Kumparan Logo

Napas Wales dalam Diri Juventus dan Real Madrid

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

John Charles legenda agung Juventus. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
John Charles legenda agung Juventus. (Foto: Wikimedia Commons)

Nama Wales jarang sekali diperhitungkan ketika kita berbicara soal sepak bola. Meski ia adalah bagian dari Kerajaan Bersatu Britania Raya, dan memiliki asosiasi sepak bola tertua ketiga di dunia, Wales tidak pernah punya prestasi yang betul-betul membanggakan. Jangankan Piala Dunia, Piala Eropa saja baru sekali mereka ikuti.

Tapi, Wales bukannya sama sekali tidak pernah punya pemain bagus. Buku sejarah sudah mencatat beberapa nama pesepak bola Wales yang sanggup berbuat banyak di level teratas. Gareth Bale, Ryan Giggs, Gary Speed, Ian Rush, dan John Charles adalah nama-nama yang senantiasa disebut ketika kita bicara soal putra-putra terbaik Wales di lapangan hijau.

Nah, tiga dari nama-nama tadi, John Charles, Ian Rush, dan Gareth Bale, punya ikatan dengan dua finalis Liga Champions musim ini. Jika Bale saat ini masih berseragam putih-putih milik El Real, maka Charles dan Rush punya dua peran berbeda dalam sejarah Juventus.

John Charles adalah salah satu legenda terbesar Juventus. Bersama Omar Sivori dan Giampiero Boniperti, Charles membentuk trisula maut Juventus di era 1950-an s/d 1960-an. Jika Boniperti adalah seorang fantasista dam Sivori merupakan seorang seconda punta alias second striker, maka Charles adalah ujung tombaknya.

Sebagai seorang pemain, John Charles adalah sosok yang komplet. Dengan tubuh yang besar dan kekar, dia punya teknik, kecepatan, serta kemampuan duel udara yang bagus. Pada era di mana kekuatan fisik masih jadi yang nomor satu di sepak bola, pria kelahiran Swansea ini pun menjadi sosok dominan.

Meski punya postur yang intimidatif, Charles dikenal sebagai sosok pemain yang bersih. Dulu memang kartu kuning dan merah belum dikenal seperti sekarang. Namun, pemain satu ini sama sekali tak pernah diberi peringatan atau diusir oleh wasit. Itulah mengapa, Charles diberi julukan Il Gigante Buono atau Si Raksasa Lembut oleh para tifosi Juventus.

Charles datang ke Juventus pada 1957 dari Leeds United dengan biaya transfer 65 ribu euro. Di Leeds, sosok yang meninggal pada 2004 ini awalnya bermain sebagai seorang bek tengah. Menariknya, meski kemudian dikenal sebagai salah satu penyerang tengah terbaik sepanjang masa, Charles muda pernah disebut Billy Houliston, penyerang klub Skotlandia, Queen of the South, sebagai bek tengah terbaik yang pernah dia hadapi.

Sivori, Charles, dan Boniperti. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Sivori, Charles, dan Boniperti. (Foto: Wikimedia Commons)

Peran sebagai penyerang tengah sendiri baru dilakoni Charles pada 1951 dan pada musim berikutnya, baru posisinya berubah secara permanen. Sejak itulah dia menjadi pemain yang benar-benar subur. Di liga, dia memperkuat The Whites dalam 297 pertandingan dan mencetak 157 gol. Semua itu dia lakukan dalam kurun waktu delapan tahun.

Prestasi apik di Inggris ini kemudian membuat Juventus kepincut. Charles pun menjadi pemain Britania kedua yang dibeli klub daratan setelah John Fox Watson yang pindah dari Fulham ke Real Madrid pada 1948. Mendapat sokongan dari pemain seperti Boniperti dan Sivori, Charles pun meledak. Di musim perdana, dia sukses mempersembahkan gelar scudetto dan menjadi capocannoniere Serie A.

Kiprah Charles di Juventus ini memang luar biasa. Dari 155 penampilan di liga, 108 gol berhasil dibukukannya. Sayang, prestasi apik di tanah Italia itu gagal dia replikasi di ajang antarklub Eropa. Walau begitu, lima tahun yang dihabiskan Charles berama Trio Suci itu sudah cukup untuk membuat namanya abadi di benak para pendukung Juventus, hingga akhirnya, pada perayaan 100 tahun klub tahun 1997 silam, John Charles pun dinobatkan sebagai pemain asing terbaik klub sepanjang masa.

Kisah manis Juventus dengan John Charles ini coba dihidupkan kembali pada pertengahan dekade 1980-an, tepatnya pada tahun 1986, atau lebih dari seperempat abad usai kiprah Charles berakhir. Ketika itu, Juventus yang sedang panas-panasnya kembali merekrut penyerang terbaik dari tanah Britania. Nama penyerang itu adalah Ian Rush.

Sama halnya dengan Charles, Rush pun dibeli dengan nilai yang menjadi rekor transfer Britania. Pada tahun 1986 itu, Juventus menuliskan cek sebesar 3,2 juta poundsterling untuk Liverpool. Kebetulan, saat itu klub-klub Inggris sedang dilarang tampil menyusul Tragedi Heysel tahun 1985. Itulah mengapa, menggoda pemain-pemain terbaik Britania begitu mudah kala itu.

Ian Rush gagal di Juventus (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Ian Rush gagal di Juventus (Foto: Wikimedia Commons)

Yang aneh, Rush tidak langsung bermain untuk Juventus saat dia dibeli. Pada musim 1986/87, dia dipinjamkan dulu ke Liverpool dan bahkan, sukses menjadi pencetak gol terbanyak Divisi Satu Liga Inggris. Keanehan transfer Rush ini baru ketahuan penyebabnya pada musim 1987/88.

Ternyata, Ian Rush kesulitan beradaptasi di Italia. Tak seperti di Liverpool di mana dia bisa dengan seenaknya membobol gawang lawan, hanya tujuh gol yang mampu dipersembahkan pria bertinggi 180 cm ini selama memperkuat "Si Nyonya Tua". Padahal, dia bermain sampai 29 kali pada musim tersebut.

Dalam sebuah kesempatan wawancara, Rush bahkan pernah menyebut bahwa bermain di Italia itu "rasanya seperti bermain di negara lain". Kutipan itu pada akhirnya memang disangkal oleh Rush, tetapi dunia sudah kadung mengidentikkannya dengan masa-masa sulit Rush di Italia. Tak seperti Charles yang bergelimang gelar dan puja-puji di Turin, Ian Rush justru menjadi salah satu transfer terburuk Juventus sepanjang sejarah.

Rush sendiri membuat Juventus seperti trauma dengan pemain-pemain Britania dan sampai saat ini, hanya ada satu pemain Britania yang memperkuat Juventus. Pemain yang dimaksud adalah David Platt dan meski sukses di Sampdoria, Platt gagal berbuat banyak di Juventus.

Dari kubu Real Madrid, mereka sebenarnya lebih kerap mempercayai pemain-pemain Britania dibanding Juventus. Bahkan, kalau saja tidak cedera, Gareth Bale adalah salah satu sosok tak tergantikan di skuat inti Real Madrid. Wajar, karena selain kualitasnya yang memang jempolan, Los Merengues pun menebus Bale dari Tottenham Hotspur dengan nilai transfer fenomenal 100 juta euro.

Gareth Bale (kiri) bersama Cristiano Ronaldo. (Foto: Reuters/Jon Nazca)
zoom-in-whitePerbesar
Gareth Bale (kiri) bersama Cristiano Ronaldo. (Foto: Reuters/Jon Nazca)

Sebelum Bale, Real Madrid pernah pula memiliki sosok-sosok seperti David Beckham, Michael Owen, Jonathan Woodgate, Steve McManaman dan Laurie Cunningham. Tidak semuanya berhasil, memang, tetapi setidaknya Real Madrid punya keberuntungan yang lebih baik dengan pemain-pemain Britania.

Namun, mengingat cedera yang masih melanda, Gareth Bale sepertinya tidak akan turun di laga final Liga Champions, 4 Juni 2017 nanti di Stadion Millennium, Cardiff. Agak disayangkan, memang, mengingat Bale saat ini adalah pahlawan terbesar sepak bola Wales.

Bagaimana tidak? Dengan Bale di lini depan, Wales mampu menembus babak final Euro 2016 lalu dan bahkan, mengakhiri kompetisi sebagai semifinalis. Ketika almarhum Gary Speed dan Ryan Giggs masih memperkuat Tim Nasional Wales saja, mereka selalu gagal berbicara banyak di kancah internasional. Di saat nama Bale sedang harum-harumnya, dia justru terancam urung tampil di depan publik sendiri.

Nah, begitulah. Dengan rekam jejak seperti ini, kira-kira tuah Wales bakal berpihak kepada Real Madrid atau Juventus? Mari kita nantikan!