Kumparan Logo

Santiago Solari: Bukti Kepahlawanan Juga Lahir dari Bangku Cadangan

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sesi latihan perdana Santiago Solari sebagai pelatih interim Real Madrid. (Foto: REUTERS/Susana Vera)
zoom-in-whitePerbesar
Sesi latihan perdana Santiago Solari sebagai pelatih interim Real Madrid. (Foto: REUTERS/Susana Vera)

‘Star Wars VIII: The Last Jedi’ dibuka dengan adegan kepemimpinan Kapten Poe Dameron dalam Evacuation of D'Qar yang diikuti dengan penyerangan Mandator IV-class Siege Dreadnought Fulminatrix milik First Order. Dalam adegan ini, akan ditemukan fragmen yang memperlihatkan Paige Tico, salah seorang tim pengebom yang tergabung dalam pasukan Poe, menghancurkan Dreadnought walau nyawa yang menjadi taruhannya.

Keberhasilannya mendatangkan elu-elu bagi Poe, meski berujung pada tamparan Leia dan penurunan pangkat. Tapi, tak ada lagi yang bercerita soal Paige--setidaknya di episode ini--selain saudara perempuannya, Rose Tico.

Di menit 45 final Liga Champions 2002 yang mempertemukan Real Madrid dengan Bayer Leverkusen, Zinedine Zidane melahirkan gol ajaib yang akan selalu dikenang. Tendangan voli yang tak bisa dibendung oleh penjaga gawang Hans-Joerg Butt tadi bermetamorfosis menjadi gol kemenangan yang mengantarkan Madrid pada raihan trofi Liga Champions kesembilan. Di Glasgow, tepat pada 15 Maret 2002, Zidane bahkan ditahbiskan sebagai pemain terbaik.

Di pertandingan itu, Santiago Solari adalah Paige yang sukses mengebom Dreadnought. Tanpa pengeboman itu, tak akan ada cerita soal keberhasilan The Resistance menghancurkan Dreadnought. Maka, tanpa operan kunci Solari kepada Roberto Carlos, yang dilanjutkan dengan assist Carlos, tak akan ada gol yang disebut Zidane dalam kelakarnya jauh lebih lebih baik ketimbang tendangan salto Cristiano Ronaldo ke gawang Juventus itu. Dan sialnya, tak ada lagi yang bicara soal operan kunci Solari yang sepintas, terlihat sebagai buah dari keberuntungan belaka.

Sulit untuk menemukan Solari di halaman depan kisah kejayaan Madrid. Pasalnya, namanya memang hanya ada di halaman-halaman belakang. Bila ditelusuri, Solari tercatat sebagai pemain Madrid pada 2000 hingga 2005, setelah tiga tahun membela rival sekota, Atletico Madrid.

Dalam skuat madrid asuhan Vincent De Bosque saat itu, Solari menjadi pengisi sektor sayap kiri. Setidaknya di partai puncak melawan Leverkusen itu, ia menjadi pelindung yang sempurna bagi Roberto Carlos. Kecepatan dan kemampuan dribelnya menjadi senjata untuk menekan lini belakang Leverkusen, memberikan ruang tembak yang sempurna bagi para penyerang timnya.

Pentingnya kehadiran Solari juga terlihat dalam laga leg kedua perempat final Liga Champions 2003 yang mempertemukan Madrid dengan Manchester United. Di pertandingan yang berakhir dengan kekalahan dan kelolosan Madrid ke semifinal itu, Ronaldo Nazario menjadi bintang lewat lesakan trigolnya.

Solari bahkan baru masuk pada menit 67 menggantikan sang bintang Brasil. Solari masuk tanpa elu-elu, wajar karena sorak-sorai para suporter ditujukan sepenuhnya kepada Ronaldo yang meninggalkan arena. Lantas yang dilakukan Solari di lapangan adalah melindungi Carlos, memastikan kawannya itu mendapatkan suplai bola yang cukup dari sisi sayap, dan membantu Madrid terlepas dari serangan balik cepat yang dibangun para pemain United.

Santiago Solari (kanan) dan Zinedine Zidane (kiri) ketika masih aktif memperkuat Real Madrid. (Foto: HO / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Santiago Solari (kanan) dan Zinedine Zidane (kiri) ketika masih aktif memperkuat Real Madrid. (Foto: HO / AFP)

“Semua pemain pantas untuk mendapatkan apresiasi, tapi Solari selalu menjadi sosok paling penting. Tujuan saya untuk memasukkannya dari bangku cadangan selalu sama: menjadikan Madrid menjadi tim yang lebih berambisi mencetak gol di suatu laga,” jelas De Bosque seusai pertandingan melawan FC Porto di fase grup Liga Champions 2001/02.

Singkat cerita, Madrid dan Porto sama-sama belum berhasil memecah kebuntuan hingga akhir menit 70-an. Demi menambah daya gedor, Solari dimasukkan pada menit 76. Hanya tujuh menit yang dibutuhkan oleh Solari untuk menyelamatkan timnya dari laga tanpa kemenangan. Tepat pada menit 83, gol tunggal Solari pada akhirnya mengantarkan Madrid pada kemenangan 1-0.

“Orang-orang seperti Solari lebih suka menghabiskan tujuh menit di atas lapangan dengan tampil menggila. Setelahnya, kemenangan semacam menjadi hal yang tak penting bagi mereka. Mereka akan pulang, minum bir, dan mempersetankan pesta kemenangan,” seperti itu cara Steve McManaman menggambarkan keberadaan Solari yang kerap menjadi super sub bagi Madrid.

Lima tahun membela Madrid, lima tahun pula Solari menyadari bahwa ia adalah pemain pengganti yang spesial. Namun, sespesial-spesialnya pemain pengganti, ia tetap pemain pengganti, bukan pilihan utama sang pelatih, hanya dikeluarkan saat tim sedang terdesak atau unggul kelewat jauh. Lucunya, Solari mengaku tak terganggu dengan statusnya yang demikian. Baginya, tempat utama atau bangku cadangan sama saja. Semacam pernyataan yang mengisyaratkan, buat apa menjadi yang utama kalau tak bisa menjadi pemain pembeda?

“Lini tengah dan depan Madrid saat itu sudah begitu komplet. Kalau mau jujur, kondisi seperti itulah yang paling menyulitkan pemain seperti saya. Kalian lihat saja, kami memiliki Raul (Gonzales), Zidane, (Luis) Figo, dan (Fernando) Morientes. Kalau tim kalian dipenuhi dengan pemain-pemain macam ini, tentu akan sulit untuk mencari celah supaya diperhitungkan sebagai pemain utama," ucap Solari.

"Maka, yang bisa saya lakukan hanya bersabar. Dan memang harus bersabar, bahkan saat sebenarnya saya yakin dalam laga-laga tertentu, saya bisa tampil lebih baik daripada pemain utama. Di situasi seperti itu yang paling penting adalah menyadari posisi Anda. Mungkin memang membutuhkan waktu lama, tapi hingga sekarang, saya tetap bisa menikmati momen seperti ini,” jelas Solari dalam wawancara pasca-laga melawan Porto itu.

Di Madrid era tersebut, Solari adalah glue-guy yang menyatukan permainan tim. Dan yang namanya perekat, sosoknya jelas tak terlihat karena ditutupi oleh kedua hal yang ia rekatkan. Maka, tak heran, kita akan kesulitan untuk menemukan tulisan-tulisan yang secara khusus membahas tentang peran Solari. Lewat perannya yang tak terlihat itu, Solari telah mempersembahkan dua trofi La Liga, dua trofi Supercopa de Espana, satu trofi Liga Champions, satu trofi Piala Super Eropa, dan satu trofi Piala Interkontinental untuk Madrid.

Usai lima musim membela Madrid, Solari malang-melintang. Setelah membela Inter Milan pada 2005 hingga 2008, tiga musim berikutnya dihabiskan Solari bersama tiga klub berbeda: San Lorenzo (Argentina), Atlante FC (Meksiko), dan Aletico Penarol (Uruguay). Setelahnya, Solari memutuskan untuk gantung sepatu dan memulai karier kepelatihannya bersama Real Madrid Juvenil (tim muda) pada 2013.

Santiago Solari memimpin Real Madrid Castilla. (Foto: Dok. AS)
zoom-in-whitePerbesar
Santiago Solari memimpin Real Madrid Castilla. (Foto: Dok. AS)

Tiga tahun menjadi pelatih Madrid Juvenil, Solari mempersembahkan dua gelar untuk timnya: juara liga (Division de Honor) 2013/14 dan juara Copa de Campeone 2013/14. Lantas, terhitung sejak musim 2016/17, Solari mengambil alih peran Zidane di kursi kepelatihan Madrid Castilla. Di musim 2017/18 ini, Castilla binaan Solari berada dalam performa yang cukup baik. Mereka hanya tertinggal tiga poin dari Ponferradina, yang kini menjadi pemuncak klasemen sementara Segunda Division B Grup 1, karena telah menang lima kali dan imbang empat kali.

Keputusan Madrid untuk menunjuk Solari sebagai pelatih interim mengingatkan pada seperti apa perannya saat masih membela Los Blancos. Ia kerap masuk di saat-saat genting, punya tugas untuk membereskan kekacauan yang disebabkan oleh permainan tim yang stagnan. Di laga-laga selanjutnya, namanya akan kembali duduk di bangku cadangan, dan baru masuk bila tim menghadapi situasi serupa.

Mengacu rilis resmi Madrid, Solari memang cuma didaulat selaku pelatih sementara. Tugas terdekatnya yakni mendampingi Sergio Ramos dan kolega untuk laga Copa del Rey melawan Melilla, Kamis (1/11) dini hari WIB. Selama Solari menjalankan tugasnya di tim utama, manajemen bakal mencari sosok pelatih tetap. Selepas laga melawan Melilla, dia cuma bisa mengawal Los Blancos untuk tiga pertandingan lainnya, yakni melawan Real Valladolid pada 3 November, Viktoria Plzen pada 8 November, dan Celta Vigo pada 12 November.

Dalam kurun waktu dua minggu itu, Solari diserahi tugas untuk mengurus segala 'kekacauan' yang muncul dalam periode singkat kepelatihan Julen Lopetegui. Tak ada yang menjamin apakan Solari bisa menuntaskan tugas ini atau tidak. Sebabnya, yang dibutuhkan Madrid saat ini bukan hanya hitung-hitungan taktik, tapi juga kemampuan untuk mendongkrak mental pemain yang dihajar lima kekalahan dalam tujuh laga terakhir. Bahkan, satu di antaranya berupa kekalahan telak 1-5 dari rival abadi, Barcelona.

Namun, rekam jejak sebagai game-changer sewaktu masih membela Madrid bukannya tak mungkin berlanjut di karier kepelatihannya. Dan bila tugas ini dapat dituntaskannya, bukannya tak mungkin pula kita akan melihat adegan yang sama: Solari memimpin tim, meraih kemenangan, dan kembali ke bangku cadangan (Castilla).

====

*Catatan Editor: Sebelumnya tertulis Solari memberikan assist kepada Zidane di final Liga Champions 2002. Yang betul: Solari memberikan umpan kunci. Demikian kesalahan tersebut telah diperbaiki.