Kumparan Logo

Real Madrid Dinilai Bakal Kendalikan Bursa Transfer Saat Pandemi, Kenapa Bisa?

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemain Real Madrid merayakan gol ke gawang Granada. Foto: REUTERS/Javier Barbancho
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Real Madrid merayakan gol ke gawang Granada. Foto: REUTERS/Javier Barbancho

Fabio Capello tidak bercanda waktu berkata, Real Madrid adalah satu-satunya klub La Liga yang keuangannya tidak akan terganggu pandemi COVID-19.

Masa kepelatihan Capello di Madrid tidak panjang, hanya dua tahun. Itu pun tidak beruntun. Setelah menjabat pada 1996 sampai 1997, ia kembali 10 tahun kemudian. Capello berdiri lagi di depan bench pemain Madrid sejak 2006 sampai 2007.

Waktu yang singkat itu sudah cukup bagi Capello untuk mengenal seperti apa Madrid, setidaknya, sekokoh apa pilar finansial mereka. Pada 15 Oktober 2019, Madrid merilis laporan keuangan tahunan per tahun buku 30 Juni 2019.

Markas Real Madrid, Santiago Bernabeu. Foto: MOHAMED EL-SHAHED / AFP

Madrid memang tidak memenangi Deloitte Football Money League terkini. Mereka menjadi runner up karena mencatatkan pendapatan operasional sebesar 757, 3 juta euro.

Juara untuk musim 2018/19 adalah Barcelona. Pendapatan operasional senilai 990 juta euro adalah alasannya. Torehan ini cukup fantastis karena merupakan hasil dari peningkatan sebesar 76 juta euro dibandingkan musim lalu. Bandingkan dengan pemasukan Madrid yang kenaikannya sekitar 6 juta euro.

Ngomong-ngomong soal Deloitte Football Money League (DFML), kita akan melihat perbedaan soal pendapatan pada 2018/19. DFML menyebut bahwa Barcelona menyegel pendapatan sebesar 840,8 juta euro. Sementara, klub melaporkan pendapatan tahunan mereka di angka 990 juta euro tadi.

Perbedaan ini muncul karena, sepertinya, DFML tidak menghitung pendapatan transfer Barcelona. Namun, ya sudahlah. Dihitung atau tidak, pendapatan Blaugrana tetap yang tertinggi.

Tunggu dulu. Meski malaikat tahu siapa juaranya, barangkali makhluk yang satu itu tidak tahu di mana letak kekuatan finansial Madrid, terutama dalam pandemi seperti sekarang.

Zinedine Zidane, pelatih Real Madrid. Foto: Reuters/Susana Vera

Laporan keuangan musim 2018/19 menunjukkan bahwa laba setelah pajak Madrid ada di angka 38 juta euro, sementara Barcelona ada di kisaran 4,5 juta euro.

Begitu pula dengan biaya gaji para pemain. Jika Barcelona mencatatkan biaya sekitar 501 juta euro, Madrid 'hanya' ada di kisaran 362 juta euro. Lebih hemat, Nona dan Bung.

Tak sampai di situ. Dalam situasi seperti sekarang [dan situasi lainnya juga] ada baiknya kalau kita tak hanya melihat laba atau rugi.

Skenario terburuk, bagaimana kalau profit itu tinggi karena sebagian besar pendapatannya dari piutang? Memiliki piutang bukan dosa, kok. Namun, tetap harus hati-hati dengan risiko piutang tak tertagih.

embed from external kumparan

Berangkat dari situ, kita bisa melihat komponen net debt alias utang bersih Madrid. Pada 2018/19, Los Blancos mencatatkan net debt sebesar -27 juta euro.

Yep, minus. Negatif. Untuk tahun buku yang sama Barcelona mencatatkan net debt sebesar 217 juta euro.

Net debt adalah nilai buku dari utang kotor perusahaan dikurangi dengan aset kas dan setara kas di neraca. Komponen ini sering digunakan untuk menganalisis seperti apa kesehatan keuangan sebuah perusahaan.

Sederhananya, net debt merupakan indikator yang memberi tahu kita berapa banyak utang yang tersisa di neraca jika perusahaan membayar semua kewajiban utangnya dengan kas yang ada.

Para pemain Real Madrid merayakan gol ke gawang Real Zaragoza. Foto: Juan Medina/Reuters

Angka tersebut mengindikasikan Madrid sebagai perusahaan dengan likuiditas tinggi. Jumlah uang cash mereka lebih banyak daripada jumlah utang. Yang tetap harus diingat, net debt hanya satu dari sekian banyak komponen untuk menentukan sehat atau tidak sehatnya perusahaan.

Meski keuangannya dinilai tak akan runtuh saat pandemi, bukan berarti Madrid bertindak sembrono. Mereka juga memberlakukan pemotongan gaji pada level eksekutif dan tim untuk menyokong kewajiban klub membayar gaji karyawan non-lapangan dan non-eksekutif. Keputusan ini diambil karena sebelumnya Madrid menolak untuk menggunakan bantuan pemerintah.

Keunggulan-keunggulan finansial itu diprediksi dapat membuat Madrid bakal oke-oke saja, bahkan memegang kendali bursa transfer saat klub-klub lain babak belur dihajar pandemi. Jika nilai pasar para pemain betul-betul turun, bukan tak mungkin mereka memburu Erling Haaland, Eduardo Camavinga, dan Paul Pogba.

Selebrasi Achraf Hakimi di depan Yellow Wall. Foto: AFP/Ina Fassbender

Pandemi membuat klub-klub kehabisan uang. Situasi ini bisa dimanfaatkan Madrid untuk menentukan harga pasar para pemain bidikan mereka. Bukan hal mustahil jika guncangan finansial membuat sejumlah klub tak bisa jual mahal saat berhadapan dengan penawaran transfer.

Di sisi lain, melepas pemain-pemain yang tak masuk rencana Zinedine Zidane bisa membantu menjaga kestabilan finansial. Menjual James Rodriguez, Gareth Bale, Brahim Diaz, dan Mariano Diaz mungkin merupakan langkah logis yang dapat diambil.

Achraf Hakimi, Dani Ceballos, Sergio Reguilon yang kini dipinjamkan merupakan incaran sejumlah klub raksasa. Minat yang tinggi itu bisa saja, 'kan, digunakan sebagai bargaining chip?

====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk, bantu donasi atasi dampak corona!