sudah benar-benar terbebas dari match fixing, tetapi upaya VFF menggandeng kepolisian untuk menjatuhkan hukuman kepada pelaku pengaturan skor merupakan langkah yang patut diacungi jempol.
Upaya Vietnam Mengatrol Mutu Sepak Bola
Mencuatnya kasus pengaturan skor plus korupsi menggerus kualitas sepak bola Vietnam. Oleh karena itu, pada 2012, enam klub besar Vietnam meneror VFF untuk segera membenahi liga. Jika tak bisa melakukannya, keenam klub itu mengancam undur diri dan berencana membangun kompetisi baru.
ADVERTISEMENT
Hasil dari ultimatum tersebut melahirkan Vietnam Professional Football Joint Stock Company (VPF) sebagai operator liga. Sejak saat itu, VPF melakukan seleksi ketat bagi tim-tim yang ingin berlaga di kompetisi teratas sepak bola Vietnam. Salah satu syaratnya adalah dana jaminan yang mencapai Rp 25 miliar.
Tuntutan itu menggerus jumlah kontestan di masing-masing level. Karena banyak klub yang tak bisa memenuhi syarat memutuskan untuk merjer dengan kesebelasan lain. Alhasil, sampai saat ini, kontestan V-League berjumlah 14 klub. Sementara, V.League 2 atau level kedua kompetisi Vietnam cuma memiliki 8 klub. Dengan begitu, VPF dapat menjaga mutu kompetisi sepak bola Vietnam.
Pelatih Vietnam, Park Hang-seo
Pelatih Vietnam, Park Hang-seo, tengah memberikan instruksi kepada pemainnya saat bersua Malaysia di final Piala AFF 2018. (Foto: Dok. AFF)
Esquire Singapore dalam artikel bertajuk The Rise of Vietnamese Football: How the Country's Soccer Talents are Succeeding on the World Stage melaporkan bahwa keberhasilan Timnas Vietnam U-23 menapaki babak final Piala AFC U-23 2018 di China tak lepas dari program kolaborasi antara VFF dengan sekolah sepak bola ternama, seperti JMG Academy dari Prancis.
ADVERTISEMENT
Kolaborasi itu menghadirkan Nguyen Cong Phuong sebagai Lionel Messi dari Vietnam, gelandang tangguh bernama Vu Van Thanh, dan sang kapten Timnas Vietnam U-23, Luang Xuan Truang. Melesatnya skill ketiga pemain itu tak lepas dari fasilitas dan menu-menu latihan yang disajikan.
Langkah jitu lainnya yang diambil VFF adalah mengutus Park Hang-seo sebagai juru taktik. Park sendiri merupakan mantan asisten pelatih Korea Selatan era Guus Hiddink. Bersama Park, Timnas Vietnam U-23 menjadi salah satu kekuatan Asia dengan melaju ke babak final Piala AFC U-23 2018.
Tak cuma itu, di bawah asuhan Park, Vietnam menjadi yang terbaik di Asia Tenggara karena menjuarai Piala AFF 2018. Perlu digarisbawahi, sebanyak 15 dari 23 pemain Vietnam di Piala AFF 2018 merupakan alumni Timnas Vietnam U-23.
ADVERTISEMENT
***
Keberhasilan Vietnam merengkuh trofi Piala AFF 2018 harusnya membuat Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) berkaca. Toh, masalah yang dihadapi PSSI nyaris serupa dengan VFF, yakni match fixing dan kompetisi yang belum stabil. Namun, serupa Vietnam yang sanggup menuntaskan persoalannya berkat upaya yang tak setengah-setengah, PSSI seharusnya juga mencari solusi yang tepat.
Memang terkesan klise, tapi segala kecarutmarutan di tubuh sepak bola Indonesia saat ini adalah masalah dan yang namanya masalah, ia tak akan bisa tuntas dengan sendirinya. Bagaimanapun, pembiaran adalah kawan karib bagi segala jenis masalah, termasuk yang ada di jagat sepak bola.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan