Kumparan Logo

Pratinjau Spurs vs Bayern: Intensitas vs Intensitas

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Spurs merayakan gol. Foto: REUTERS/David Klein
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Spurs merayakan gol. Foto: REUTERS/David Klein

Piala UEFA 1983/1984 jadi perjumpaan terakhir Tottenham Hotspur dan Bayern Muenchen di laga resmi. Kala itu Spurs berhasil unggul dengan agregat 2-1 dan melaju ke babak perempat final.

Singkat cerita, The Lilywhites sukses melangkah ke final dan mengalahkan Anderlecht via drama adu penalti. Gelar Piala UEFA berhasil mereka rengkuh, trofi pemungkas Spurs di kompetisi Eropa sampai sekarang.

Rabu (2/10/2019) dini hari WIB, Spurs akan kembali menjajal Bayern. Kali ini pada matchday kedua Liga Champions Grup B. Skor akhirnya mungkin saja bakal sangat berbeda dengan perjumpaan sebelumnya.

X post embed

Spurs tidak dalam kondisi sehat. Mereka tengah diadang masalah segudang. Inkonsistensi performa kemudian merembet ke masalah mental.

Rasio kemenangan mereka di seluruh kompetisi hanya menyentuh angka 33%. Cuma satu kemenangan yang sukses digamit Mauricio Pochettino dan kawan-kawan dalam empat laga termutakhir. Oh, ya, itu termasuk kekalahan memalukan di Piala Liga dari Colchester United, kontestan League Two atau level keempat dalam piramida sepak bola Inggris.

Jebloknya performa Spurs terkait erat dengan menurunnya intensitas pressing yang mereka terapkan. Khususnya, bagaimana minimnya tekanan di area sepertiga lawan.

Ini bukan cuma berdampak dengan lempengnya arus serangan lawan, tetapi juga mengebiri kans mereka di wilayah musuh.

Dalam empat laga awal Premier League musim 2019/20, Spurs cuma memenangi penguasaan bola di final third sebanyak 9 kali atau 2,25 per laga. Jauh lebih rendah dari torehan di musim lalu yang menyentuh 4,2.

Tottenham Hotspur tersingkir dari Piala Liga. Foto: REUTERS/David Klein

Ini gawat, mengingat Bayern adalah tim yang punya sistem open-play canggih. Di Bundesliga musim ini, sudah 10 gol yang mereka buat via skema open-play --hanya kalah dari Borussia Dortmund yang mengemas 4 gol lebih banyak.

Catatan di Liga Champions lebih mencolok lagi. Dari 3 gol Bayern ke gawang Crvena Zvezda, 2 di antaranya via skema permainan terbuka.

Oleh Niko Kovac, Niklas Suele difungsikan sebagai muara. Ia tercatat melepaskan 86,5 umpan per laga --terbanyak kedua di Bundesliga.

Ini cukup menggambarkan betapa Bayern mengandalkan lini belakang sebagai pondasi build-up serangan. Cukup logis, sih, mereka punya komposisi ideal untuk memainkan skema demikian.

Masih ada Joshua Kimmich serta Thiago Alcantara di pos gelandang bertahan. Lalu Philippe Coutinho yang mulai nyetel dengan permainan Bayern, sebagai kreator sekaligus algojo serangan. Hal itu dipertegas dengan raihan masing-masing sepasang gol dan assist dalam 2 laga terakhir.

Pemain Bayern Muenchen, Philippe Coutinho, beraksi di laga melawan Paderborn. Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay

Eh, perlu diingat juga kalau Coutinho pernah dua kali membobol gawang Spurs semasa membela Liverpool. Itu belum dihitung dengan sayap-sayap agresif Bayern macam Kingsley Coman dan Serge Gnabry.

Besar kemungkinan bagi Kovac untuk memaksimalkan peran keduanya, demi menyokong Robert Lewandowski sebagai ujung tombak. Apalagi, Spurs cenderung lemah dalam mengantisipasi penetrasi dari sektor tepi.

Sepasang gol Leicester City, misalnya, lahir dari kegagalan Jan Vertonghen dan rekan-rekan dalam meredam serangan lawan dari sektor kanan. Berikut gol pembuka Olympiacos yang merupakan buah kerja sama Daniel Podence dan Mathieu Valbuena di tepi kiri pertahanan Spurs.

Namun, bukan berarti Bayern tak punya celah. Pressing terbukti mampu mengganggu kemapanan Bayern. Laga termutakhir melawan Paderborn bisa menjadi acuan.

Klub promosi itu bermain terbuka alih-alih tampil defensif. Total empat kali Paderborn memenangi penguasaan bola di sepertiga area Bayern.

Hasilnya, sepasang gol berhasil mereka sarangkan ke gawang Bayern. Padahal, Die Roten rata-rata cuma kebobolan 0,7 gol pada laga sebelumnya di lintas ajang.

Bolehlah Pochettino mencontoh Hertha Berlin serta RasenBallsport Leipzig, dua tim yang sukses mengimbangi Bayern di Bundesliga. Benang merahnya, mereka sama-sama menerapkan pressing yang tinggi. Meski Hertha sedikit lebih defensif ketimbang Leipzig karena memakai garis pertahanan rendah.

Sistem demikian membuat para pemain Bayern kesulitan dalam menguasai bola dan membangun serangan. Buktinya, 23 kali mereka kehilangan penguasan bola saat bersua Hertha dan 29 kali dari Leipzig.

Bayern Muenchen vs RB Leipzig Foto: REUTERS/Fabrizio Bensc

Simpelnya, untuk mengebiri build-up serangan Bayern adalah dengan meningkatkan intensitas pressing --khususnya di area pertahanan mereka. Sebelum bola sampai ke Alcantara dan Coutinho, sebelum mengalir ke sayap-sayap Bayern dan Lewandowski.

Untuk mempertajam skema tersebut, Pochettino bisa memilih Erik Lamela sebagai alternatif dari lini kedua. Eks pemain Roma itu merupakan menjadi gelandang yang paling aktif dalam melakukan aksi bertahan --rata-rata 1,6 tekel per laga.

Lamela dan Kane merayakan gol. Foto: Reuters/Peter Powell

Soal penciptaan gol, Lamela juga tergolong rajin karena sudah mengemas 2 gol dan satu assist di Premier League, hanya kalah dari Harry Kane serta Son Heung-Min.