Mereka, Para Tembok Terakhir Timnas Indonesia di Piala AFF

"Peran seorang penjaga gawang sangat sulit untuk dinilai, apalagi jika kamu bukan seorang penjaga gawang."
Ucapan tersebut keluar dari mulut seorang Gianluigi Buffon, salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah ada di dunia. Buffon benar, menilai penjaga gawang hebat sangat sulit. Seorang penjaga gawang bisa melakukan satu atau dua penyelamatan tetapi itu tak akan ternilai bila pemain lain mencetak gol dan menentukan kemenangan.
Penjaga gawang pun memiliki tugas yang cukup berat. Satu kesalahan bisa langsung berakibat gol bagi lawannya.
Di Indonesia sendiri, banyak penjaga gawang yang sangat berbakat. Memang, sejak dulu kala Indonesia tidak pernah kekurangan dalam sektor penjaga gawang ini.
Kali ini, kumparanBOLA mencoba merangkum penjaga gawang yang pernah membela Indonesia di Piala AFF.
Listianto Rahardjo
Listianto Rahardjo atau yang akrab disapa Bejo mengawal gawang Timnas Indonesia pada gelaran Piala AFF 1996. Saat itu, Bejo yang berusia 28 tahun mendapat tempat utama di susunan 11 awal pemain Indonesia.
Bejo mengalahkan deputinya seperti Sumardi dan Kurnia Sandy yang harus rela menjadi penjaga gawang kedua dan ketiga. Pada fase grup, Bejo tampil dengan sangat baik.
Dalam empat pertandingan yang dilalui, Bejo hanya kebobolan dua kali dan dua kali gawangnya tidak kemasukkan. Akan tetapi, saat babak semifinal, Bejo tak bisa melanjtkan kedigdayaanya. Tiga gol harus bersarang ke gawangnya oleh para pemain Malaysia. Indonesia pun harus menyerah dengan skor 1-3.
Kurnia Sandy
Salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini tampil di laga yang memilukan pada gelaran Piala AFF 1998. Ya, saat itu Sandy tampil dalam laga menghadapi Thailand di babak terakhir grup A.
Menghadapi Thailand, Indonesia menyerah dengan skor 3-2. Sialnya, gol terakhir yang tercipta ke gawang Sandy terjadi oleh rekannya sendiri yakni Mursyid Effendi.
Ketika itu, baik Thailand maupun Indonesia sengaja untuk menyerah agar tidak berjumpa dengan Vietnam di laga semifinal. Kedua kesebelasan pun tak bermain dengan kekuatan terbaik saat itu.

Indonesia lalu menyerah dan berjumpa Singapura. Nah, di babak semifinal Indonesia kalah dengan skor 1-2. Kurnia Sandy pun gagal membawa Timnas Indonesia untuk pertama kali menjadi juara Piala AFF.
Kini, Sandy memiliki kesempatan untuk membawa Indonesia juara. Bukan, Sandy bukan lagi menjadi pemain, pemain yang pernah menjalani latihan di Italia ini menjadi pelatih penjaga gawang di Timnas Indonesia saat ini.
Hendro Kartiko
Untuk ukuran penjaga gawang, Hendro Kartiko tak memiliki postur yang mumpuni. Badanya terlalu kecil dan kurus untuk menjaga gawang dari serangan-serangan lawan.
Namun, lompatan serta refleknya yang baik membuat urusan postur sirna begitu saja. Hendro pun dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dipunyai oleh Indonesia.
Pria yang dijuluki sebagai Fabian Barthez Indonesia ini memiliki 60 caps bersama Timnas Indonesia. Hendro juga menjadi penjaga gawang yang cukup sering tampil di Piala AFF.
Tercatat 4 edisi sudah Hendro tampil di Piala AFF. Pertama pada 2000, saat itu Hendro berhasil membawa skuat 'Garuda' ke pertandingan final. Sayang, menghadapi tuan rumah Thailand di pertandingan final, gawang Hendro harus kebobolan empat kali.
Dua tahun berselang, Hendro kembali menjadi penjaga gawang utama Timnas Indonesia. Lagi-lagi pertandingan final kembali dijejakinya dan lagi-lagi Indonesia harus kalah dari Thailand melalui babak adu penalti.
Pada edisi 2004, kembali Hendro membawa Timnas Indonesia ke babak final. Pria asal Banyuwangi itu bahkan tak kebobolan di fase grup. Kebobolan tiga gol di babak semifinal, Hendro sukses membawa Indonesia ke partai puncak usai mengalahkan Malaysia dengan skor agregat 5-3.
Namun, di pertandingan final menghadapi Singapura, Hendro tak bisa berbuat banyak. Dalam pertandingan yang berlangsung dua leg, gawang Hendro kebobolan sebanyak lima kali dan Indonesia kalah dengan agregat 2-5.
Edisi terakhir Hendro Kartiko bersama Timnas Indonesia di Piala AFF berakhir dengan kurang baik. Pria yang pernah memperkuat Persija dan Arema FC ini gagal membawa 'Merah Putih' lolos ke babak semifinal pada edisi 2007.
Markus Haris Maulana
Nama Markus mencuat lantaran penampilan gemilangnya bersama PSMS Medan. Pria berkepala plontos itu lalu masuk skuat Indonesia di ajang Piala Asia 2007. Laga awal menghadapi Bahrain dan Arab Saudi, Markus tak dimainkan oleh Ivan Kolev.
Baru di laga penentu menghadapi Korea Selatan, Markus bermain menggantikan Yandri Pitoy. Dimainkannya Markus lantaran ia memiliki postur yang baik sebagai penjaga gawang. Kolev menginginkan Markus bisa mengantisipasi umpan-umpan silang dari pemain Korea Selatan.
Nah, nasib Markus kembali mujur dan dirinya masuk ke dalam skuat Piala AFF 2008. Tampil sebagai penjaga gawang utama, Markus berhasil membawa Indonesia ke babak semifinal. Pada fase grup gawang Markus hanya bobol sebanyak dua kali saja.
Namun, di semifinal Markus harus rela gawangnya terkoyak lebih banyak. Menghadapi Thailand, Indonesia kalah dengan skor agregat 1-3 dan mengubur mimpi lolos ke babak semifinal.
Lalu, Markus kembali masuk skuat di ajang Piala AFF 2010. Untuk kali ini, Markus sukses membawa Indonesia ke pertandingan final. Tapi, di laga final Markus dan kolega harus mengakui keunggulan dari Malaysia dengan skor agregat 2-4.
Endra Prasetya dan Wahyu Tri Nugroho
Piala AFF 2012 menjadi yang tersuram untuk Indonesia. Faktor dualisme yang terjadi di federasi membuat pelatih Timnas Indonesia kala itu yakni Nilmaizar tak bisa memilih pemain-pemain terbaiknya. Pada penjaga gawang saja, nama Wahyu Tri Nugroho dan Endra Prasetya yang dipilih oleh Nil.
Laga awal menghadapi Laos, Endra yang dipercaya tampil sejak awal. Akan tetapi, kartu merah yang diterima penjaga gawang Persebaya itu membuatnya harus diganti oleh Wahyu Tri Nugroho.

Penjaga gawang yang kini bermain untuk Bhayangkara FC itu berhasil melakukan clean sheet di laga kedua menghadapi Singapura. Sayang, di laga terakhir, Wahyu harus puas gawangnya dibobol dua kali dan membuat Indonesia kalah dengan skor 2-0. 'Skuat Garuda' gagal lolos ke babak semifinal karena hanya berada di posisi tiga klasemen akhir Grup A.
Kurnia Meiga
Pada 2010, Kurnia Meiga masuk ke dalam skuat Timnas Indonesia untuk Piala AFF. Namun, penjaga gawang Arema ini hanya menjadi pilihan ketiga usai Markus Haris Maulana dan Ferry Rotinsulu.
Baru pada edisi 2014 dan 2016, Kurnia Meiga mendapat tempat utama di bawah gawang Indonesia. Pada edisi 2014 yang dihelat di Vietnam, nasib Meiga tak baik.
Sebanyak tujuh gol bersarang di gawang adik dari Achmad Kurniawan ini. Meiga pun gagal membawa Indonesia lolos ke babak semifinal usai hanya bertengger di posisi tiga dengan 4 angka.
Baru pada 2016, Meiga tampil sangat brilian. Pemain terbaik ISL tahun 2009 ini sukses membawa Indonesia ke pertandingan final Piala AFF. Di laga final, Meiga pun berhasil tampil baik.
Tendangan penalti dari Teerasil Dangda di laga final leg kedua berhasil ia halau. Namun, Meiga gagal menghalau bola hasil sepakan Siroch Chattong, Indonesia pun kalah dengan skor agregat 2-3.
Kendati demikian, Meiga tetap menjadi penjaga gawang terbaik turnamen kala itu. Meiga mengalahkan penjaga gawang Thailand, Kawin Thamsatchanan, yang juga bermain gemilang.
***
Dengan caps dan pengalaman yang banyak, nama Hendro Kartiko merupakan salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Tidak hanya itu, Hendro juga berhasil membawa Indonesia tiga kali masuk ke babak final Piala AFF.
Pada tahun ini, posisi penjaga gawang Indonesia sudah hampir pasti milik dari Andritany Ardhyasa. Penampilan yang baik bersama Persija membuat Bagol--sapaan akrab Andritany--diprediksi bakal menjadi pilihan utama Bima Sakti.
Nah, bisakah Andritany membantu Indonesia menjadi juara Piala AFF untuk pertama kalinya? Menarik dinantikan.
