Kumparan Logo

Mengapa Proyek Naturalisasi Timnas Singapura Kini Tergerus?

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Striker Singapura, Agu Casmir. (Foto: Ahmad Zamroni/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Striker Singapura, Agu Casmir. (Foto: Ahmad Zamroni/AFP)

Memasuki 2004, sepak bola Singapura perlahan mulai bangkit. Hal itu ditandai oleh juaranya mereka di ajang Piala AFF pada tahun itu. Ya, itu kali pertama mereka menjadi juara setelah sebelumnya diraih pada tahun 1998.

Bangkitnya Singapura dimulai dari gagasan Asosiasi Sepak Bola Singapura (FAS) untuk melakukan naturalisasi pemain. Ide cukup instan untuk bisa memajukan sepak bola dan nyatanya menguntungkan untuk Singapura. Kebijakan itu tak lepas dari terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) mereka mengingat jumlah penduduk yang juga tak terlalu banyak.

Pada gelaran Piala AFF 2004, tiga nama naturalisasi mengisi skuat Singapura. Ketiganya pun memberikan kontribusi penting untuk permainan dari Singapura.

Daniel Bennett yang merupakan seorang pemain belakang mampu memperkokoh pertahanan Singapura. Duetnya bersama Baihakki Khaizan menjadi tembok yang sulit diterobos lawan.

Kemudian, ada Itimi Dickson dan Agu Casmir yang memperkuat lini serang 'Negeri Singa'. Bahkan, nama terakhir menjadi pencetak gol terbanyak kedua dengan 6 gol di bawah Ilham Jayakesuma yang sukses menyarangkan 7 gol.

Uniknya, baik Agu dan Itimi sama-sama memperkuat tim di Liga Indonesia setelahnya. Agu Casmir sempat membela Persija pada musim 2010/11. Lalu, Itimi Dickson juga sempat membela Persitara Jakarta Utara pada 2007 hingga 2009.

Kesuksesan Singapura melakukan naturalisasi berlanjut di edisi berikutnya. Singapura menambahkan Precious Emuejeraye dan gelandang asal Serbia, Fachrudin Mustafic ke dalam skuatnya di Piala AFF 2007.

Keduanya semakin memperkuat lini belakang dan tengah Singapura. Maka tak heran di Piala AFF edisi 2007 ini Singapura kembali keluar sebagai juara.

embed from external kumparan

Lalu, pada Piala AFF tahun 2012 Singapura kembali keluar sebagai juara dengan pemain naturalisasinya. Kali ini penyerang gaek Aleksandar Duric yang dinaturalisasi kendati usianya sudah menginjak 37 tahun.

Dinaturalisasinya Duric memang bukan tanpa sebab, pemain kelahiran Serbia ini tampil moncer di Singapore League. Duric sukses mengemas 8 trofi S.League dan juga menjadi pencetak gol terbanyak selama 4 kali (2007, 2008, 2009, 2013) di Singapura

Duric lalu menunjukkan kapasitasnya bersama Timnas Singapura. Bermain bersama Khairul Amri di lini depan, keduanya sukses mencatatkan 11 gol dan membawa Singapura menjadi juara untuk keempat kalinya.

Namun, prestasi Singapura seketika merosot. Salah satu alasannya adalah tak ada lagi pemain naturalisasi baru yang digunakan oleh Singapura. Bahkan, di Piala AFF 2014 tak ada sama sekali pemmain naturalisasi yang dipanggil oleh pelatih Bernd Strange.

Prestasi Singapura di tahun itu pun jeblok. Meski bermain di rumah sendiri, Singapura gagal lolos dari fase grup B setelah hanya menempati urutan ketiga dengan tiga angka.

Kemudian di edisi 2016, Singapura memakai lagi pemain naturalisasi. Namun, yang dipanggil kali ini ialah nama-nama lawas seperti Mustafic dan Daniel Bennett. Usia yang tak muda lagi membuat keduanya tak bisa berbuat banyak untuk Singapura. Lagi-lagi, Singapura tak bisa lolos ke babak semifinal Piala AFF di tahun tersebut.

Penyerang Timnas Singapura, Khairul Amri (merah), saat berlaga di Piala AFF. (Foto:  Photographer	Roslan Rahman/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Penyerang Timnas Singapura, Khairul Amri (merah), saat berlaga di Piala AFF. (Foto: Photographer Roslan Rahman/AFP)

Nah, pada tahun ini Singapura kembali tampil di Piala AFF tanpa satupun pemain naturalisasi. Di bawah arahan pelatih lokal Fandi Ahmad, Singapura mempercayai skuatnya kepada pemain-pemain lokal.

Kendati begitu, bukannya tak ada nama-nama senior yang menghiasi skuat Singapura. Juara Piala AFF 4 kali ini masih diperkuat pemain seperti Khairul Amri, Shahril Ishak, dan bek berpengalaman Baihakki Khaizan.

Lantas, apa yang membuat program naturalisasi Singapura terhenti?

Memang, semenjak FAS berganti tampuk kepemimpinan di bawah Lim Kia Tong pada 2017 lalu, Singapura sudah jarang melakukan naturalisasi pemain. Mereka lebih ingin melakukan pembinaan usia dini guna mengisi skuat di Timnas-nya pada masa mendatang. Selain tak ingin melakukan naturalisasi, Singapura juga mempersulit izin bagi orang asing untuk mendapatkan paspor atau kewarganegaraan mereka.

Selain itu, FAS juga melakukan perubahan regulasi pada kompetisinya. Keharusan menggunakan pemain U-23 di dalam sebuah tim menjadi alasan program pembinaan usia dini ingin dilakukan. Dengan program bernama Young Lions dan National Football Academy, Singapura mencoba membangun bibit muda di skuatnya untuk masa depan.

embed from external kumparan

Maka tak heran, Singapura sudah jarang sekali menggunakan pemain-pemain naturalisasi. Proyek dan aturan ini lalu berimbas kepada prestasi timnas mereka.

Timnas Singapura pun tak menjadi unggulan di Piala AFF kali ini. Bergabung di Grup B bersama Thailand, Filipina, Laos, dan Indonesia, Singapura diprediksi sulit menjejaki semifinal.

Persepsi itu pun diamini sendiri oleh Fandi. Sang juru latih mengakui skuat asuhannya kini kerap diremehkan.

"Kami tidak terbaik dan favorit sekarang. Mungkin keempat atau kelima, selevel dengan Timor Leste. Tapi, saya yakin kami bisa buat kejutan," kata Fandi.

Mampukah Singapura berbicara lantang tanpa produk naturalisasinya? Menarik dinantikan.