Messi: Hebat di Camp Nou, Menghilang di Anfield

Leg pertama semifinal Liga Champions 2018/19 membuktikan argumen ini. Lionel Messi acap menghilang lantas muncul dalam satu momen yang ternyata menjadi titik penentu.
Dalam keadaan terjepit, Messi seperti menghilang, memisahkan diri dari skema permainan tim. Namun, itu tak selamanya. Tiba-tiba dia muncul, lantas menuntaskan segala persoalan yang dihadapi oleh timnya.
Momen seperti itu muncul di pertengahan babak kedua. Oke, di sepanjang babak pertama, aksinya masih bisa dinikmati. Namun, usai turun minum hingga kira-kira menit 60-an akhir, Messi ibarat ditelan Bumi: menghilang. Ia hanya berurusan dengan umpan-umpan pendek yang sebenarnya tak berpengaruh apa pun pada tim jika tak diurus.
Di saat seperti ini, kita--para penonton--mulai mempertanyakan kualitas si megabintang asal Argentina. Lantas, saat kita sibuk merutuk dan mencemooh, Messi muncul. Entah bagaimana awalnya, ia sudah mendribel bola melewati kawalan empat pemain jelang menit ke-75.
Bola tersebut sampai ke kaki Luis Suarez. Sontekan si penggawa Uruguay hanya membentur mistar gawang. Namun, Messi belum selesai. Penempatan posisi yang tepat memampukannya meneruskan bola muntah tadi menjadi gol yang mengantarkan Barcelona pada keunggulan 2-0.
Bek sekelas Virgil van Dijk saja tak mampu membaca permainan Messi sehingga hanya tertegun menyaksikannya melepaskan sepakan jarak dekat. Lantas, semuanya ditutup dengan tendangan bebas melengkung yang menjadi gol ke-600-nya.
Berangkat dari penampilan seperti itu, tak berlebihan jika ada begitu banyak orang yang berharap kejadian serupa terulang di leg kedua. Kalau perlu, lebih heboh, lebih ekstravaganza. Apalagi, Barcelona sudah menang 3-0 di putaran pertama.
Mereka ingin melihat Messi bertaruh lebih liar karena melihat hitung-hitungan di atas kertas, posisi Barcelona sudah jauh lebih aman ketimbang Liverpool. 'Kan sudah unggul tiga gol.
Tapi, tak ada gayung bersambut. Messi menghilang di leg kedua. Bila ditotal, ia hanya membukukan lima upaya tembakan dengan dua di antaranya tepat sasaran. Selebihnya, tak ada. Messi benar-benar terputus dari sistem permainan timnya.
Tim mana pun, selama bertanding melawan Barcelona, akan menjadikan Messi sebagai Goliat. Ia adalah lawan utama yang mesti dijatuhkan sebelum mengalahkan tim. Messi adalah kreator serangan utama, ditunjukkan dengan 2,75 umpan kunci di semua kompetisi bersama Blaugrana musim ini.
Itu belum ditambah dengan 46 golnya di konteks pembahasan yang sama, hasil dari 5,25 tembakan per laga. Perubahan strategi Ernesto Valverde dari 4-3-3 ke 4-4-2 memang turut mengubah peran Messi: dari penyerang sayap ke pengatur serangan. Itulah sebabnya, Messi menjadi 'dalang' yang acap mengatur serangan Barcelona.
Di sisi lain, gegenpressing yang diusung oleh Juergen Klopp menjadikan Liverpool begitu agresif saat merebut bola dari lawan. Berangkat dari sini, Liverpool seharusnya bertahan secara dalam dan memberikan tekanan kepada setiap pemain Barcelona yang memegang bola, terutama saat bola mengarah ke kaki Messi.
Intinya, menutup peluang sedini mungkin. Cara ini berhasil. Bahkan di paruh kedua, Messi hanya dua kali melepaskan tembakan: masing-masing satu dari dalam dan luar kotak. Messi juga menjadi pemain Barcelona yang paling banyak kehilangan bola di sepanjang laga, yaitu delapan kali.
Sebagai sosok yang acap jadi pengatur serangan, Messi memang mati kutu. Ini tak dapat dipisahkan dari solidnya tekanan Liverpool sejak lini tengah. Fabinho dan Jordan Henderson memang tak dinamis, tetap efektif memutus umpan dan membelokkannya menjadi hulu serangan The Reds.
Matinya permainan Messi tak cuma tentang aksi duet Fabinho-Henderson. Ada peran Andrew Robertson, si bek kiri. Robertson mungkin tak bermain se-dandy Trent Alexander-Arnold. Tapi, Robertson secara konstan menekan Messi sehingga aliran bola tertutup bahkan putus di tengah jalan.
Salah satu penanda yang menunjukkan matinya permainan Messi adalah aksi dribelnya yang begitu minim. Di sepanjang laga, Messi cuma mencatatkan empat dribel sukses dari lima upaya. Bandingkan di leg pertama. Kala itu, Messi mendikte lawan lewat umpan-umpan pendek dan aksi dribelnya. Menurut Whoscored, Messi melakukan 13 upaya dribel dengan sembilan di antaranya tercatat sebagai dribel sukses.
Bahkan watak Robertson yang satu ini tetap muncul walau ia cedera. Hanya, mau tak mau Robertson memang harus ditarik keluar. Entah ada berapa banyak suporter Liverpool yang bertepuk tangan girang saat menyaksikannya dengan penuh semangat dan determinasi melakukan pressing, kemudian menerobos sisi kanan Barcelona.
Tak heran jika Messi mengeluh kesal menghadapi Robertson yang keras kepala. Lalu yang terlihat setelahnya adalah adegan komikal ini: Dengan entengnya Robertson menoyor kepala Messi yang terduduk--seolah-olah yang ada di depannya itu pemain kelas teri.
Belum ada jaminan apakah Robertson bisa bermain di final nanti atau tidak karena cedera ini. Kalau pada akhirnya Robertson memang tak bisa bermain, maka Klopp mesti memastikan pilihannya tak akan kalah gigih dibanding anak didiknya yang satu ini. Tapi, itu baru tugas pertama.
Kalau menurut keputusan medis Robertson memang tidak bisa bermain, maka yang harus dipastikan Klopp adalah Robertson benar-benar tidak berulah, menyusup ke lapangan, dan memaksakan diri untuk bermain. Ucapannya yang menegaskan bahwa yang terpenting adalah tim, bukan cederanya, rasanya tak bisa dianggap sebagai isapan jempol belaka.
