Redupnya Benteng Viola

Bagi sebagian orang, sepak bola adalah agama, dan stadion dianggap sebagai tempat ibadah. Bahkan, fanatisme kepada tim kebanggaan tak jarang pula menyulut kericuhan. Ketika stadion tempat tim yang didukungnya tidak ada, yang tertinggal hanya rasa sesak. Gelora hilang, tinggal kenang-kenangan yang tersisa.
Publik sepak bola Tangerang merasakan hal itu. Saat Stadion Benteng markas Persita Tangerang dan Persikota Kota Tangerang tak lagi dipakai, kerinduan akan atmosfer mendukung tim kesayangan di rumah sendiri semakin menebal. Ya, stadion yang diresmikan pada 11 Januari 1989 tersebut, mulai tahun 2012 tak lagi bergemuruh.
Keributan yang kerap terjadi saat pertandingan digelar membuat lembaga yang dihuni para ulama itu jengah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang sempat melarang sepak bola digelar di kota berslogan Akhlakul Karimah tersebut.
Kepolisian menolak memberikan izin karena suporter kedua tim yang bermarkas di Stadion Benteng, yaitu Persita dan Persikota, selalu berkelahi dan kerap melibatkan warga sekitar stadion. Hal ini menjadi keresahan bagi para pengguna jalan yang melintas di sekitar tempat keributan tersebut.
Juni 2019, kondisi stadion tersebut tampak amat mengkhawatirkan. Meski kadang masih digunakan untuk pertandingan sepak bola oleh warga sekitar, lapangan tidak terurus. Rumput tumbuh subur. Ladang rumput itu sering dimanfaatkan warga untuk memberi makan hewan ternak peliharaannya.
Bangunan stadion makin rapuh, kumuh, dan mungkin sudah siap untuk dirobohkan. Pintu stadion berkarat, halamannya menjadi tempat parkir truk dan angkot. Bau pesing menyengat tercium dari sekitaran tembok. Kesan angker benar-benar tampak kala malam tiba.
Kepemilikan dan lokasi stadion juga menjadi kendala yang menyergap Stadion Benteng. Di satu sisi, stadion tersebut dimiliki oleh Kabupaten Tangerang, tapi di sisi lain lokasinya berada di Kota Tangerang. Hal ini membuat kedua pemerintahan tersebut gagap dalam mengambil sikap terhadap Stadion Benteng yang kian telantar.
