Pelatih SSB Tasbih Menyerah Diminta Ciptakan Egy Maulana Vikri Lagi

Lincah, cepat, dan punya kaki kiri mematikan. Kira-kira begitu gambaran sederhana dari gaya bermain Egy Maulana Vikri.
Kemampuan olah bolanya yang di atas rata-rata pemain seusianya membuat nama pemuda kelahiran Medan ini sontak melambung. Pergerakan ciamik Egy bersama si kulit bulat bahkan tak jarang memunculkan berbagai macam julukan.
Yang paling terngiang hingga saat ini tentu saja julukan “Egy Messi”. Maksudnya adalah menyandingkan Egy dengan megabintang Barcelona Lionel Messi. Panggilan itu tak lepas dari penampilan Egy di atas lapangan hijau yang dinilai banyak orang mirip-mirip dengan Messi.
Egy sendiri mengakui bahwa dirinya mengidolakan Messi --serta pemain Bayern Muenchen, Arjen Robben. Klub favoritnya pun Barcelona. Akan tetapi, ayah kandungnya, Syariffudin, tak terima anaknya disematkan sebutan “Egy Messi”.
Terkait penggilan itu, ternyata tak hanya Syariffudin yang keberatan. Satu lagi pihak yang menyatakan tak setuju dengan sebutan “Egy Messi” adalah Mayang, pelatih SSB Taman Setiabudi Indah (Tasbih) yang menjadi tempat Egy menimba ilmu sepak bola sejak TK hingga kelas 2 SMP.
“Semua proses, dia (Egy) bermain bagus makanya diumpamakan. Kalau dia nggak bagus mana ada yang mengumpamakan. Tapi, saya nggak suka anak yang saya didik main bola sejak kecil disamakan dengan Messi,” ujar Mayang ketika dihubungi kumparan (kumparan.com) pada Rabu (25/10/2017).
Menurutnya, Egy tak bisa disandingkan dengan Messi yang telah meraih segudang prestasi bersama Barcelona. Apalagi, saat ini usia Egy masih sangat muda, berbeda dengan Messi yang sudah mulai memasuki usia senja pesepak bola.
“Memang ada sedikit persamaan, misalnya, sama-sama kekuatannya ada di kaki kiri. Tapi, kalau karakter nggak bisa disamakan begitu. Nggak suka saya julukan seperti itu,” tegasnya.
Mayang menilai kemampuan Egy bisa lebih baik daripada saat ini mengingat usianya yang masih sangat muda. Akan tetapi, ia juga mengingatkan kepada pihak-pihak lain untuk ikut membantu menjaga potensi Egy agar tidak redup.
Hal itu tak lepas dari sulitnya menemukan talenta seperti Egy lainnya saat ini. Mayang bahkan mengaku diminta oleh orangtua asuh Egy, Subagja Suihan, untuk bisa menciptakan Egy lainnya melalui SSB-nya.
“Saya malah diminta Pak Bagja untuk menciptakan Egy-Egy yang lainnya. Kalau saya sebagai pelatih pasti saya usahakan. Tapi, kalau buat sama seperti Egy, susah sekali. Sudah menyerah duluan saya. Karena pemain yang seperti Egy itu sudah langka. Mereka kebanyakan terganggu aktivitas sekolah, jadi nggak bisa fokus ke sepak bola," pungkasnya.
