Kumparan Logo

Mourinho Bahkan Tak Bisa Egois Saat Menjuarai Liga Champions 2010 Bersama Inter

kumparanBOLAverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatih Inter Milan, Jose Mourinho mengangkat trofi setelah memenangkan pertandingan final Liga Champions UEFA. Foto: AFP/CHRISTOPHE SIMON
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Inter Milan, Jose Mourinho mengangkat trofi setelah memenangkan pertandingan final Liga Champions UEFA. Foto: AFP/CHRISTOPHE SIMON

Kalau bisa menjuarai tiga gelar dalam semusim, buat apa puas dengan satu trofi? Jose Mourinho mengamininya, lalu mengantar Internazionale Milan sebagai kampiun Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions 2009/10. Treble winner, tiga trofi mayor dalam semusim.

Mourinho mengenang kembali perjalanan itu. Kemenangan 2-0 atas Bayern Muenchen pada 22 Mei 2010 memampukan Inter mencatatkan sejarah. Ini pertama kalinya predikat treble winner disegel oleh klub asal Italia.

Nama Mourinho melambung. Dunia boleh menyebutnya sebagai pelatih egois dan suka bicara semaunya, tetapi cuma dia yang berhasil mempersembahkan predikat harum semerbak itu buat Inter.

embed from external kumparan

Mourinho tak mau ambil pusing dengan anggapan yang muncul soal keberhasilan tersebut. Si Kuping Besar itu bukan untuk menyenangkan dirinya sendiri. Yang tumpah-ruah kala itu adalah sukacita pemain dan suporter.

"Di final melawan Bayern, tidak sekali pun saya memikirkan diri sendiri. Saya tidak pernah berpikir, 'Kalau menang, saya akan mengangkat trofi Liga Champions kedua saya.' Tidak sedikit pun terlintas di pikiran saya, 'Jika juara, saya bakal jadi FIFA Manager of the Year'," tutur Mourinho kepada Sky Sports.

"Pikiran saya waktu itu fokus pada memberikan sukacita buat orang lain. Momen itu bicara tentang apa artinya trofi tersebut untuk presiden Massimo Moratti, kapten sekaligus legenda seperti Javier Zanetti, seluruh pemain, dan suporter," papar Mourinho.

"Gelar itu bicara tentang mengenyahkan ego sendiri. Saya bahkan tidak bisa egois saat itu," tegas Mourinho.

Cuma Toldo yang bisa. Foto: PIERRE-PHILIPPE MARCOU / AFP

Pelatih asal Portugal ini memang pantas disebut sebagai dalang keberhasilan Inter mengandaskan Bayern. Bayern asuhan Louis van Gaal dibuat tak berdaya lewat strategi pertahanan rapat dan serangan balik yang menjadi ciri khas Mourinho.

Kedua gol di laga itu dicetak oleh Diego Milito. Meski baru diboyong dari Genoa pada awal 2009/10, Milito beradaptasi dengan cepat. Ia menjadi penyerang mematikan dengan mempersembahkan 30 gol di semua kompetisi untuk Inter.

"Saya merasa spesial karena tetap berusaha mengatur diri untuk tetap rendah hati dan tenang meski pencapaian tersebut membawa saya pada momen penting," jelas Mourinho.

Jose Mourinho merayakan gelar juara Liga Champions 2009/10. Foto: CHRISTOPHE SIMON / AFP

"Fokus saya adalah apa artinya gelar juara ini buat orang-orang. Rasanya sangat indah karena tim dan suporter memberikan efek dan kekuatan pada saya."

"Berulang kali saya mendengar bahwa saya sangat penting bagi mereka dan meninggalkan pengalaman personal untuk mereka. Namun, saya melihat sebaliknya. Merekalah yang penting bagi saya," tutur Mourinho.

Jika ada yang lebih dramatis ketimbang laga final Liga Champions 2009/10, semifinal adalah jawabannya. Ketika itu, Inter mesti berlaga melawan Barcelona asuhan Pep Guardiola.

Hanya Mourinho yang tahu pasti apa yang berkecamuk dalam pikirannya ketika tahu bahwa Inter didikannya mesti berlaga melawan Barcelona.

Inter Milan dan treble winner. Foto: PIERRE-PHILIPPE MARCOU / AFP

Kalaupun ada kesumat, itulah yang mendorong Mourinho mempersiapkan timnya selama berhari-hari. Di setiap sesi, ia mendidik agar saat bertanding nanti, kiper bersiaga penuh, sementara sembilan dari 10 pemain lainnya bersiaga di dalam kotak penalti.

Thiago Motta memang mendapat kartu merah pada menit ke-28 leg kedua, tetapi pertahanan gerendel itu membuat Barcelona mati kutu. Barcelona memang menang 1-0 berkat gol Gerard Pique di menit 84. Catatannya, di laga pertama Inter sudah menang 3-1.

Keunggulan 3-2 menjadi modal Mourinho untuk melangkah ke final Liga Champions. Ke hadapan suporter Barcelona ia berlari, mengacungkan telunjuk seolah-olah berkata bahwa hari ini, dia lebih baik daripada Guardiola.

Bagi Mourinho, kekalahan itu adalah kekalahan terindah dalam hidupnya.

====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona!