kumparan
7 November 2018 8:24

Notula Matchday IV Liga Champions: Daya Malcom hingga Anomali The Reds

Crvena Zvezda
Kubu Crvena Zvezda merayakan kemenangan 2-0 atas Liverpool. (Foto: Reuters/Paul Childs)
Matchday keempat hari pertama Liga Champions 2018/19 yang dihelat Rabu (7/11/2018) telah usai. Dari dalam delapan duel yang telah dipentaskan, mencuat berbagai catatan menarik. Mulai dari kekalahan Liverpool, torehan negatif Thierry Henry sebagai pelatih AS Monaco, hingga keberhasilan Inter Milan menyamakan kedudukan di pengujung laga melawan Barcelona di Giuseppe Meazza.
ADVERTISEMENT
Eits, tak sebatas itu. Ada beberapa risalah menarik lainnya yang terjadi. kumparanBOLA telah merangkumnya untuk Anda, silakan.
Sembilan Menit yang Berbahaya dari Malcom
Apa saja, sih, yang bisa dilakukan oleh orang-orang dalam kurun waktu sembilan menit? Sebagian dari kita akan menjawabnya dengan mendengarkan tiga sampai empat lagu berbeda, mengobrak-abrik akun Instagram orang, melamun, atau sekadar menyesap kopi yang tinggal separuh gelas. Namun, Malcom, pemain Barcelona itu, punya jawaban lain: melepaskan satu tembakan tepat sasaran yang berujung gol ke gawang Inter Milan di Liga Champions.
Pada akhir Juli 2018, nama Malcom menjadi perbincangan hangat. Sosok asal Brasil yang mengalami jatuh-bangun membangun karier di ranah sepak bola sebelum akhirnya dikenal sebagai bintang Bordeaux ini disebut-sebut sebagai pemain yang dibajak Barcelona dari AS Roma.
ADVERTISEMENT
Lantas, gonjang-ganjing ini seolah menjadi antiklimaks karena hingga pekan kesebelas La Liga 2018/19 dan kompetisi lainnya (Liga Champions, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol), Malcom tidak menjadi sosok yang dimainkan secara reguler. Ya, biasa, namanya juga anak bawang.
Di sepanjang musim 2018/19 ini, Malcom baru turun arena empat kali. Bila menit bermainnya dikalkulasi, maka hanya Malcom hanya bermain selama 114. Kurang dari dua jam. Sekali menjadi starter di Copa del Rey--itu pun tak bermain penuh--sementara sisanya berstatus sebagai pemain pengganti, termasuk di laga melawan Inter Milan di matchday keempat Liga Champions 2018/19 ini. Malcom baru masuk pada menit 81.
Namun, lihatlah, apa yang dikerjakannya dalam sembilan menit itu (tidak menghitung tambahan waktu empat menit -red). Malcom tidak berusaha tampil garang dengan melakukan tembakan-tembakan sporadis di sepanjang sisa laga. Cukup dengan satu tembakan, tapi berbuah gol penyama kedudukan. Dua menit setelah menjejak ke lapangan Giuseppe Meazza, gol yang menyelamatkan muka Barcelona itu lahir. Gol yang mempertahankan keperkasaan Barcelona, gol pertama yang diberikan Malcom untuk Barcelona.
ADVERTISEMENT
Gol di pengujung laga ini di satu sisi berbicara bahwa di atas lapangan bola, ruang (pengakuan sebagai sosok yang diperhitungkan -red) bukanlah 100% pemberian, tapi juga tentang sebesar apa upayamu untuk merebut ruang itu. Dan sepak bola, bukankah kita terlalu sering menyebutnya sebagai miniatur kehidupan? Terlepas apakah catatan gemilang ini berhenti sampai di sini atau berlanjut, bergurulah sebentar kepada Malcom.
Harry Kane, si Manusia Solutif
Harry Kane adalah anugerah bagi Tottenham Hotspur. Bagaimana tidak, dalam 14 keikutsertaannya di Liga Champions, Kane sudah 15 kali berkontribusi dalam torehan gol Spurs. Sebagai catatan, tautan di atas (12 gol dan 2 assist dalam 14 penampilan) merupakan catatan kontribusi Kane hingga gol pertama Spurs di laga melawan PSV Eindhoven, tepatnya di menit 78. Pertandingan yang dihelat di Stadion Wembley itu tuntas dengan skor 2-1. Dan gol kemenangan Spurs pun dicetak oleh Kane.
ADVERTISEMENT
Lima belas kontribusi yang dibukukan sosok yang baru bermain reguler di Spurs sejak 2014 itu (walau bergabung dengan Spurs pada 2009, Kane kerap dipinjamkan ke berbagai klub hingga 2013), dirangkum dalam keikutsertaannya sejak musim 2016/17. Bila diperinci, catatan itu akan menjadi: 4 gol dalam empat laga di 2018/19, 7 gol dan 2 assist dalam tujuh laga di 2017/18, serta 2 gol dalam tiga laga di 2016/17.
Khusus di laga melawan PSV ini saja, 8 dari 30 tembakan yang dilesakkan oleh Spurs dilakukan oleh Kane. Sementara, 4 dari 8 tembakan itu dapat diklasifikasikan sebagai tembakan tepat sasaran dan tentu saja, 2 di antaranya berbuah gol. Itu belum ditambah dengan catatan 1 umpan kunci, 3 dribel sukses, dan 1 tekel sukses.
ADVERTISEMENT
Insigne, San Paolo's Guardian
Nama Lorenzo Insigne barangkali tak setenar Neymar atau diperhitungkan seperti Cristiano Ronaldo. Namun, bukan berarti ia tak berhasil menorehkan pencapaian yang memalingkan perhatian jagat sepak bola padanya. Berlaga di Stadion San Paolo melawan Paris Saint-Germain (PSG), Napoli sempat tertinggal di babak pertama akibat gol Juan Bernat di menit 45+2.
Kebuntuan menjadi nama tengah Napoli di laga ini. Pasalnya, di sepanjang pertandingan, pasukan didikan Carlo Ancelotti ini mencatatkan 20 peluang, tapi hanya 4 di antaranya yang tepat sasaran. Persoalan efektivitas ditambah keseimbangan permainan ofensif dan defensif PSG, membikin mencetak gol penyama kedudukan saja menjadi hal yang begitu sulit bagi Napoli.
Namun, beban itu berangsur kehilangan bobotnya saat Insigne berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai algojo tendangan penalti di menit 62. Tak tanggung-tanggung, yang ditaklukkannya di laga satu lawan satu itu adalah kiper sekaliber Gianluigi Buffon.
ADVERTISEMENT
Hebatnya lagi, gol ini mengantarkan Insigne sebagai pemain Italia pertama dalam sejarah Liga Champions yang menorehkan 5 gol dalam 5 pertandingan kandang secara beruntun. Torehan yang membuatnya menjadi sosok yang menjaga San Paolo, rumahnya sendiri, dari kekalahan di kompetisi semasyhur Liga Champions.
Anomali 'The Reds'
Liverpool adalah penantang serius dari setiap kompetisi yang dilakoninya, termasuk Liga Champions. Musim 2017/18, Liverpool melangkah hingga partai puncak, walau menuai kekalahan 1-3 dari Real Madrid. Di Premier League 2017/18 sendiri, Liverpool menutup musim di peringkat keempat.
Musim 2018/19 dibuka Liverpool dengan gebrakan. Di Premier League 2018/19, Liverpool menjadi salah satu dari tiga klub yang belum pernah menuai kekalahan. Dari 11 pertandingan yang dituntaskan, delapan di antaranya ditutup dengan kemenangan dan tiga sisanya berakhir seri.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, di balik rangkaian catatan impresif itu terselip angka mengkhawatirkan, terutama di laga tandang Liga Champions. Di matchday keempat Liga Champions 2018/19 ini, Liverpool menuai kekalahan 0-2 dari Crvena Zvezda.
Sejak semifinal leg kedua Liga Champions 2017/18 yang mengantarkan Liverpool pada laga tandang melawan AS Roma, pasukan Juergen Klopp sudah menuai tiga kekalahan beruntun di partai tandang. Daftar minus ini bila dirinci akan menjadi kekalahan 2-4 dari Roma (walau menang agregat 7-6 dan lolos ke final) di Olimpico, kekalahan 0-1 dari Napoli di San Paolo, dan 0-2 dari Crvena Zvezda di Rajko Mitic.
Yang mengkhawatirkan bukan kekalahannya semata, terlebih karena secara hitung-hitungan peringkat pun, Liverpool masih ada di posisi kedua dengan raihan enam poin (raihan poin yang sama dengan pemuncak sementara, Napoli). Tapi, karena ini juga menjadi pertama kalinya dalam sejarah, Liverpool menelan tiga kekalahan beruntun di laga tandang Liga Champions.
ADVERTISEMENT
Bahkan, ini menjadi pertama kalinya sejak 22 Oktober 2014, Liverpool kebobolan lebih dari satu gol di babak pertama Liga Champions. Terakhir kali, Liverpool menderita persoalan serupa di matchday ketiga Grup B Liga Champions 2014/15, saat berlaga di Stadion Anfield. Di paruh pertama, Liverpool sudah kecolongan tiga gol. Pada akhirnya, laga itu juga berakhir dengan kemenangan 3-0 untuk Madrid.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan