kumparan
23 Agu 2019 9:03 WIB

Musim Panas 1984, Socrates Mencari Antonio Gramsci di Firenze

Socrates memperkuat Fiorentina dalam sebuah pertandingan Serie A. Foto: Pinterest/Retro Football Photo
Bukan Gianni Rivera, bukan pula Sandro Mazzola, melainkan Antonio Gramsci. Ketika ditanya soal siapa sosok Italia favoritnya, itulah jawaban yang meluncur dari bibir Socrates.
ADVERTISEMENT
"Aku tidak tahu siapa mereka. Aku di sini untuk membaca karya-karya Gramsci dalam bahasa aslinya dan untuk mempelajari sejarah pergerakan kaum pekerja," katanya.
Tahunnya adalah 1984 ketika pernyataan itu diutarakan oleh Socrates. Ketika itu dia akhirnya mau menerima tawaran untuk bermain di Italia. Dua tahun sebelumnya, usai memimpin Brasil di Piala Dunia 1982, tawaran serupa sudah pernah datang tetapi Socrates menolaknya.
Tidak diketahui secara pasti klub Italia mana yang mencoba meminang Socrates pada 1982 itu. Yang pasti, tawaran tersebut ditolak karena Socrates tidak mau bermain sepak bola untuk uang semata. Baru dua tahun kemudian dia sudi hijrah ke tanah Italia dan, ternyata, tujuannya memang bukan untuk memperkaya diri.
Socrates pindah ke Italia untuk bergabung dengan Fiorentina. Ini sebenarnya agak aneh karena Firenze, kota tempat Fiorentina berbasis, bukan merupakan pusat bagi pergerakan kaum pekerja dan bukan tempat Gramsci menjalankan aktivitas politiknya.
ADVERTISEMENT
Justru, Firenze adalah sumber dari segala hal yang dibenci oleh Socrates. Dari kota itulah Keluarga Medici berasal. Pada abad pertengahan keluarga itu menjadi salah satu yang paling kaya dan berpengaruh di Eropa berkat usaha perbankan yang mereka miliki.
Skuat Fiorentina musim 1984/85. Foto: Wikimedia Commons
Jika memang Socrates ingin serius menziarahi Gramsci, kota yang sebenarnya lebih pas untuk dia tinggali adalah Livorno. Di kota itulah Gramsci mendirikan Partai Komunis Italia. Sampai saat ini pun Livorno masih menjadi basis bagi pergerakan kaum kiri di Italia sana.
Namun, bagi Socrates, yang penting bukan di kota mana dia berada. Yang pokok, dia bisa sampai di Italia karena pemikiran Gramsci tentunya tidak cuma tersimpan di Livorno.
Gramsci merupakan seorang pemikir, sama seperti Socrates. Mereka pun tertarik kepada dunia politik karena melihat sendiri bagaimana penindasan dilakukan di depan mata kepala mereka.
ADVERTISEMENT
Pergerakan Gramsci sendiri awalnya berbasis di Torino, ketika dia mendapat beasiswa untuk belajar di universitas kota tersebut. Awalnya, dia lebih tertarik untuk belajar ilmu linguistik tetapi pada masa itu Torino sedang berada dalam fase industrialiasi paling krusial.
Pada masa itulah perusahaan mobil FIAT dan Lancia mulai berkembang pesat. Mereka pun merekrut banyak sekali buruh murah dari daerah-daerah miskin, utamanya di Italia bagian selatan,
Gramsci sendiri berasal dari Sardinia, wilayah yang sebenarnya sempat berjaya sebagai sebuah kerajaan tetapi kemudian terlupakan ketika Italia sudah bersatu. Solidaritas sesama kaum miskin itu yang membuat Gramsci kemudian kerap mengikuti aktivitas serikat pekerja dan pemikir-pemikir kiri lainnya.
Antonio Gramsci, filsuf kiri Italia. Foto: Encyclopedia Britannica
Semenjak itu Gramsci tak pernah lagi menengok ke belakang. Terlebih, setelah pada 1915 dia memutuskan berhenti kuliah di usia 24 tahun. Selepas itu Gramsci terus tenggelam dalam aktivitas politik kiri yang berpuncak pada pendirian Partai Komunis Italia tadi.
ADVERTISEMENT
Partai Komunis Italia itu dibentuk Gramsci dkk. pada 1921. Ketika itu situasi di Italia memang sedang panas-panasnya. Dua tahun sebelum itu mereka dikhianati oleh Inggris dan Prancis di meja perundingan Perjanjian Versailles.
Semestinya, berdasarkan Traktat London 1915, Italia akan mendapat kekuasaan penuh di wilayah Laut Adriatik seusai Perang Dunia I. Akan tetapi, dalam Perjanjian Versailles, janji itu tidak ditepati. Italia hanya diberi dua wilayah kecil di Eropa daratan.
Itu semua membuat Italia bergolak. Di Perang Dunia I sendiri hampir setengah juta serdadu mereka gugur. Padahal, itu semua tidak seharusnya terjadi seandainya Italia memilih bersikap netral seperti ketika pertempuran mulai meletus pada 1914.
Banyaknya orang Italia yang gugur itu membuat pertumbuhan ekonomi lesu. Pengangguran pun merajalela. Di situasi seperti itu fasisme dan sosialisme bersaing ketat untuk merebut hati masyarakat. Tak jarang, persaingan itu berujung pada pertempuran jalanan.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, kaum kiri harus mengakui kekalahan. Terhitung sejak 1922 Benito Mussolini naik takhta sebagai duce-nya Italia. Pergerakan Gramsci dkk. lewat Partai Komunis Italia pun akhirnya menemui ajal pada 1926 ketika Mussolini menjatuhkan larangan.
Diktator fasis Italia, Benito Mussolini. Foto: AFP/Publifoto
Gramsci pun lantas dijebloskan ke penjara. Di situ dia tidak berhenti berjuang. Lewat tulisan-tulisannya, Gramsci terus mengobarkan perlawanan terhadap rezim fasis Mussolini. Karya-karya ini yang kemudian menjadi buku berjudul 'Catatan dari Penjara'.
Lewat kumpulan tulisan tersebut Gramsci menjadi salah satu filsuf kiri terbesar abad ke-20 lewat teorinya mengenai hegemoni kultural. Menurut Gramsci, kelas penguasa telah memanipulasi kultur masyarakat sehingga cara pandang mereka terhadap dunialah yang diterima sebagai norma.
Ilmu itulah yang ingin diserap oleh Socrates, terutama karena dia sendiri menjadi korban represi junta militer Brasil yang sudah berkuasa sejak 1964. Represi pemerintah itu mulai dirasakan dirinya ketika berumur 10 tahun.
ADVERTISEMENT
Socrates kecil tahu bahwa buku adalah harta ayahnya yang paling berharga. Sang ayah, Raimundo, tak pernah mengenyam pendidikan tinggi tetapi dia adalah sosok yang gemar belajar, khususnya soal filsafat. Bukan tanpa alasan dia menamai anaknya dengan nama filsuf Yunani Kuno.
Ketika junta militer mulai berkuasa Socrates melihat ayahnya harus merobek-robek buku di perpustakaan pribadinya. Sejak itu naluri pemberontaknya mulai tumbuh. Dia tidak menyukai apa yang dia lihat dan sejak saat itu selalu berusaha untuk melawan kelaliman.
Pemain-pemain Fiorentina dan Roma mengheningkan cipta untuk mengenang Socrates yang wafat pada 2011. Foto: AFP/Andreas Solaro
Kebebasan adalah tujuan utama yang ingin diraih Socrates. Itulah yang kemudian menjadi landasan dari setiap tingkah polahnya. Keengganannya berhenti merokok dan menenggak alkohol itu pun sebenarnya bersifat ideologis.
Suatu kali dia pernah berkata, "Siapa pun harus melakukan apa yang menurut mereka menyenangkan. Aku enggak kecanduan alkohol, kok. Aku juga enggak butuh rokok, meski aku perokok. Itu semua pilihan personal.”
ADVERTISEMENT
Intinya adalah kebebasan. Itulah mengapa dia kemudian menjadi penggerak roda demokrasi lewat aktivitas politisnya bersama Corinthians. Dia mau menerima apa saja asalkan itu didasarkan pada kebebasan untuk memilih.
Kebetulan, Corinthians adalah sebuah klub yang nilai ideologisnya sejalan dengan prinsip-prinsip hidup Socrates. Klub ini merupakan klub kelas pekerja pertama di Brasil. Di saat klub-klub lain hanya boleh diperkuat kaum elite Britania, Corinthians muncul dari kamp imigran Sao Paulo yang berisikan kaum buruh.
Democracia Corinthiana. Itulah nama gerakan politis yang dijalankan Socrates dengan bantuan sejumlah rekannya seperti Wladimir, Walter Casagrande, dan Zenon Farias. Lewat situ, mereka berusaha menunjukkan kepada rakyat Brasil bahwa kebebasan bukan hal mustahil bagi mereka.
Socrates datang ke Corinthians pada 1978 dan dengan segera dia mengubah cara klub dijalankan. Dia ingin agar semua pegawai di klub itu, terutama para pemain, punya suara. Salah satu efek dari Democracia Corinthiana adalah dihapuskannya Concentraçao yang mengharuskan pemain berdiam di hotel sejak dua hari sebelum pertandingan.
ADVERTISEMENT
Socrates dan Daniel Passarella sebelum bertanding untuk Fiorentina di musim 1984/85. Foto: Twitter/The Antique Football
Democracia Corinthiana itu mendapat restu dari presiden klub, Waldemar Pires. Dengan demikian, Corinthians pun benar-benar menjadi mercusuar bagi gerakan pro-demokrasi di Brasil. Apalagi, mereka sukses keluar sebagai juara liga pada 1982 dan 1983. Ini membuat eksposur membesar dan Democracia Corinthiana jadi bagian dari gerakan berskala nasional.
Pergerakan itu kemudian berujung pada diselenggarakannya pemilihan umum pertama sejak 1978. Namun, pemilihan umum 1985 itu masih jauh dari harapan Socrates karena belum digelar secara langsung, melainkan lewat electoral college. Ini membuat kandidat yang dijagokan junta militer tetap keluar sebagai pemenang.
Pemilu lewat electoral college itulah yang membuat Socrates angkat kaki dari Brasil. Sebelumnya, sudah sejak 1982 dia mengampanyekan agar orang-orang mau memberikan suara pada 15 Januari 1985. Akan tetapi, pada 1984 rancangan amandemen konstitusi yang memungkinkan pemilihan langsung gagal terwujud. Socrates pun pergi, barang sejenak, ke tanah Italia.
ADVERTISEMENT
Di Serie A sendiri Socrates tidak bisa dibilang sepenuhnya berhasil sebagai pesepak bola. Dia memang bisa menyumbangkan 6 gol tetapi tidak bisa mengangkat Fiorentina untuk finis lebih tinggi dari peringkat sembilan. Di Coppa Italia pun Fiorentina tidak berdaya. Hingga akhirnya, setahun kemudian Socrates memutuskan untuk pulang ke Brasil.
Meski demikian, sedari awal dia sudah menegaskan bahwa dia tidak pindah ke Italia (hanya) untuk sepak bola. Dia ingin belajar dari Gramsci dan itu berhasil dia dapatkan. Empat tahun setelah selesai bermain untuk Fiorentina, Socrates, yang wafat pada 2011 itu, akhirnya mendapati Brasil menggelar pemilu langsung untuk pertama kalinya sejak 1964.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan