Kumparan Logo

Para Kuda Hitam di Liga Champions 2018/2019

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ajax Amsterdam kembali ke Liga Champions. (Foto: Twitter @AFCAjax)
zoom-in-whitePerbesar
Ajax Amsterdam kembali ke Liga Champions. (Foto: Twitter @AFCAjax)

Drawing Liga Champions baru akan bergulir Kamis (30/8/2018) pukul 23.00 WIB. Bagi klub-klub sekaliber Real Madrid, Barcelona, dan Bayern Muenchen, manggung di pentas elit bagi para raksasa Eropa tersebut adalah hal yang lumrah karena saking intensnya.

Sebaliknya, bagi beberapa tim lain, mentas di Liga Champions adalah sebuah aksi yang muskil. So, tak ada salahnya untuk memberikan sorotan kepada mereka, para kuda hitam yang akhirnya berhasil kembali ke ajang Liga Champions setelah sekian lama vakum.

Ajax Amsterdam

Tradisi Ajax Amsterdam sebagai empat kali juara Liga Champions memang tak bisa dikesampingkan. Sad but true, itu hanya bentuk kejayaan masa lampau mereka. Tiga titel diantaranya diraih di awal medio 1970-an. Sementara De Godenzonen terakhir kali angkat piala di musim 1994/1995. Sejak saat itu tak ada lagi 'Si Kuping Besar' dalam genggaman. Hanya babak perempat final yang jadi langkah terbaik mereka di milenium ketiga ini.

Hingga akhirnya Klaas-Jan Huntelaar dan kawan-kawan sukses mentas di Liga Champions kali ini. Menjadi pementasan pertama setelah empat tahun absen di turnamen paling elit di Benua Biru itu.

Laju Ajax pun cukup terjal karena kudu memulai dari kualifikasi babak kedua. Namun, mereka berhahasil melewati hadangan Sturm Graz dengan agregat kemenangan meyakinkan, 5-1. Disusul kesuksesan menyingkirkan Standard Liege dengan skor 5-2. Puncaknya Dynamo Kyiv mereka hempaskan dengan agregat 3-1.

Selain itu Ajax juga telah mempersiapkan muka-muka baru untuk mengarungi kerasnya Liga Champions, termasuk memulangkan Daley Blind dan mendaratkan Dusan Tadic dari Southampton. Bahkan, nama yang disebut belakangan itu sukses mengemas 3 gol sepanjang babak kualifikasi.

Para pemain Ajax merayakan kemenangan. (Foto: Michael Kooren/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Ajax merayakan kemenangan. (Foto: Michael Kooren/Reuters)

Lokomotiv Moskow

Sedikit mengejutkan saat melihat Lokomotiv Moskow tergabung di pot pertama, sejajar dengan raksasa Eropa macam Madrid, Barcelona, Muenchen, Juventus, Atletico Madrid, Manchester City, dan Paris Saint Germain.

Bukan tanpa alasan UEFA menaruh Lokomotiv di pot unggulan. Klub besutan Yury Semin itu merupakan juara Liga Primer Rusia musim lalu. Dan secara koefisien, Rusia menempati peringkat keenam --lebih baik ketimbang Portugal dan bahkan Belanda. Jadi tak ayal bila Lokomotiv menjadi salah satu dari anggota pot pertama.

Liga Champions tak benar-benar asing bagi Lokomotiv. Mereka bahkan pernah mencapai babak 16 besar sebelum dikandaskan AS Monaco di edisi 2003/2004.

Yang paling aktual adalah kesuksesan Lokomotiv melaju ke babak 16 besar Liga Europa musim lalu. Mereka layak untuk pulang dengan kepala tegak karena takluk dari Atletico, tim yang kemudian keluar sebagai juara.

X post embed

Sementara itu, kiprah mereka di Liga Primer Rusia juga cukup mentereng. Vedran Corluka dan kawan-kawan hanya kebobolan 21 gol dalam 30 laga, terbaik bersama Zenit Saint Petersburg. Sedangkan Jeferson Farfan dan Manuel Fernandes jadi andalan untuk mendongkrak agresivitas di lini depan. Jangan lupakan juga kehadiran Miranchuk bersaudara (Aleksei dan Anton) sebagai motor di lini tengah.

Itu belum dihitung dengan para penggawa anyar mereka di musim ini seperti, Benedikt Hoewedes, Grzegorz Krychowiak, dan juga Fedor Smolov. So, bisa dibayangkan potensi kejut yang dihadirkan Lokomotiv nanti.

Crvena Zvezda

Dalam format anyar Liga Champions, Crvena Zvezda (juga dikenal sebagai Red Star Belgrade) memang belum pernah tercatat sebagai kontestan. Namun, di pakem lama, klub asal Serbia itu pernah menorehkan tinta emas saat sukses membawa pulang turnamen yang dulunya bernama European Cup di edisi 1990/1991.

Keberhasilan Zvezda untuk pertama kalinya melangkah ke format modern Liga Champions ini juga terbilang dramatis. Setelah menyingkirkan lawan-lawannya sejak fase kualifikasi babak pertama, tim besutan Vladan Milojevic itu kudu melalui hadangan Red Bull Salzburg di babak play-off.

Sial bagi Zvezda, mereka hanya bermain imbang tanpa gol saat menjamu utusan Swiss itu di kandang. Situasi makin sulit karena Salzburg sukses unggul dia gol hingga menit 48.

Crvena Zvezda saat menyambangi markas Arsenal. (Foto: REUTERS/David Klein)
zoom-in-whitePerbesar
Crvena Zvezda saat menyambangi markas Arsenal. (Foto: REUTERS/David Klein)

Namun, keajaiban pun terjadi. Ben Nabouhane mencatak sepasang gol susulan di pertengahan babak kedua dan memaksa skor berakhir imbang 2-2. Zvezda pun lolos dengan keunggulan gol tandang.

Sebenarnya, gejala kebangkitan Zvezda di Eropa telah tampak di musim lalu --setelah lolos ke babak penyisihan grup Liga Europa League untuk pertama kalinya setelah 10 tahun terakhir. Tak tanggung-tanggung, klub yang bermarkas di Rajko Mitic Stadium itu juga sukses menahan imbang Arsenal di Emirates Stadium, dan lolos ke babak 16 besar. Meski akhirnya harus kandas setelah kalah tipis dari CSKA Moskow 0-1.