Kumparan Logo

Mengapa Menjadi Holding Midfielder itu Gampang-gampang Susah

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Claude Makelele sang legenda. (Foto: Twitter/Claude Makelele)
zoom-in-whitePerbesar
Claude Makelele sang legenda. (Foto: Twitter/Claude Makelele)

Pernah ada suatu masa di mana sepak bola dihuni oleh pemain-pemain seperti Graeme Souness, Vinnie Jones, dan Andoni Goikoetxea. Well, masa itu sebenarnya belum lama berlalu. Nama-nama modern seperti Gennaro Ivan Gattuso dan Nigel De Jong adalah para penerus dari Souness, Jones, dan McMahon di sepak bola.

Para pemain yang disebut di atas adalah para gelandang bertahan klasik yang punya prestasi menterang di dunia sepak bola. Keberadaan mereka untuk menghancurkan permainan lawan adalah harga mati. Jika tidak ada mereka, para pemain ofensif yang kreatif tentu tidak akan bisa leluasa melancarkan serangan ke pertahanan lawan.

Mereka, para pemain itu, mengandalkan tekel sebagai senjata utama untuk melakukan tugasnya. Itulah mengapa, mereka kerap disebut sebagai hardmen dan lawan pun bakal berpikir seribu kali untuk benar-benar berkonfrontasi dengan mereka. Karena mereka pulalah, peran gelandang bertahan menjadi identik dengan permainan keras menjurus kasar.

Namun, zaman sudah berubah. Meski jejak Gattuso dan De Jong masih dapat dengan mudah dilacak, sebenarnya ketika mereka berjaya, lakon yang mereka jalani itu sedang dalam kondisi sekarat. Pasalnya, ada jenis gelandang bertahan baru yang muncul ke permukaan dan menjadi populer kala itu.

Jenis gelandang bertahan baru itu dipopulerkan oleh Claude Makelele. Istilah resminya, holding midfielder.

Kehebatan Makelele sebagai holding midfielder mendapat pengakuan resmi setelah dia hijrah dari Real Madrid ke Chelsea. Kala itu, Zinedine Zidane sempat mengutarakan kekecewaannya karena Makelele dilego oleh Florentino Perez dan kekecewaan Zidane itu pun terbukti ketika Makelele menjadi figur sentral di Chelsea asuhan Jose Mourinho.

Sejak itu, holding midfielder pun menjadi jenis gelandang bertahan yang populer. Tak hanya populer, malah, tetapi juga berkembang sesuai kebutuhan zaman.

X post embed

Yang membedakan holding midfielder dengan gelandang bertahan klasik adalah cara mereka menghentikan serangan lawan. Jika gelandang bertahan klasik sangat mengandalkan tekel dan kemampuan berduel, maka holding midfielder lebih mengandalkan penempatan posisi, meski kemampuan berduel juga merupakan prasyarat yang harus dipenuhi.

Ketika Makelele dilego dulu, Perez sempat berkata bahwa dia tidak layak berada di antara galactico-galactico Real Madrid karena hanya bisa mengumpan sejauh tiga meter dan tidak bisa mencetak gol. Akan tetapi, apa yang tidak diketahui Perez kala itu adalah kesederhanaan dan efisiensi adalah kunci menjadi seorang holding midfielder.

Singkatnya begini. Tugas seorang holding midfielder adalah untuk mencegat bola lawan dan kemudian mensirkulasikannya kembali ke depan secepat dan seakurat mungkin. Terdengar mudah, memang, tetapi seperti yang dikatakan Johan Cruyff, bermain sepak bola memang simpel tetapi bermain sepak bola dengan simpel itu sulitnya bukan main.

Untuk mencegat bola lawan, seorang holding midfielder harus mengandalkan penempatan posisi dan dengan demikian, kepekaan spasial seorang holding midfielder haruslah tinggi. Salah langkah sedikit saja dan pertahanan akan terekspos oleh serangan lawan. Michael Carrick pernah menyebut bahwa yang dijaga oleh seorang holding midfielder adalah ruang, dan bukan orang.

Carrick, sang orkestrator dari bayang-bayang. (Foto: Getty Images/Shaun Botterill)
zoom-in-whitePerbesar
Carrick, sang orkestrator dari bayang-bayang. (Foto: Getty Images/Shaun Botterill)

Inilah yang sulit. Pasalnya, ruang adalah tempat sepak bola itu sendiri dimainkan dan semua pemain punya interpretasi yang berbeda-beda akan ruang ini. Untuk bisa menjaga ruang, seorang holding midfielder harus mampu membaca arah permainan serta memprediksi pergerakan pemain lawan dengan tepat. Inilah yang nantinya berpengaruh kepada penempatan posisi itu tadi.

Cara bermain inilah yang kemudian membuat seorang holding midfielder tidak pernah terlihat spektakuler. Sepintas, mereka hanya bergeser-geser saja di lapangan sembari sesekali merebut bola dan melepas umpan. Selebihnya, ya, begitu. Namun, "begitu" yang mereka lakukan itu senantiasa dipikirkan dan diukur dulu masak-masak.

Dalam jagat persepakbolaan di mana permainan dari kaki ke kaki menjadi tren, holding midfielder kemudian menjadi sangat populer. Dulu, ketika sepak bola masih dikuasai fantasista, pemain-pemain tukang jagal menjadi primadona di lini tengah untuk menegasi para individu spesial itu. Ketika kini sepak bola menjadi lebih cair dan kolektif seperti sekarang, maka ruang, sebagai instrumen utama permainan, menjadi targetnya.

Nah, di atas tadi, sudah disebutkan bahwa selain menjadi populer, peran ini pun berkembang. Artinya, mereka tak melulu berkutat di urusan pertahanan saja. Michael Carrick dan Sergio Buquets, misalnya, merupakan inisiator serangan di timnya masing-masing. Mereka senantiasa menjemput bola dari para bek untuk kemudian mengalirkannya ke depan. Mirip-mirip dengan deep-lying playmaker.

X post embed

Namun, perbedaan utama antara holding midfielder dengan deep-lying playmaker tentu saja ada pada tanggung jawab defensif mereka. Luka Modric, misalnya, sering berperan sebagai deep-lying playmaker. Namun, pemain Kroasia ini kemudian harus merangsek ke sepertiga lapangan akhir untuk terus terlibat dalam serangan. Hal yang sama berlaku untuk Andrea Pirlo dan Xavi Hernandez.

Sebaliknya, seorang holding midfielder justru sangat tidak disarankan untuk melakukan apa yang dilakukan oleh pemain-pemain seperti Modric, Pirlo, dan Xavi. Pasalnya, kalau sampai mereka naik terlalu tinggi, siapa yang nanti akan menjadi pelindung dua bek tengah saat tim diserang balik? Di sini, bisa disimpulkan bahwa holding midfielder adalah posisi sekaligus peran, sementara deep-lying playmaker atau regista adalah peran semata.

Walau begitu, ada pula holding midfielder seperti Nemanja Matic. Boleh dibilang, Matic adalah versi paling sempurna dari semua holding midfielder yang ada saat ini. Tak hanya mampu memutus aliran serangan lawan, menjadi tameng saat tim diserang balik, maupun menjadi inisiator serangan, Matic juga mampu menjadi aktor krusial di sepertiga lapangan akhir.

X post embed

Jumlah assist-nya yang mencapai tujuh pada musim lalu adalah buktinya. Lho, lalu bagaimana bisa pemain seperti ini punya kontribusi yang besar terhadap serangan? Bukankah holding midfielder tidak disarankan untuk melakukan itu?

Jadi, Matic memang ternyata tidak bisa menghilangkan insting sebagai playmaker, peran yang diembannya kala muda dulu. Dibekali kemampuan fisik, stamina yang prima, visi yang brilian, serta umpan yang akurat, menjadi mungkin bagi Matic untuk melakukan hal itu. Walau begitu, ada satu hal lain yang tidak bisa dinafikan, yakni keberadaan rekan yang mampu memberi kover.

Di Chelsea musim lalu, Matic punya Kante sebagai rekan dan seperti yang sudah kita ketahui bersama, Kante adalah jelmaan dari Claude Makelele itu sendiri. Di Manchester United nanti, Matic juga akan memiliki Ander Herrera, sosok gelandang hibrida destroyer dan box-to-box yang begitu diandalkan Jose Mourinho musim lalu. Ada kemungkinan bahwa di United nanti, Matic masih akan berperan seperti bagaimana dia biasa berperan di Chelsea.

Jadi, begitulah sekilas mengenai holding midfielder. Setelah ini, masihkah Anda menganggap Michael Carrick dan Sergio Busquets sebagai pemain yang biasa-biasa saja?