Kumparan Logo

Oriundi: Perjalanan Panjang Orang Italia di Lapangan Bola

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Camoranesi di Piala Dunia 2006. (Foto: PACO SERINELLI / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Camoranesi di Piala Dunia 2006. (Foto: PACO SERINELLI / AFP)

Sejarah manusia adalah sejarah tentang perjalanan. Kisahnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari yang terdekat hingga yang terjauh.

Tanah kelahiran sering menjadi tempat kelahiran semata. Bagi entah berapa banyak manusia, kepergian adalah perjalanan tanpa tiket kepulangan.

Tahun 1500-an menjadi kali pertama orang-orang Eropa bermigrasi ke Amerika Selatan. Waktu itu, Spanyol yang pertama kali hijrah ke Amerika Selatan, memperluas ekspansi dan perluasan kekuasaan mereka hingga ke lain benua.

Namun, sehebat-hebatnya Spanyol bermigrasi, orang-orang Italia adalah satu hal. Dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, orang-orang Italia menjadi bangsa yang paling sering melakukan diaspora. Mereka tercerai-berai dan menjadi bangsa yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Brasil dan Argentina menjadi dua negara yang menjadi tujuan utama migrasi orang-orang Italia. Setidaknya, ada 25 juta orang Italia yang tinggal di Brasil.

Namun, Argentina adalah tujuan paling utama. Sekitar 27 juta orang Italia tinggal di Argentina. Angka tersebut hanya menilik dari daftar keturunan. Menyoal kewarganegaraan, ada sekitar 611.000 orang berpaspor Italia yang tinggal di Argentina.

Ada dua fase terbesar dalam sejarah diaspora Italia. Yang pertama terjadi dalam rentang waktu tahun 1861 hingga tahun 1920-an. Fase pertama merupakan dampak dari runtuhnya Unifikasi Italia.

Feodalisme merupakan anak kandung dari unifikasi. Lahan-lahan dikuasai dan dimiliki oleh para pembesar semata. Laiknya kisah feodalisme lainnya, feodalisme di Italia membuat orang-orang kecil hanya kedapatan mengerjakan lahan, menjadi buruh tani.

Ironisnya, keruntuhan unifikasi tidak berdampak banyak. Orang-orang kecil tetap tak kebagian lahan. Jengah dengan kondisi perekonomian macam ini, jutaan orang Italia pindah ke Amerika Selatan.

Diaspora fase kedua terjadi di akhir perang Dunia II hingga tahun 1976. Bila fase pertama berhubungan dengan kebutuhan ekonomi, maka diaspora fase kedua terjadi akibat tekanan politik. Fasisme Benitto Mussolini membikin orang-orang Italia memilih untuk meninggalkan tanah kelahiran Italia.

Di masa-masa diaspora tersebut, pekerjaan utama orang Italia adalah bercocok tanam. Walau berbeda benua, orang-orang Italia yang bermigrasi ke Argentina tidak kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di ‘rumah baru’mereka. Tanah-tanah Argentina mudah untuk mereka tanami. Iklim tropis Argentina membuat mereka tidak perlu mengubah kultur dan ciri perekonomian mereka.

Yang diuntungkan dari migrasi ini bukan hanya para pendatang, tapi juga tuan rumah Argentina. Budaya-budaya Italia lambat-laun meresap dalam kehidupan di Argentina. Lantas, muncullah pemikir-pemikir dan cendekiawan yang ke depannya membantu perkembangan Argentina.

Dunia mengenal istilah oriundi karena urusan migrasi ini. Oriundi adalah istilah bagi orang-orang yang tidak lahir di Italia, tapi datang ke Italia sebagai imigran atau memiliki darah Italia sehingga berhak untuk menjadi orang Italia.

Serupa Italia, Argentina adalah bangsa yang begitu menghidupi sepak bola. Namanya besar karena sepak bola. Sepak bola pun menjadi sektor yang terkena imbas dari infiltrasi budaya yang lahir akibat fenomena migrasi dan diaspora tadi.

Sejak Giovanni ‘Johnny’ Moscardini (orang Italia, kelahiran Skotlandia) melakukan debut untuk Tim Nasional Italia pada 6 November 1921, oriundi hampir tidak mungkin untuk berhenti menjejak dalam sejarah panjang Azzurri di atas lapangan sepak bola.

Hubungan darah adalah satu hal, dan kemampuan bersepak bola adalah hal lain. Keduanya menjadi dua alasan teratas mengapa klub-klub Italia di era 1920-an menggaet banyak pemain Amerika Selatan. Karena di tahun-tahun itu merupakan titik mula profesionalisme sepak bola Eropa, termasuk Italia, klub-klub menawarkan bayaran tinggi dan kompetisi profesional kepada bakat-bakat Latin.

Bila menilik raihan prestasi Italia di pentas Piala Dunia pun, mustahil untuk mengesampingkan peranan oriundi tadi. Dalam perjalanan Italia merengkuh gelar juara Piala Dunia pertama mereka, setidaknya ada empat pemain inti mereka yang bukan kelahiran Italia.

Anfilogino Guarisi yang kelahiran Brasil dipanggil oleh pelatih Timnas Italia era itu, Vittorio Pozzo. Selain Guarisi, Italia juga menaruh harap pada Raimundo Orsi, Luis Monti, dan Enrique Guaita.

Pozzo (paling kiri) pada Piala Dunia 1934. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Pozzo (paling kiri) pada Piala Dunia 1934. (Foto: Wikimedia Commons)

Ketiga pemain kelahiran Argentina itu pun tercatat sebagai penggawa klub-klub besar di Italia. Orsi dan Monti adalah pemain Juventus, sementara Guaita berstatus sebagai pemain AS Roma.

Keberadaan oriundi di Timnas Italia kala itu menjadi antidot. Masalahnya, penguasa Italia saat itu, Benito Mussolini, sedang galak-galaknya menegakkan fasisme yang berakar pada kebangsaan darah Italia asli.

Di satu sisi, keputusan Mussolini cukup masuk akal. Italia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 1934. Percuma berkoar-koar ideologi fasisme bila tak sanggup menjadi juara di rumah sendiri. Malahan, bukannya tak mungkin menjadikan sepak bola sebagai alat propaganda ideologinya ini.

Keterbukaan Timnas Italia terhadap oriundi bukannya tak mengundang cibiran. Menghadapi cibiran itu, Pozzo hanya punya satu kalimat, “Ayah mereka pun orang Italia.”

Separah-parahnya cibiran, ia tak akan bisa mengalahkan ‘teror’ yang disebarkan Mussolini. Konon, sejak gelaran Piala Dunia pertama pada 1930, Mussolini sampai mengirim dua agennya untuk memaksa Monti membela Timnas Italia.

Pozzo pun akhirnya secara terang-terangan mengatakan, walaupun berstatus oriundi, asalkan mereka siap bertandinghabis-habisan untuk Italia, maka tak ada alasan bagi mereka untuk tak bisa berseragam Timnas. Di gelaran Piala Dunia 1934 itu, Argentina dan Brasil cuma mengirim tim gurem. Berbagai literatur menjelaskan, tindakan ini diambil demi menghindari dicaploknya pemain-pemain mereka ke Italia. Hasilnya bisa ditebak, keduanya langsung tersingkir.

Kebergantungan pada oriundi ini masih terus terjadi hingga tahun 1960an. Nama-nama seperti Omar Sivori, Humbtero Maschio, Jose Altafini, dan Alcides Ghiggia sering masuk daftar line-up Italia.

Tahun 1960-an menjadi babak kelam sepak bola Italia. Azzurri mencapai titik nadirnya di tahun ini. Italia tak berkutik di Piala Dunia 1966, saat Inggris ditunjuk menjadi tuan rumah.

Setelah kalah dari Chile dalam pertandingan bertajuk Battle of Santiago, Azzurri ditekuk Korea Utara. Sudah jatuh tertimpa tangga. Kekalahan kedua ini pun bergelar The Greates Shock in World Cup History.

Apesnya, yang menjadi kambing hitam adalah oriundi. Setelah 1966, kehadiran pemain asing dibatasi di Serie-A. Penggunaan pemain asing di Timnas menjadi larangan.

Ibarat permusuhan dua saudara yang lama-lama pudar juga, Mauro Camoranesi tampil sebagai sosok yang menegaskan bahwa mengkambinghitamkan oriundi adalah perkara tak masuk akal.

Osvaldo di Piala Dunia 2014. (Foto: JAVIER SORIANO / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Osvaldo di Piala Dunia 2014. (Foto: JAVIER SORIANO / AFP)

Tahun 2003, Camoranesi dipanggil masuk skuat Timnas untuk melakoni laga persahabatan melawan Portugal. Kala itu, Timnas Italia ditukangi oleh Giovanni Trapatoni.

Camoranesi sempat dicecar kritik akibat kedapatan tidak ikut menyanyikan lagu nasional Italia di pembukaan pertandingan tadi. Serupa Pozzo yang menanggapi kritikan dengan kalimat sederhana, Camoranesi pun punya jawaban yang nyeleneh.

“Saya tak mengerti anthem Italia. Saya memang memegang paspor Italia, tapi bukan berarti saya cukup merasa sebagai orang Italia.” Dan setelahnya, Camoranesi mendiamkan ribut-ribut tak penting itu dengan memenangi Piala Dunia 2006 di bawah kepelatihan Marcelo Lippi.

Yang terbaru, demi berlaga di pentas Piala Dunia 2014 lalu, Cesare Prandelli memanggil Thiago Motta yang kelahiran Brasil serta Pablo Osvaldo dan Gabriel Paletta yang kelahiran Argentina untuk membela Azzurri.

Sabtu (24/3/2018) dini hari WIB, Italia akan melakoni uji tanding melawan Argentina, di Etihad Stadium, Manchester. Pertandingan sepak bola yang mempertemukan Timnas Italia dan Argentina selalu terlihat seperti pertemuan dua saudara jauh.

Keduanya menjadi saudara karena salah satu di antaranya melakukan perjalanan panjang. Lantas, keduanya berpisah karena perjalanan mesti dilanjutkan. Di tengah perjalanan, dalam singgah, keduanya bertemu di atas lapangan yang sama.