Menelisik "The Big Four" Liga 1

Pada era 1990-an, Serie A pernah sangat berjaya di daratan Eropa. Disesaki puluhan pemain terbaik dunia dengan persaingan yang teramat sengit. Ketika itu, bahkan dikenal dengan istilah Il Magnifico Sette atau The Magnificent Seven.
Ya, saat sedang dalam masa keemasannya, Serie A bahkan diisi sampai tujuh klub yang berpeluang untuk meraih scudetto: Juventus, Inter Milan, AC Milan, Lazio, AS Roma, Parma, dan Fiorentina.
Semakin lama persaingan itu semakin terkikis menyusul berbagai skandal yang terjadi. Kini, Juventus terlihat sangat dominan dengan Roma dan Napoli yang sesekali mendekati untuk kemudian menjauh kembali.
Memasuki era milenium, perhatian berubah haluan ke Premier League. Sama seperti Serie A, kompetisi level tertinggi Inggris ini juga memiliki istilah The Big Four dengan sejarahnya yang sangat panjang.
Benang merahnya adalah persaingan di papan klasemen menuju tangga juara. Semakin banyak tim yang bersaing, maka semakin sengit kompetisi tersebut.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Begini... Memang agak sulit mendeskripsikan kompetisi di Tanah Air. Selain formatnya yang kerap gonta-ganti, banyaknya klub baru juga semakin "mengacaukan" peta persaingan. Belum lagi kencangnya politik di tataran elite yang berimbas terhadap eksistensi liga.
Indonesia--juga dengan sejarah liganya yang panjang--tak memiliki tradisi layaknya Serie A atau Premier League. Akan tetapi, tak ada salahnya jika menilik apa yang tengah terjadi di Gojek Traveloka Liga 1 saat ini.
Memasuki pekan kedua, terdapat tujuh tim yang memiliki nilai serupa (empat) di tabel klasemen. Mereka adalah Semen Padang, PSM Makassar, Persija Jakarta, Arema FC, Persipura Jayapura, Barito Putera, dan Sriwijaya FC.
Tak terbayang jika ketujuh tim itu bisa terus konsisten, pasti persaingan menuju tangga juara amat seru nan sengit. Namun, mari menelisik lebih dalam kepada empat tim teratas terlebih dahulu. Berikut ulasannya.
Semen Padang

Tampilnya Semen Padang sebagai pemuncak klasemen sementara sejatinya tidaklah mengejutkan. Penampilan impresif "Kabau Sirah" sudah terbaca sejak mereka berlaga di Piala Presiden 2017.
Datang sebagai tim non-unggulan, Semen Padang mampu merangsek hingga semifinal sebelum dihentikan Arema FC. Dari situ, sudah cukup terlihat filosofi permainan yang coba dibangun Nilmaizar.
Permainan bola dari kaki ke kaki dengan bertumpu kepada kedua sayap semakin terasah begitu memulai Liga 1. Persegres Gresik United dihantam tanpa ampun di hadapan pendukungnya sendiri dengan skor telak 3-1. Kemenangan kedua nyaris diraih jika saja koordinasi lini belakang lebih baik, setelah ditahan imbang Sriwijaya FC 1-1 di kandang.
Kekuatan Semen Padang musim ini terletak di lini tengah dan depan. Agresivitas mereka dalam menyerang sangat menakutkan. Dari dua laga, Semen Padang total melepaskan 31 usaha ke gawang dengan sepuluh di antaranya tepat sasaran dan empat berbuah gol.
Kombinasi bola-bola pendek dengan kecepatan tampaknya bakalan menjadi senjata andalan Semen Padang. Ini terbukti dengan sukses dribel mereka sebesar 62% dengan akurasi operan mencapai 79%.
Dua nama yang siap bersinar pada musim ini adalah Vendry Mofu dan Marcel Sacramento. Kedua pemain tersebut sejauh ini telah melesakkan tiga gol. Vendry dan Marcel juga menjadi nyawa dari setiap serangan yang dibangun.
Di balik itu semua, performa lini belakang cukup mengkhawatirkan dengan sudah kebobolan dua gol. Paling kentara adalah ketika pertandingan melawan Sriwijaya FC. Bek Novrianto bahkan sampai melakukan tiga kali kesalahan dengan satu di antaranya berbuah menjadi gol. Sebuah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Nilmaizar, tentunya.
PSM Makassar
Menyandang status sebagai klub tertua di Indonesia, sudah sewajarnya PSM Makassar selalu masuk radar persaingan juara. Akan tetapi, fakta justru berkata lain.
Sejak Liga Indonesia digelar pada 1994, PSM tercatat baru sekali meraih gelar juara yakni pada Divisi Utama musim 1999/00. Sejak saat itu, “Juku Eja” seakan hilang dari peredaran. Puncaknya, hak keanggotan PSM dicabut oleh PSSI setelah hijrah ke Liga Premier Indonesia (LPI) pada 2011.
Kini, PSM mencoba menutup segala lembaran kelam itu dengan membuka lembaran baru. Musim ini, tekad itu terlihat cukup berhasil. Setidaknya, dari dua pekan awal, mereka mampu tampil menjanjikan.
Di laga pembuka, Persela mereka hajar dengan skor 3-1. Pada pekan kedua, tiga poin hampir saja dibawa pulang PSM jika saja Mitra Kukar tak mendapat penalti pada menit-menit akhir sehingga membuat laga berakhir dengan skor 1-1.
Sosok Robert Rene Alberts memegang peranan sangat penting dalam kebangkitan PSM. Pengalamannya ketika membawa Arema Indonesia menjuarai ISL 2009/10 coba diterapkan kepada Hamka Hamzah dan kawan-kawan.

Dari skema yang coba diusung, terlihat jelas bagaimana PSM mencoba memenangi laga dengan banyak menguasai bola. Nama Willem Jan Pluim pantas disebut paling awal. Pasalnya, Pluim-lah yang menjadi dirijen permainan PSM.
Dari dua laga, Pluim menjadi sosok sentral bagi PSM. Catatan satu gol dan satu assist sudah cukup membuktikan. Meskipun berbadan besar (tinggi 191 dan berat 86 kg), tetapi Pluim mampu memainkan peran playmaker dengan sangat baik. Indikasinya, akurasi operannya mencapai 83% dengan 80% sukses dribel.
Secara tim, agresivitas PSM dalam menyerang juga cukup tajam. Reinaldo Elias Da Costa tampil apik dengan mengemas satu gol dan satu assist. PSM total melesakkan 25 tembakan dengan 11 di antaranya tepat sasaran dan empat menjadi gol.
Namun, satu hal yang patut diwaspadai PSM yakni penampilan keras menjurus kasar yang bisa merusak ritme permainan. Di antara empat tim lainnya, PSM tercatat sebagai tim terbanyak melakukan pelanggaran yaitu dengan 46 fouls hanya dari dua laga. Mereka telah mengoleksi delapan kartu kuning dan satu kartu merah.
Tampaknya, tugas Rene Alberts musim ini tak hanya menyoal bagaimana membangun permainan tim, tetapi dituntut juga untuk bisa meredam emosi pemainnya di atas lapangan hijau.
Persija Jakarta
Predikat tim musafir yang disematkan dalam beberapa musim terakhir tampaknya bakal segera hilang bagi Persija Jakarta. Meskipun masih belum bisa bermarkas di Ibu Kota, kepastian berkandang di Bekasi memberikan berkah tersendiri.
Tak dipungkiri, faktor non-teknis memberikan pengaruh besar dalam menurunnya performa Persija beberapa musim terakhir. Berlatih di Jakarta, bertanding di Solo, tentu sangat menguras energi dan waktu.
Musim ini, skuat "Macan Kemayoran" tampaknya sudah lelah terus-menerus mengecewakan The Jakmania. Tekad untuk memperbaiki nasib sudah dimulai dengan baik manakala mereka mampu meraih empat poin dari dua laga.
Persija membuka musim dengan kemenangan tandang atas Persiba Balikpapan dengan skor 2-0. Sayang, ketika menjamu Barito Putera, anak-anak asuh Stefano Cugurra Teco hanya meraih hasil imbang 1-1.

Dari segi materi, musim ini skuat Persija lumayan dalam. Di barisan cadangan, nama-nama seperti Gunawan Dwi Cahyo, Vava Mario Yagalo, Abrizal Umanailo, dan Bambang Pamungkas siap melapisi skuat utama.
Sejauh ini, daya gedor Persija juga cukup menjanjikan. Mereka total melepaskan 27 tembakan dengan sepuluh di antaranya tepat sasaran dan tiga berbuah gol.
Satu hal yang menarik dari dua partai yang telah dijalani adalah gemilangnya penampilan Andritany Ardhiyasa. Ia telah melakukan sepuluh penyelamatan selama 180 menit. Jika mampu tampil konsisten, lini belakang Persija bisa jadi cukup kuat musim ini.
Arema FC

Harus diakui, Arema FC merupakan tim dengan penampilan paling konsisten dalam setiap musimnya. Mereka mampu menjadi persaing terdekat Persipura Jayapura atau Persib Bandung dalam memperebutkan gelar juara dalam beberapa musim terakhir.
Bagaimana dengan musim ini?
Meskipun tak sesumbar menargetkan trofi juara, "Singo Edan" tetaplah menjadi tim yang patut diwaspadai seluruh kontestan Liga 1 lainnya. Setelah mampu menahan imbang tanpa gol ketika melawat ke markas Persib dalam laga pembuka, Arema menunjukkan jati dirinya dengan menggasak Bhayangkara FC dengan skor 2-0.
Sejauh ini, Arema tercatat sebagai satu-satunya tim di antara penghuni empat besar klasemen yang mampu menjaga gawangnya dari kebobolan alias cleansheet. Hal itu juga diimbangi dengan moncernya performa lini serang mereka.
Nama-nama seperti Cristian Gonzales, Esteban Vizcarra, dan Adam Alis tentu tak perlu diragukan lagi kapasitasnya. Itu masih ditambah marquee player mereka Juan Pablo Pino yang mampu memberikan asisst dalam debutnya saat melawan Bhayangkara FC.
Tak hanya itu, kekuatan Arema bahkan tak pincang sedikit pun ketika Gonzales absen. Saat melawan Bhayangkara FC, Gonzales tengah menjalani ibadah umrah. Sebagai gantinya, Dedik Setiawan diplot sebagai pengganti El Loco. Dedik--striker yang diboyong dari Persekam Metro FC--menjawabnya dengan melesakkan satu gol.
Kekuatan lain dari Arema terletak pada pemain di bawah usia 23 tahun. Bagas Adi Nugroho, Hanif Sjahbandi, dan Nasir merupakan rekrutan brilian. Itu terbukti dengan dipanggilnya ketiga pemain tersebut ke Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-22.
Ketika tim-tim lain pusing menentukan starter pemain U-23, pelatih Aji Santoso tampaknya bisa tenang menyusun starting eleven-nya. Jika dilihat secara keseluruhan, Arema bisa dibilang memiliki skuat paling komplit dan merata di semua lini.
Hadangan mereka hanya persoalan konsistensi. Sejauh mana para pemain bisa melewati musim yang teramat panjang ini. Pasalnya, Arema pernah memiliki pengalaman buruk ketika disalip di tikungan akhir oleh Persipura di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016.
