Piala Dunia Buffon

Di atas panggung yang mulia dalam pentas akbar Piala Dunia, Gianluigi Buffon berkali-kali menguji harga diri di bawah mistar gawang.
Playoff menjadi alfa bagi perjalanan Buffon di Piala Dunia. Penampilan pertamanya di pesta sepak bola dunia ini bermula dari pemanggilannya untuk memperkuat Timnas Italia di laga melawan Rusia pada 1997.
Kala itu, Italia harus melakoni pertandingan playoff untuk bisa terlibat dalam gelaran Piala Dunia 1998. Usianya masih 19 tahun 9 bulan kala menggantikan Gianluca Pagliuca yang cedera di babak pertama.
Namun, itu bukan cerita Piala Dunia pertama dalam hidup Buffon. Gelaran Piala Dunia 1982 berujung pada keberhasilan Italia menjadi juara. Laga final yang mempertemukan Azzurri dengan Jerman Barat ditutup dengan skor 3-1. Anak-anak didik Enzo Bearzot menjadi kampiun berkat gol yang dilesakkan oleh Paolo Rossi, Marco Tardelli, dan Alessandro Altobelli. Semuanya muncul di babak kedua.
Di gelaran itu, gawang Italia masih dikawal oleh kiper legendaris, Dino Zoff. Yang ada di benak Buffon waktu itu, sepak bola adalah permainan yang menyenangkan. Ia belum punya urusan apa-apa dengan kompetisi, gelar juara, dan martabat negara.
Saat Italia menjadi juara dunia tahun 1982, Buffon masih berusia empat tahun. Yang menancap dengan kuat dalam ingatannya, orang-orang di sekitar rumahnya ramai saat menggelar nonton bareng.
Katanya, selama Piala Dunia berlangsung, ia mulai suka menonton sepak bola. Saat orang-orang dewasa heboh dengan pertandingan, ia dan teman-temannya juga asyik beradu cepat mencetak gol di lingkungan rumah.
Entah lapangan seperti apa yang jadi tempat pertama Buffon bergaul dengan bola. Yang jelas, cinta mula-mulanya pada sepak bola tumbuh di lapangan itu.
Buffon tidak membutuhkan waktu lama dan konsultasi medis dengan psikolog tenar untuk menentukan jalan hidup yang dipilihnya saat dewasa nanti. Yang ia lakukan hanya menengok kepada sekelilingnya.
Rumah tempat ia dibesarkan dipenuhi dengan kehidupan atlet. Kedua orang tuanya atlet nasional, kedua kakak perempuannya berlaga di divisi utama liga voli Italia.
Sementara, pamannya tercatat sebagai kiper AC Milan di era 1950-an. Darah atlet mengalir deras dalam hidupnya. Uniknya, kekuatan tangan menjadi senjata utama bagi keluarganya untuk mengukir prestasi dalam koridor kompetisi olahraga.
Buffon tadinya juga tak punya niatan untuk menjadi seorang penjaga gawang. Keinginannya untuk menjadi penjaga gawang muncul saat menyaksikan laga Kamerun dan Argentina pada 1990.
Adalah kiper Kamerun Thomas N’kono yang mengusik perhatiannya. Ia gemar menyaksikan N’kno saat meninju bola. Dan lagi, katanya, sebagai pesepak bola muda Buffon cenderung bosan untuk 'berlari'.
Agaknya bagi Buffon, keputusan untuk banting setir menjadi seorang penjaga gawang adalah gabungan dari kebosanan, rasa penasaran dan kebanggaan. Untuk unsur yang terakhir (kebanggaan), bayangkan rasanya menghalau sepakan pesepak bola ternama dengan meninju bola.

Sebenarnya, pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1998 melawan Rusia itu bukan pemanggilan pertamanya. Dalam wawancaranya bersama Gerard Pique untuk The Players Tribune, Buffon menyebutkan, itu menjadi pemanggilan kelima atau keenamnya dalam skuat Timnas.
Hanya, gawang tim besutan Cesare Maldini saat itu masih diperkuat oleh dua kiper seniornya, Angelo Peruzzi dan Gianluca Pagliuca. Keduanya layak diperhitungkan sebagai dua pilihan teratas. Dengan kata lain, saat itu Buffon masih berstatus sebagai kiper ketiga Timnas Italia.
Di menit 25 dalam laga melawan Rusia itu, Pagliuca mendapat cedera lutut. Ia sendiri yang meminta untuk segera ditarik keluar. Lantas, dimulailah perjalanan Buffon di atas lapangan bola bersama Italia.
“Pada dasarnya, saya ini termasuk anak yang antusias. Saya tidak kenal takut, apa pun akan saya hadapi. Namun, Anda tahu? Lapangan di Moskow waktu itu ditutupi salju. Saya benar-benar tidak senang melihatnya,” tutur Buffon.
'Take it or leave it' menjadi hukum yang berlaku dalam dunia profesional. Bila pilihanmu adalah ‘take’, maka suka atau tidak suka, dalam keadaan baik atau buruk, kau harus menuntaskan tugas apa pun yang dibebankan kepadamu.
Pilihan inilah yang diambil Buffon. Entah seperti apa kecamuk dalam pikirannya. Yang jelas, pikirnya waktu itu, ia sudah terlanjur masuk dalam skuat. Terkadang, kondisi buruk bisa menjadi kesempatan baik untuk menunjukkan seperti apa kualitasmu yang sebenarnya.
“Saya melalukan pemanasan sekitar dua menit. Begitu masuk dalam lapangan, saya berusaha untuk berkonsentrasi. Tepatnya, saya memaksakan diri untuk berkonsentrasi. Yang mengejutkan, segala macam ketakutan itu pergi. Saya benar-benar bisa berkonsentrasi dalam satu jam ke depan.”
"Namun, selang lima menit saya masuk ke lapangan, pemain Rusia langsung melesakkan tembakan ke arah gawang. Mereka menciptakan peluang. Saya tidak mau kalah. Saat itu juga saya melakukan aksi penyelamatan. Dan hei, berhasil! Penyelamatan itu pada akhirnya membantu saya untuk melakoni laga dengan baik."
Secara agregat, Italia berhasil mengalahkan Rusia di babak kualifikasi dengan skor 2-1. Di leg pertama, mereka menutup laga dengan skor imbang 1-1. Sementara di leg kedua, gol tunggal Pierluigi Casiraghi pada menit 53 menghadiahi mereka dengan tiket Piala Dunia di Prancis.
Jalan Italia di Piala Dunia 1998 ini berakhir di babak perempat final. Hasil imbang 0-0 memaksa Italia untuk melakoni babak adu penalti. Buffon sendiri tak dimainkan di pertandingan ini. Gawang Italia masih dikawal oleh Pagliuca. Sayangnya, di babak adu penalti, Italia kalah dengan skor 3-4. Apa boleh buat, Prancis memang tak ramah dengan Italia.
Perjalanan Buffon berlanjut ke Piala Dunia 2002 yang disebut-sebut sebagai kebangkitan sepak bola Asia. Namun, perjalanannya berakhir muram. Sistem golden goal pada akhirnya memenangkan Korea Selatan dan merampas kesempatan Azzurri berlaga di babak perempat final.
Padahal, Italia sudah unggul lebih dulu di menit 18 berkat gol Christian Vieri. Bahkan di menit keempat, Buffon berhasil menggagalkan eksekusi penalti yang dilakukan oleh Jung-hwan.

Lantas, Piala Dunia 2006 menjadi babak baru. Italia terbang ke Jerman dengan harapan, Italia pulang dengan gelar juara.
Laga final Piala Dunia 2006 yang mempertemukan Italia dan Prancis dimulai dan diakhiri dengan sentimen rasialis. Sehari sebelum partai puncak, Jean-Marie Le Pen yang dikenal sebagai politisi ekstrem kanan Prancis melukai para pemainnya sendiri.
Ia berkoar-koar tidak bisa mengenali pemain negaranya karena kebanyakan mereka berkulit hitam. Italia menyiram luka dengan cuka. Wakil Presiden Senat Italia, Roberto Calderoli, mengatakan bahwa Timnas Prancis adalah skuat yang dipenuhi oleh orang-orang Negro, Muslim fanatik, dan komunis yang lebih memilih untuk menyanyikan mars Internationale ketimbang Marseillaise.
Luis Aragones yang masyhur dengan keberaniannya menjadikan Marcos Senna sebagai pemain kulit hitam pertama di Timnas Spanyol bahkan berkomentar busuk. Katanya, Thierry Henry tak ubahnya kotoran hitam. Segala hal yang menyinggung hal-hal rasial ini bertolak belakang dengan slogan anti-rasialis yang diusung gelaran Piala Dunia 2006.
Italia tampil sebagai tim yang tahu seperti apa caranya untuk menang. Catenaccio yang membikin bosan dan jengah pada kenyataannya cukup ampuh bagi Italia sampai ke laga puncak.
Namun, semembosankan apa pun permainan Italia saat itu, mereka tetap sanggup memboyong trofi Piala Dunia keempat. Bertanding melawan Prancis di laga final, Italia menutup pertandingan dengan skor imbang 1-1. Akibatnya, laga harus berlangsung ke babak adu penalti.
Sebelum babak adu penalti di final Piala Dunia 2006 ini, hanya dua gol yang berhasil dicetak ke gawang Timnas Italia. Satu dari hasil bunuh diri di laga melawan Amerika Serikat, satu lagi di partai final melawan Jerman. Lantas, yang pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik Italia ada di garis paling belakang: Buffon.

“Seperti apa kami melakoni Piala Dunia di Jerman terasa spesial bagi orang-orang Italia, terlepas dari apa pun hasilnya. Banyaknya imigran Italia yang bermukim di Jerman membuat kami merasa seperti bermain di rumah (Italia -red)."
"Saya mengingat ada begitu banyak kebahagiaan, pesta, dan dukungan emosional. Kami tidak merasa sendirian. Selain laga final itu, saya punya memiliki kenangan hebat saat bertanding melawan Jerman di Dortmund. Pertandingan itu berakhir dengan skor 2-0. Dua gol kami cetak di babak tambahan,” ungkap Buffon.
Setidaknya sampai tahun 2018, gelar juara dunia pada 2006 itu menjadi yang terakhir bagi Italia. Di Piala Dunia 2010, mereka angkat kaki sejak babak grup. Bergabung bersama Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru, Italia menutup fase grup sebagai juru kunci. Dalam tiga pertandingan, mereka tak pernah menang. Dua laga berakhir seri, satu laga berujung pada kekalahan.
Sementara, dalam gelaran Piala Dunia 2014 di Brasil, langkah Italia juga tak mengesankan. Mirip dengan gelaran di Afrika Selatan, kali ini pun Italia tak sanggup berlaga di fase knock out karena menutup babak grup di peringkat ketiga.
"Saya tahu, hasilnya begitu buruk. Namun, saya tetap menganggap saya cukup beruntung. Sepak bola bukan hanya tentang talenta, tapi juga menyoal kerja keras. Kekuatan untuk bertahan dalam kondisi terburuk sekalipun."
"Apa yang saya pegang teguh tidak sia-sia. Saya menjadi satu dari sedikit pesepak bola yang berkesempatan berkompetisi di Piala Dunia di empat dua berbeda. Dua Piala Dunia di Eropa, satu di Asia, satu di Afrika, dan yang terakhir di Amerika."
Mimpi buruk seburuk-buruknya menjadi kenyataan pada 2018. Italia mesti mengubur dalam-dalam hasrat untuk lolos ke Piala Dunia 2018 setelah hanya bermain imbang 0-0 melawan Swedia pada leg kedua babak playoff Piala Dunia 2018, di San Siro.
Yang jadi masalah, Buffon dan kawan-kawan kalah 0-1 dalam laga leg pertama yang dihelat di kandang Swedia. Playoff pada kenyataannya tak hanya menjadi alfa bagi Piala Dunia Buffon, ia juga menjadi omega yang berarti akhir dari perjalanan.

"Saya pikir, ada yang salah dengan Italia. Saat pertama kali bergabung dengan Timnas, Italia memiliki (Roberto) Baggio, (Alessandro) Del Piero, (Francesco) Totti, (Filippo) Inzaghi, (Vincenzo) Montella, (Christian) Vieri, luar biasa bukan? Pemain-pemain berbakat. Dalam 10 tahun ke belakang, Italia memiliki tim yang hebat."
"Italia yang sekarang tidak bisa dibilang tim yang buruk juga. Hanya, tim ini kekurangan pemain berkelas. Tanpa keberadaan pemain berkelas, sulit untuk merebut kemenangan. Kelas yang saya maksud adalah kebanggaan dan rasa memiliki. Ini yang dimiliki Italia 10 tahun lalu."
Walau sebagian pihak menganggap ia masih pantas berdiri mengawal gawang Italia, kegagalan Azzurri berlaga di Piala Dunia 2018 memantapkannya untuk angkat kaki dari ingar-bingar Timnas. Bukan keputusan menyenangkan, setidaknya bagi sepak bola Italia.
Tapi apa boleh buat, pada akhirnya, setiap pertandingan akan berakhir dan setiap pesta harus berhenti. Buffon menutup cerita Piala Dunia dengan hasrat yang tak mungkin sampai.
