kumparan
2 Nov 2018 16:49 WIB

Menyambut Bernardo Silva sebagai Subtitusi Ideal De Bruyne

Bernardo Silva, senjata rahasia City. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)
Kevin De Bruyne cedera. Pernyataan di atas hampir pasti bakal membuat Pep Guardiola pusing bukan kepalang. Eits, itu dulu, lain dengan sekarang -- setidaknya tak membuat pelatih berkepala pelontos itu mesti memutar otak lebih kencang lagi.
ADVERTISEMENT
Guardiola dengan paham juego de posicion-nya selalu membutuhkan figur pemain yang mampu mengalirkan bola. Jangankan pemain, untuk seorang penjaga gawang sekalipun dirinya juga menerapkan standar yang sama. Lebih-lebih pada sektor gelandang yang tugasnya kompleks.
Perpaduan visi dan spesialisasi olah bola, serta kemampuan untuk manjaga keseimbangan bisa dibilang jadi syarat utama untuk mengisi area sentral tersebut. Toleh saja eksistensi Xavi Hernandez-Andres Iniesta yang jadi andalannya di Barcelona dan serta Philipp Lahm-Xabi Alonso yang intens menghiasi lini tengah Bayern Muenchen.
Serupa yang dilakukannya bersama Manchester City, via De Bruyne, David Silva, dan Fernandinho. Nama yang disebut belakangan memiliki peran yang paling kentara dibanding kedua tandemnya, sebagai pelindung back-four sekaligus penyambung bola dari barisan belakang.
ADVERTISEMENT
Sedangkan De Bruyne dan Silva meliki tugas yang identik sebagai kreator serangan --kendati keduanya memiliki cara yang berbeda untuk menafsirkannya. Silva dibebaskan untuk bergerak maju, sekaligus memberi ruang kepada trisula tedepan mereka. Sementara De Bruyne, cenderung memaksimalkan umpan untuk menciptakan peluang dengan spesialisasinya dalam membaca pergerakan rekan setimnya.
Pendek kata, jalur serangan City terdiri dari tiga bagian utama. Lini belakang via Laporte --sebelumnya digenggam Nicolas Otamendi-- dari lini belakang, Fernandinho di area tengah, dan diteruskan kepada De Bruyne untuk disebarkan ke trisula terdepan.
Itulah mengapa De Bruyne menjadi pemain City yang paling aktif dalam melepaskan umpan kunci di Premier League musim lalu. Catatan yang berbanding lurus dengan torehan assistnya yang menyentuh angka 16, terbanyak di Premier League.
ADVERTISEMENT
See? Bisa dibayangkan betapa pentingnya peran De Bruyne dalam kabinet kerja Guardiola. Masalahnya, pemain yang pernah berseragam Chelsea itu kembali mengalami cedera. Sebelumnya dia sudah absen dua bulan usai mengalami cedera ligamen saat menjalani latihan pertengahan Agustus lalu.
Kenyatannya, City tak serapuh itu. Guardiola masih bisa menuntun The Citizens memuncaki klasemen sementara Premier League. Tak tanggung-tanggung, 10 pertandingan mereka lalui tanpa kekalahan.
Gelandang Manchester City, Kevin De Bruyne. (Foto: Oli Scarf/AFP)
Bila ada satu pemain yang mampu menghapuskan andil heroik De Bruyne, Bernardo Silva jadi nama terdepan. Pemain yang digaet dari AS Monaco itu terbukti fasih untuk mengisi pos yang ditinggalkan De Bruyne.
Dari tipikal gelandang, Silva dan De Bruyne memiliki benang merah yakni sebagai kreator serangan. Namun, secara permainan, gelandang berusia 24 tahun itu justru cenderung mirip dengan (David) Silva, ketimbang De Bruyne. Konsep yang tertuang saat Silva mengantar Monaco menjuarai Ligue 1 2016/2017 lalu.
ADVERTISEMENT
Kala itu Leonardo Jardim intens menempatkannya di pos winger kanan dalam format 4-4-2. Ya, sisi sayap memang jadi tumpuan pelatih kelahiran Venezuela itu. Hasilnya moncer, Silva menjadi pencipta peluang tertinggi di timnya dengan rata-rata 1,9 per laga. Makin disempurnakan dengan torehan 8 gol dan 9 assist yang dibuatnya di Ligue 1.
Nah, nilai plus Silva adalah kemampuannya dalam bermain multiposisi. Bukan cuma sebagai gelandang sayap, dia juga mampu bermain di pos penyerang sayap, gelandang serang, dan juga gelandang tengah. Spesialisasi demikian yang membuatnya lebih dari sekadar pengganti De Bruyne, tetapi juga melengkapi kebutuhan Guardiola di sektor tengah.
Silva memang lebih sering bermain sebagai gelandang kanan, yakni dengan catatan 540 menit. Namun, pemain berpaspor Portugal itu juga terbukti tokcer kala bermain di pos lainnya. Saat turun sebagai gelandang serang dia berhasil mencetak masing-masing satu gol dan assist. Bahkan, Silva juga bermain apik sebagai gelandang bertahan saat bersua Liverpool di Premier League pekan kedelapan.
ADVERTISEMENT
Gelandang dengan kemampuan aksi bertahan memang dibutuhkan Guardiola untuk melengkapi peran Fernandinho, seperti yang diterapkan De Bruyne musim lalu. Dalam hal ini catatan Silva juga tak buruk-buruk amat karena mengukir rata-rata 1,2 tekel per laga di ajang liga. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut hanya kalah tipis dari Fernandinho dan Kyle Walker sebagai pendulang tekel terbanyak di angka 1,4.
Para pemain Manchester City rayakan gol Riyad Mahrez. (Foto: REUTERS/David Klein)
Mengenai stok gelandang, Guardiola sebenarnya masih punya Ilkay Guendogan, Riyad Mahrez, atau Phil Foden sebagai alternatif. Namun, ya, itu, ketiganya tak fasih dalam memainkan peran sebagai gelandang yang aktif dalam menyerang dan bertahan, serta memainkan beberapa posisi dan peran sekaligus. Dan Silva, terbukti mampu memenuhi syarat kompleks yang diinginkan Guardiola, sekaligus pengganti sempurna De Bruyne.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan