Bola & Sports
·
18 Juni 2020 15:39

Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen? (31899)
Jerome Boateng dan Lucas Hernandez merayakan gelar Bundesliga yang dimenangi Bayern Muenchen di 2019/20. Foto: Martin Meissner/Pool via REUTERS
Kita sedang dalam 'new normal' tetapi tak ada hal demikian di Bundesliga 2019-20. Lagi-lagi, Bayern Muenchen yang juara usai menang atas Werder Bremen. Poin Bayern bertambah jadi 76, sudah mustahil Borussia Dortmund menyalip dari posisi kedua.
ADVERTISEMENT
Untuk Bayern, ini adalah gelar Bundesliga kedelapan yang mereka raih dalam delapan musim terakhir. Ini juga merupakan gelar ke-29 mereka sepanjang sejarah Bundesliga dan gelar ke-30 Liga Jerman secara keseluruhan.
Dortmund dan Borussia Moenchengladbach sebagai tim dengan jumlah gelar Bundesliga terdekat bahkan cuma meraihnya lima kali. Jaraknya amat kentara sehingga tak salah bila kamu bertanya-tanya: Mengapa Bayern bisa sedominan ini?
Yang pasti dan paling utama adalah karena Bayern itu sendiri. Penyerang Bremen, Niclas Fuellkrug, menilai Die Roten berhasil menancapkan dominasinya lewat kinerja yang memang begitu bagus pada hampir semua aspek.
"Saat Anda juara delapan tahun beruntun, nyaris tak tersentuh, dan terkadang memenangi Liga Champions, itu berarti Anda melakukan pekerjaan yang baik. Pada akhirnya, mereka mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan," ujar Fuellkrug.
Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen? (31900)
Bayern Muenchen lagi-lagi menancapkan dominasinya.. Foto: Reuters/Pool
Kamu bisa menyebut kedalaman skuat salah satunya. Kita toleh lini belakang. Saat Niklas Suele dan Lucas Hernandez cedera, Bayern masih punya Jerome Boateng dan Javi Martinez. Lalu ada David Alaba yang tiba-tiba disulap jadi bek tengah andal. Beres.
ADVERTISEMENT
Kamu bisa pula menyebut pemilihan pelatih yang hampir selalu tepat, kemampuan mendatangkan banyak pemain bagus, stabilitas yang baik dari segala lini, konsistensi, ambisi besar, atau berbagai hal teknis yang akan panjang sekali daftarnya.
Di luar itu, fakta bahwa Bayern begitu dominan juga erat kaitannya dengan situasi tim-tim Bundesliga lain. kumparanBOLA akan membahas beberapa di antaranya di sini.

Kesenjangan Finansial

Silakan lihat berapa yang Manchester United keluarkan untuk merekrut pemain belakangan ini, lalu kamu bakal sadar bahwa uang bukan faktor utama kesuksesan. Akan tetapi, aspek ini sangat mungkin membantumu meraihnya.
Bayern contohnya. Dengan kondisi finansial yang bagus dan dikeluarkan dengan cara yang bagus pula, mereka bisa mendatangkan sejumlah pemain bintang, pelatih top, atau membayar pemain dengan gaji yang tinggi.
ADVERTISEMENT
Masalahnya, sebagian besar klub Bundesliga lain tak seperti itu. Menurut Forbes yang dikutip CBS baru-baru ini, hanya Bayern klub Bundesliga yang masuk ke 50 besar (urutan ke-17) tim olahraga paling bernilai di seluruh dunia.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kesenjangan ini. Misal, pembagian uang hak siar yang begitu menguntungkan Bayern. Pada 2018, DW menyebut Bayern menerima 150 juta euro dari hak siar--ini pun termasuk rendah dibandingkan liga top Eropa lain.
Belum lagi bila ditambah dengan uang hasil keikutsertaan mereka di Liga Champions, kesepakatan bla bla bla dengan pihak sponsor, penjualan tiket pertandingan (Allianz Arena berkapasitas 75.000 penonton), serta lini bisnis lain.
Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen? (31901)
Robert Lewandowski bersama Juergen Klopp di Borussia Dortmund. Foto: JOHN MACDOUGALL / AFP
Perkara kesenjangan finansial, Juergen Klopp saat melatih Dortmund pernah mengeluh. "Mereka (Bayern) seperti orang China di dunia bisnis. Mereka melihat apa yang orang lain punya, lalu menirunya, tentu dengan uang yang lebih banyak," kata Klopp.
ADVERTISEMENT
Walau begitu, perlu diingat bahwa Bayern tak meraih stabilitas finansial secara ujug-ujug. Mereka bukan Paris Saint-Germain atau Manchester City yang tiba-tiba jadi menakutkan di liga masing-masing karena kedatangan investor kaya.
Christian Nyari, eks manajer media Bayern, dalam kolomnya di Bleacher Report menulis bahwa stabilitas finansial Bayern berasal dari perencanaan jangka panjang yang terang. Lagi pula aturan 50+1 tak memungkinkan kepemilikan tunggal di Bundesliga.

Tak Bisa Mempertahankan Pemain Bintang

Sudah berapa banyak pemain bintang yang Dortmund hasilkan? Atau Bayer Leverkusen? Atau Schalke? Atau Gladbach? Atau Wolfsburg? Tak terhitung. Sudah berapa kali mereka melepasnya ke tim lain? Tak terhitung pula.
Yup, klub-klub Bundesliga selain Bayern memang cenderung sukar mempertahankan para pemain bintang. Sebagian di antaranya bahkan jadi milik Bayern. Silakan kamu sebut. Ada Robert Lewandowski, Manuel Neuer, atau siapa saja.
Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen? (31902)
Kiper Bayern Muenchen, Manuel Neuer. Foto: ANDREAS GEBERT/POOL/AFP
Beberapa lantas menyalahkan Bayern. Tak salah, sih, dua nama yang kami sebut sebelumnya memang jadi milik Bayern kok. 'Semua akan Bayern pada akhirnya', 'Bayern menggembosi tim rival', 'Dortmund akademi Bayern', bla bla bla.
ADVERTISEMENT
Sampai-sampai CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke, seperti dikutip oleh Bild, menegaskan bahwa Dortmund tak bakal pernah lagi melepas pemain mana pun ke Allianz Arena. Lalu seperti itulah yang terjadi.
Setelah Mario Goetze pada 2013, Robert Lewandowski pada 2014, dan Mats Hummels pada 2016, tak satu pun pemain Dortmund menyeberang lagi ke rival. Namun, apakah mereka berhasil mempertahankan bintang-bintang lain?
Tidak, bung dan nona. Dortmund memang tak melepasnya ke Bayern, tetapi tidak berlaku untuk klub lain. Ada Ousmane Dembele, lalu Aubameyang, Christian Pulisic, dan besar kemungkinan Jadon Sancho serta Erling Haaland menyusul.

Kedalaman Skuat yang Kurang

Mengapa Klub-klub Bundesliga Sulit Sekali Menyaingi Bayern Muenchen? (31903)
Para pemain Borussia Dortmund merayakan gol Thorgan Hazard. Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay
Dortmund tahu bahwa kedalaman skuat jadi masalah mereka beberapa musim terakhir. Maka jelang musim 2019-20 bergulir, cukup banyak pemain yang mereka datangkan. Ada Mats Hummels, Thorgan Hazard, hingga Julian Brandt.
ADVERTISEMENT
Namun, itu rupanya tak cukup. Pada paruh pertama Dortmund kehilangan Paco Alcacer karena cedera. Sialnya, mereka tak punya penyerang murni lain. Lucien Favre selaku pelatih lantas menyulap Marco Reus sekaligus mengubah formasi menjadi 3-4-3.
Sialnya, Reus juga cedera. Mario Goetze sempat dicoba sebagai pengganti, tetapi tak optimal. Lalu bursa transfer musim dingin datang. Pada masa inilah Dortmund merekrut Erling Haaland dari Red Bull Salzburg.
Haaland menutupi kekurangan Dortmund. Kedatangannya bahkan bikin lini serang jauh lebih berbahaya. Masalahnya, dia tiba saat Bayern sudah kembali ke trek dan akhirnya merebut puncak klasemen Bundesliga.
Tentu bukan cuma Dortmund yang bermasalah dalam hal kedalaman skuat. RB Leipzig yang sempat berada di puncak pun demikian. Begitu pula dengan Gladbach. Sialnya, kondisi seperti ini terjadi berulang-ulang tiap musimnya.
ADVERTISEMENT
Situasi yang jelas saja mengkhawatirkan. Padahal, seperti yang pernah diungkapkan Klopp, kompetisi jangka panjang memerlukan skuat yang komplet. Tanpa hal tersebut, sebuah klub bisa saja mengalahkan Bayern, tetapi mustahil berkompetisi.
"Bayern memiliki semua senjata dan dapat merespons apa pun yang terjadi dalam sepak bola. Mereka tim yang memiliki kedalaman di bench yang ingin dimiliki oleh semua pesaing mereka di planet ini," ujar Klopp suatu kali.

Inkonsistensi

Performa yang tak konsisten jadi masalah rival Bayern hampir pada tiap musimnya. Musim 2019-20 bukan pengecualian.
Hingga pekan ke-14, empat besar klasemen Bundesliga diisi oleh Borussia Moenchengladbach yang ada di puncak, lalu berturut-turut ada Dortmund, Leipzig, dan Schalke 04. Bayern, sementara itu, tertahan di posisi ketujuh.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, penampilan yang tak konsisten membuat klub-klub tersebut tergusur. Pada pekan ke-32, Gladbach malah terlempar ke urutan kelima, sementara Bayern merangsek naik dan bahkan sudah resmi merengkuh juara.
Namun, bagaimana mau konsisten kalau kedalaman skuat saja bermasalah?

Sudah Menyerah Bahkan Sebelum Kompetisi Usai

Leipzig dan Dortmund sejak awal menegaskan bahwa mereka siap memutus dominasi Bayern musim ini. Nyatanya, pelan-pelan mereka menyerah, bahkan sebelum kompetisi rampung. Dortmund yang terakhir menyatakan hal demikian.
"Pada akhirnya FC Bayern yang akan menjadi juara Jerman. Sekarang kami ingin lolos ke Liga Champions musim depan dengan finis di urutan kedua musim ini," kata Direktur Olahraga Dortmund, Michael Zorc, kepada Sky.
Zorc menyatakan hal tersebut setelah Dortmund kalah 0-1 dari Bayern. Bisa dipahami, sih, sebab itu terjadi saat Bundesliga sudah tersisa enam pekan lagi. Namun, kans saat itu masih terbuka karena Bayern sama sekali belum juara.
ADVERTISEMENT
Mental demikian sangat berbeda dengan Bayern. Pada putaran pertama musim ini, Bayern terseok-seok, tetapi tak lantas menyerah dan akhirnya tetap merebut juara. Dua musim lalu, kondisi serupa juga mereka alami.
Yang mesti disorot adalah bagaimana petinggi Bayern merespons situasi sulit. Selain belum keburu mengangkat bendera putih, mereka dengan tanggap melakukan berbagai perubahan yang memang dirasa perlu.
Pada 2017, Bayern memecat Carlo Ancelotti dan menggantikannya dengan Jupp Heynckes. Musim ini, Niko Kovac digantikan oleh Hansi Flick. Dua-duanya berujung menyenangkan dan selalu berhasil mempertahankan dominasi Bayern di Bundesliga.
Jelas Bayern tak bakal dengan sengaja menurunkan level mereka agar dominasi tersebut berakhir. Kalau sudah begini, yang perlu dilakukan klub-klub lain adalah berbenah sebaik mungkin agar kesenjangan tak makin kentara.
ADVERTISEMENT
"Bukan Bayern Muenchen yang mesti berbenah. Tim-tim lain yang harusnya melakukan perubahan agar Bundesliga ke depannya bisa lebih kompetitif," kata CEO DFL (Badan Liga Jerman), Christian Seifert, pada 2017.
====
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona.