kumparan
13 November 2019 14:22

Rodrygo Belum Mau Disebut Cristiano Ronaldo Baru

Rodrygo Goes (P)
Rodrygo Goes, rising star Real Madrid. Foto: AFP/Gabriel Bouys
Rodrygo Goes datang dan bersinar, Vinicius Junior pun terlupakan. Bahkan, dengan apa yang ditorehkannya belakangan ini, Rodrygo sudah tak lagi dibicarakan dalam kalimat yang sama dengan Vinicius, melainkan dengan Cristiano Ronaldo.
ADVERTISEMENT
Vinicius dan Rodrygo datang dengan cara yang sama. Mereka sama-sama masih muda, berasal dari Brasil, berposisi sebagai penyerang sayap, memiliki gaya bermain serupa, dan rencananya akan disekolahkan dulu untuk sementara di Castilla—tim cadangan Real Madrid.
Bedanya, ya, Vinicius datang lebih dulu. Dia datang pada musim 2018/19, sementara Rodrygo tiba musim ini.
Vinicius datang ketika Real Madrid berada dalam masa turbulensi. Di musim pertamanya dia harus bermain di bawah tiga pelatih berbeda. Namun, hasilnya tidak buruk-buruk amat untuk ukuran pemula. Dia bermain dalam 22 pertandingan La Liga dan Liga Champions dengan catatan 2 gol dan 2 assist.
Vinicius Jr.
Vinicius Junior melewati adangan Sergio Busquets. Foto: AFP/Lluis Gene
Dari sana terlihat potensi besar Vinicius. Setidaknya, dia sudah mampu memberi kontribusi konkret untuk Real Madrid di laga-laga level tertinggi. Alhasil, Vinicius pun mulai lebih sering bermain di tim senior musim ini.
ADVERTISEMENT
Sebelas pertandingan sudah dilalui Vinicius sejauh ini di La Liga dan Liga Champions. Akan tetapi, sumbangannya untuk Real belum optimal. Baru satu gol dan satu assist yang ditorehkan pemain 19 tahun tersebut.
Di sisi lain, Rodrygo tidak buang-buang waktu. Pemain yang berusia setahun lebih muda dari Vinicius itu benar-benar langsung menggebrak. Dia memang baru dipercaya tampil 6 kali di Liga Champions dan La Liga, tetapi sudah berhasil mencatatkan 5 gol dan 1 assist.
Bahkan, gol pertama Rodrygo tercipta hanya 93 detik ketika dia pertama kali tampil sebagai pemain Real, yaitu pada laga melawan Osasuna. Selain itu, dia juga sudah bisa mencetak hat-trick di Liga Champions pada laga melawan Galatasaray.
Tak pelak, nama Rodrygo pun langsung harum. Dia dipandang sebagai pewaris takhta Cristiano Ronaldo yang sesungguhnya. Meski begitu, semua pujian itu ditanggapi Rodrygo dengan santai. Mengutip Indra Thohir, pujian adalah racun. Rodrygo pun tidak mau terjebak.
Rodrygo Goes (C)
Rodrygo Goes merayakan gol ke gawang Galatasaray. Foto: AFP/Pierre-Philippe Marcou
"Aku masih terlalu muda untuk bicara soal mengisi tempat yang ditinggalkan pemain seperti Cristiano Ronaldo, yang merupakan salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa klub ini, bahkan mungkin yang terbaik," ucap Rodrygo.
ADVERTISEMENT
"Aku tidak mau membebani diriku sendiri dengan tekanan menjadi pengganti Cristiano Ronaldo. Sebenarnya, aku punya mimpi bermain bersama dirinya, sehingga sangat disayangkan dia sudah pergi," tambahnya.
Rodrygo sendiri tidak menyangka bisa secepat ini memberi impak nyata bagi Real Madrid. Namun, sebetulnya ini bukan hal mengejutkan baginya. Sebab, dia banyak belajar dari sang ayah yang dulunya merupakan pesepak bola profesional juga.
"Aku berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya semua berjalan lancar tetapi aku tak menyangka segalanya terjadi begitu cepat. Jujur, aku sedikit terkejut. Belum lama ini bermain di Liga Champions, apalagi mencetak gol, hanyalah mimpi bagiku," ungkapnya.
"Mencetak hat-trick seperti yang kulakukan kemarin tidak disangka banyak orang. Aku pun tidak bisa menjelaskan perasaanku. Waktu itu, aku cuma menikmati bagaimana indahnya momen sekali seumur hidup itu."
ADVERTISEMENT
"Belajar sebagai pesepak bola tidak cuma dilakukan di tepat latihan. Ada perkara mental yang juga harus diasah. Bagaimana caranya kamu menghadapi ketenaran dan sebagainya. Soal itu, aku banyak terbantu karena ayahku adalah mantan pemain profesional."
"Aku melihat ayahku menjalani hal-hal yang sekarang kualami sendiri. Dari situ aku tahu bahwa aku tidak bisa membiarkan segala perhatian ini memengaruhiku. Aku harus tetap fokus," tambahnya.
Atas pencapaiannya ini, Rodrygo pun mendapat hadiah berupa pemanggilan ke Timnas Brasil. Dia dipersiapkan untuk laga persahabatan menghadapi Argentina (16/11/2019) dan Korea Selatan (19/11).
"Mimpiku akhirnya jadi kenyataan. Sejak kecil aku sudah bermimpi memperkuat tim nasional dan bermain dengan pemain-pemain terbaik dunia, pemain-pemain yang kariernya sudah kuikuti sejak lama. Berada di Timnas memberiku kebahagiaan," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan