Kumparan Logo

Sebelum Terhempas, Persik Kediri Pernah Menjejak 'Langit'

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Skuat Persik Kediri di Liga 2 2019. Foto: Instagram / @persikfcofficial
zoom-in-whitePerbesar
Skuat Persik Kediri di Liga 2 2019. Foto: Instagram / @persikfcofficial

Terdegradasi ke kasta kedua pada akhir 2009/10 dan turun ke Liga 3 pada pengujung 2017, membuat tim ini dikenal sebagai tim semenjana.

Tapi, jauh sebelumnya, saat pertama kali promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia pada 2003 (Liga Bank Mandiri), mereka menjelma sebagai kekuatan menakutkan di ranah sepak bola Indonesia.

Perkenalkan, Persik Kediri.

Khusnul Yuli, mantan pemain Persik Kediri. Foto: WeAremania

Modal besar dan tekad kuat manajemen--terutama sang manajer, Iwan Budianto--untuk membuat Persik tak sekadar tim hore di kasta tertinggi menjadi penyebab.

Kala itu, mereka mencoba mendatangkan sejumlah pemain berkualitas. Para pemain tersebut disokong oleh penggawa berpengalaman, seperti Frank Bob Manuel, Khusnul Yuli, Ebi Sukore, Wahyudi, hingga Musikan.

Jaya Hartono, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten pelatih, diangkat sebagai pelatih kepala.

Dengan skuat yang demikian, Persik masih dipandang sebelah mata. Warna jersi mereka juga sempat diolok-olok. Terlebih, performa mereka pada awal-awal liga terbilang mengenaskan.

Empat pertandingan tanpa satu kemenangan pun. Tak heran jika publik memprediksi Persik bakal segera kandas, tak berbeda jauh dengan kebanyakan tim promosi.

Namun, laga kelima melawan PKT Bontang ibarat tapal batas. Persik merengkuh kemenangan telak 4-0. Johan Prasetyo, sang wonderkid, menjadi salah satu pencetak gol mereka.

Kabar baik bagi suporter Macan Putih belum berakhir. Perayaan kemenangan berlanjut berkat rentetan hasil positif yang diraih Musikan dan kolega. Klimaksnya, Persik naik podium juara.

instagram embed

Kepastian itu didapat usai menaklukkan Persib Bandung di Stadion Brawijaya, Kediri. Kemenangan ini membuat Persik unggul lima angka atas PSM Makassar yang finis sebagai runner up.

Juara belum cukup. Para pemain Persik juga meraih sejumlah penghargaan individu pada musim 2003. Mulai dari Musikan yang didaulat sebagai pemain terbaik hingga Jaya Hartono sebagai pelatih terbaik.

Catatan individu ini bahkan bisa saja semakin lengkap andai Frank Bob Manuel menjadi topskorer. Sayangnya, torehan golnya kala itu kurang dua angka saja dari Oscar Aravena, penyerang PSM, yang mengunci gelar tersebut.

Gelar juara liga membuat Persik berhak tampil di Liga Champions Asia 2004. Namun, Macan Putih seperti kehilangan taring. Mereka bahkan dihajar 0-15 dari wakil Korea Selatan, Seongnam Chunwa.

Cristian Gonzales saat berseragam Persik Kediri. Foto: Antara

Tak sampai di situ. Performa Persik di liga juga angin-anginan. Kendati sudah mendatangkan nama-nama baru seperti Hamka Hamzah hingga Berta Yuana, Persik hanya mampu finis di urutan sembilan.

Yang perlu digarisbawahi, Persik belum selesai. Mereka bangkit lagi pada 2005 dan mencuri perhatian pada 2006. Bersama para pemain macam Cristian Gonzales, Danilo Fernando, hingga Budi Sudarsono, Persik melakoni musim keemasan.

Apalagi mereka juga berhasil mengunci gelar juara usai mengalahkan PSIS Semarang via gol tunggal Gonzales pada babak perpanjangan waktu. Kembali meraih juara, Persik kembali berhak tampil di Liga Champions Asia 2007. Bedanya, persiapan mereka kali ini lebih matang.

Gabungan nama lama dan baru seperti Ronald Fagundez, Persik tampil mengesankan. Selain tak pernah kalah di kandang, Persik berhasil mengalahkan Shanghai SIPG 1-0 dan Sydney FC dengan skor 2-1, serta bermain imbang 3-3 dengan Urawa Red Diamonds. Tim yang disebut terakhir menutup kompetisi dengan gelar juara.

instagram embed

Sayangnya, kiprah Budi Sudarsono dan kawan-kawan cuma sampai di sana. Mereka tak mampu lolos ke babak perdelapan final lantaran hanya finis di peringkat ketiga babak grup.

Meski begitu, pencapaian ini cukup untuk menegaskan bahwa Persik bisa bersaing dengan tim mana pun.

Namun, cerita tinggal cerita. Pada masa-masa berikutnya, secara perlahan Persik terpuruk. Kekalahan Iwan Budianto pada pemilihan Walikota Kediri 2009-2014 serta tak diperbolehkannya penggunaan dana APBD dianggap sebagai penyebab utama.

Maka, Persik mengalami sejumlah masalah hingga terpaksa terdegradasi dari Liga Super Indonesia pada 2009. Mereka pun mesti berlaga di kompetisi kasta kedua.

Persik sebenarnya bisa kembali bertanding di divisi tertinggi pada 2015. Sayangnya, mereka didiskualifikasi karena dinilai tak siap dari segi finansial. Apa boleh bikin, mereka mesti berlaga lagi di kasta kedua.

Sejak saat itu, Persik belum pernah kembali menembus level teratas. Kondisi mereka bahkan makin tampak nahas setelah pada 2017 terdegradasi ke Liga 3 dan baru kembali ke Liga 2 pada musim berikutnya.