Menjelaskan Bagaimana Gol Ajax Bisa Dianulir

Pendukung Ajax Amsterdam pasti merasa kesal dengan keputusan Damir Skomina yang memimpin laga babak 16 besar Liga Champions menghadapi Real Madrid, Kamis (14/2/2019) dini hari WIB.
Keputusan itu diambil Skomina saat laga di Johan Cruijff Arena berlangsung 38 menit. Suasana stadion menjadi riuh dan para pemain Ajax tengah merayakan gol Nicolas Tagliafico. Sementara itu, Skomina yang sempat mengesahkan lesakan Ajax, berjalan ke pingir lapangan demi melakukan evaluasi lewat fitur video assistant referee (VAR).
Skomina kemudian kembali ke lapangan dan membentangkan kedua tangan. Itu artinya, gol Tagliafico tidak sah dan papan skor kembali berubah menjadi 0-0.
Ketetapan Skomina turut memengaruhi hasil pertandingan karena Ajax kalah dengan skor 1-2. Dwigol Los Blancos via Karim Benzema (60') dan Karim Benzema (75') cuma dibalas Ajax lewat Hakim Ziyech (75').
Sejumlah media Eropa lantas menggunakan gol Tagliafico yang dianulir sebagai bumbu dalam laporan pertandingan. Seolah-olah Madrid menang berkat bantuan wasit.
Benarkah anggapan demikian? Daripada langsung menuding karena terbawa arus, mari kita menelaah alasan di balik ketetapan Skomina dan membedahnya lewat Laws of the Game.
Begini, telah dikonfirmasi oleh akun Twitter resmi Liga Champions bahwa Skomina memutuskan demikian dengan dua alasan. Pertama, Dusan Tadic yang merupakan penyerang Ajax terperangkap offside saat gol terjadi. Pemilik nama terakhir juga dianggap mengganggu upaya kiper Thibaut Courtois dalam menangkap bola.
Gangguan terhadap penjaga gawang terpapar dalam Law 12. Salah satu poinnya berbunyi: Merupakan pelanggaran jika membatasi pergerakan kiper secara tidak adil dan menghalangi dia, seperti dalam situasi sepak pojok.
Nah, Tadic memang tidak menyentuh bola, tetapi posisinya benar-benar menempel Courtois. Inilah pertimbangan utama Skomina dalam menganulir gol Ajax setelah melihat tayangan ulang. Belum lagi keberadaan Tadic beberapa sentimeter di belakang pemain non-kiper terakhir Madrid.
"Tadic ikut memengaruhi permainan. Karena dia, kiper tidak bisa menjangkau bola," tutur Eduardo Iturralde González yang merupakan eks wasit FIFA, seperti dilansir oleh AS.
Apa yang dirasakan Courtois juga menguatkan ketetapan Skomina. Penjaga gawang Belgia itu mengaku terburu-buru maju untuk menangkap bola karena mengkhawatirkan kehadiran Tadic jika terjadi kemelut.
"Saya ingin menangkap bola saat pemain lain melakukan tandukan. Saya bergerak cepat karena Tadic. Jadi, menurut saya, keputusan wasit sudah tepat. Kami juga beruntung dengan kehadiran VAR. Karena tak seorang pun melihat kejadian tersebut," ucap Courtois sebagaimana dikutip dari FourFourTwo.
Lebih dari itu, dukungan juga didapatkan Skomina dari kapten Madrid, Sergio Ramos. Pemilik nama terakhir bersyukur karena VAR sudah diterapkan di fase gugur Liga Champions. Dan lesakan Ajax menjadi yang pertama dianulir lewat fitur tersebut.
Ya, kalau tidak ada VAR, Madrid kemungkinan besar mengakhiri paruh pertama dengan ketinggalan 0-1. Bisa saja lebih menimbang betapa dashyat serangan Ajax via 11 percobaan pada paruh pertama.
"Saya adalah orang yang mendukung penggunaan VAR. Sedikit demi sedikit, sepak bola akan lebih adil. Fitur ini kadang merugikan kami, tetapi telah menganulir gol penting hari ini," ucap Ramos.
