Odion Ighalo: Dari Nobar di Area Kumuh, Sampai Jadi Pemain Manchester United

Karena tidak memiliki kemewahan, Odion Ighalo memilih kegigihan sebagai jalan untuk sampai ke Manchester United.
Sebagian dari kita punya cerita seperti ini, saat sepak bola masih menjadi kegembiraan murni. Jika kau penat dengan tumpukan PR dan ujian, cukup nantikan bel pulang sekolah.
Seketika berdentang, kau dan kawan-kawanmu akan berlari berhamburan menuju lapangan yang permukaan tanahnya tak rata. Semakin jauh semakin bagus. Itu penting agar ibumu tak datang tiba-tiba dan menyuruh pulang.
Bahaya besar kalau ibu sampai datang. Bagi sepak bola zaman bocah, ibu adalah the law of the game yang sebenarnya.
Wajah kita langsung cengengesan setiap kali membayangkan jagoan-jagoan lapangan hijau berlaga. Kita ingin menjadi seperti mereka, kita berkhayal melulu tentang mereka.
Kita tak mau cuma bermain sepak bola di tanah berlumpur, kita merasa tak cukup hanya menonton mereka seminggu sekali. Kita mau tahu segala sesuatu tentang mereka. Mengorbankan uang jajan demi membeli tabloid atau koran yang memuat segala sesuatu tentang sepak bola adalah keharusan.
Sepak bola zaman kanak Ighalo juga seperti itu. Jauh sebelum berlaga di Derbi Manchester, Ighalo sudah mengenal tim macam apa Manchester United itu.
Tim itu hanya diisi oleh para jagoan. Pelatihnya genius seperti dewa. Tak heran jika gelar juara berulang kali direngkuh. Mereka bahkan sanggup membukukan treble winner.
Masalahnya, seperti sebagian dari kita yang terpisah jauh dari tim kesayangan, Ighalo juga terhalang jarak yang tak dekat dengan Manchester United. Jarak di sini bukan cuma hitung-hitungan kilometer, tetapi juga ketersediaan akses untuk menyaksikan United berlaga, bahkan lewat siaran televisi.
Ighalo menghabiskan masa kecilnya di pemukiman kumuh bernama Ajegunle. Tempat itu ada di Nigeria, tanah kelahirannya. Kata Ighalo, orang-orang mesti memiliki televisi berbayar untuk menonton Liga Inggris. Tidak semua orang sanggup membayar biaya yang kala itu dianggap mencekik leher.
Sama seperti kebanyakan daerah kumuh lainnya, anak-anak Ajegunle memanfaatkan apa saja yang mereka lihat untuk bermain sepak bola. Dalam wawancaranya pada 2015, Ighalo berkisah tentang seperti apa masa kecilnya.
"Kami terbiasa menendang kaleng bekas, botol plastik, bahkan jeruk dengan bertelanjang kaki. Rasanya seperti main bola betulan. Ibu saya mesti kerja keras, ia menjual aneka minuman ringan hanya untuk membelikan saya sepatu bola. Itu sepatu bola pertama saya. Mereknya Adidas Copa Mundial. Untuk segala sesuatu yang saya miliki sekarang, saya berutang padanya dan pada Tuhan."
Sesulit apa pun keadaannya, sepak bola tak pernah berjauhan dari Ighalo. Entah siapa yang menggagas pertama kali, yang jelas di kampung Ighalo ada tempat menonton bareng yang selalu ramai setiap akhir pekan.
Sebagai tim besar, United menjadi salah satu tim yang laganya sering ditayangkan. Tentu saja menonton di sana tak gratis.
Di sini Ighalo menjadi seperti kita. Ia rela-rela saja tak jajan di sekolah supaya dapat menabung uang saku hariannya itu. Uang itu digunakannya untuk membeli tiket masuk ke tempat nonton bareng.
"Jelang akhir pekan, kami selalu mencuci jersi, biar bisa dipakai waktu nonton bareng. Tempat itu ramainya gila-gilaan. Ruangan kecilnya saja bisa dipenuhi 200 orang," kenang Ighalo.
"Saya pergi ke ruangan lain, eh, malah ada 500 orang di sana. Saya 'kan sudah bayar, tetapi tetap saja harus menonton sambil berdiri dari kejauhan. Saking ramainya jadi seperti itu," tutur Ighalo.
Ternyata Ighalo harus menonton Manchester United dari kejauhan sampai dewasa, bahkan saat sudah berstatus sebagai pesepak bola profesional.
Sepak bola memang menuntunnya sampai ke Inggris pada 2014. Akan tetapi, ia cuma bermain untuk Watford. Ighalo berseragam Watford sampai 2017, sebelum menjejak ke China.
Sepak bola dipenuhi kisah epik, dari yang mustahil menjadi kenyataan. Itulah sebabnya, harapan dan mimpi tak pernah angkat kaki dari lapangan bola.
Cerita demikian mampir dalam hidup Ighalo. Ia diboyong ke Manchester United jelang penutupan bursa transfer musim dingin 2020. Yep, klub yang ditontonnya sejak kecil.
Tentu saja Ighalo seperti orang kesetanan waktu tahu agennya sedang berkomunikasi dengan para petinggi United. Bahkan sebelum kesepakatan itu diambil, ia sudah mendengar kasak-kusuk dari keluarganya.
Benarkah transfer itu? Ighalo betul-betul jadi pemain Manchester United? Bisik-bisik seperti itu melulu yang didengar Ighalo saban hari.
Yang menyebalkan, kepastian gemar ngumpet saat benar-benar dibutuhkan. Hingga sehari jelang penutupan bursa, kabar soal jadi atau tidaknya transfer tersebut tidak kunjung datang. Agen Ighalo bahkan memintanya agar tidak berharap lagi.
"Sebenarnya saya berdoa terus, sih. Namun, saya juga tidak mau menunjukkan emosi saya. Harus tetap cool," kenang Ighalo.
Saat Ighalo tak lagi berharap banyak, telepon yang dinanti itu justru datang. Tentu saja tidak dalam kondisi ideal. Agen Ighalo meneleponnya sekitar pukul 11 malam.
"Telepon saya bunyi. Ya, saya angkat, ternyata dari agen saya. Dia bertanya: Kamu di mana? Orang-orang Manchester United ada di sini. Saya jawab saja: Di kamar, saya lagi tidur karena sekarang sudah jam 11 malam. Agen saya bertanya lagi. Ia mau tahu di mana Direktur Shenhua waktu itu. Saya jawab, ada di ruangannya."
"Karena saya sudah terlanjur tertidur, saya jadi seperti setengah sadar. Saya langsung loncat dari tempat tidur sambil melingkarkan handuk di pinggang [seperti orang mau mandi] dan bergegas ke kamar penerjemah klub. Saya bangunkan dia karena orang United mau bicara dengan direktur dan direktur tidak bisa bahasa Inggris," ucapnya.
Kehebohannya belum selesai. Ighalo bercerita bahwa ia tidak bisa tidur sampai pukul 6 pagi karena segala macam urusan yang harus ia selesaikan saat itu juga. Saking tak tenangnya, Ighalo bahkan menandatangani kontraknya dengan Manchester United dulu sebelum menandatangani kontrak Shenhua.
"Tangan saya sampai gemetaran. Ini keputusan yang benar-benar besar. Saya bahkan sempat kesulitan mencerna segala sesuatu yang terjadi saat itu. Ini benar-benar Manchester United yang saya impikan, yang saya tonton sejak kecil," jelas Ighalo.
Belum selesai. Semuanya tidak langsung berjalan menyenangkan bagi Ighalo. Saat United mengumumkan bahwa mereka meminjam Ighalo dari Shenhua, orang-orang mengerutkan dahi.
Ketika Ole Gunnar Solskjaer bicara di depan media bahwa United membutuhkan pemain seperti Ighalo, orang-orang tak habis pikir. Ah, ini pasti panic buying-nya United. Entah ada berapa banyak orang yang menyimpulkan demikian.
Akan tetapi, kesimpulan hanya bisa ditulis di akhir cerita. Sementara, cerita Ighalo bersama United baru saja dimulai. Dalam kisah yang baru beberapa lembar itu, Ighalo mencetak tiga gol untuk Setan Merah.
Dalam ceritanya yang baru beberapa baris itu, Ighalo membantu Manchester United menyegel kemenangan 2-0 di Derbi Manchester, Minggu (8/3), di Old Trafford.
Menyebut Ighalo sebagai kepingan terakhir United adalah perkara naif. Namun, jika tembok-tembok kusam Manchester menyimpan cerita tentang kegagahan Revolusi Industri, bukan tidak mungkin di balik olah bola pemain pinjaman berusia 30 tahun itu ada kemenangan-kemenangan yang sudah lama tak berkawan dengan Manchester United.
***
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo, buruan daftar di sini.
Bagi yang mau nonton langsung siaran liga Inggris bisa ke MolaTV dan bagi yang ingin merasakan kemeriahan Nobar Supersoccer bisa cek list schedule nya di SSCornerID. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan MolaTV, dan jersi original.

